Ketika “Shaum” Menjadi “Puasa”

Bagikan:

Jurnal Suficademic | Artikel No. 12 | Februari 2026

Bismillahirrahmanirrahim.

Pendahuluan

HAMPIR seluruh nama ibadah dalam Islam menggunakan istilah Arab. Misalnya syahadat, shalat, zakat, haji. Semuanya bahasa Arab. Kecuali “shaum”. Selain juga “shalat” yang juga sering berganti kata dengan “sembahyang” (menyembah Sang Hyang, Sansekerta: Tuhan).

Tapi, khusus ibadah menahan lapar dan dahaga di bulan Ramadan, kita di Nusantara tidak menggunakan kata “shaum”. Sebagai gantinya, dipakai istilah “puasa”. Kita yakin, terminologi ini pasti diperkenalkan oleh para mubaligh awal saat menyebarkan Islam.

Pertanyaannya, kenapa yang dipopulerkan justru istilah “puasa”, bukan “shaum”?

“Upawasa”

“Puasa” berasal dari bahasa Sansekerta: “upavasa” atau “upawasa”. “Upa” artinya “dekat” atau “mendekatkan” diri. Sedangkan “vasa” berarti “Kuasa” atau “Yang Maha Kuasa” (Tuhan). Kata ini terserap dalam bahasa Jawa menjadi “pasa”. Atau “puasa” dalam bahasa Melayu.

Diperkenalkannya istilah “puasa”, disatu sisi menandakan adanya asimilasi Islam dengan tradisi-tradisi sebelumnya di Nusantara, khususnya Hindu-Budha. Disisi lain, ini pertanda bahwa ibadah puasa bukan milik satu kelompok saja. Semua umat yang punya tradisi spiritual akan mempraktikkan hal yang sama. Mungkin dengan ritual yang sedikit tidaknya pasti berbeda.

Namun di atas itu semua, sebuah ibadah yang dalam bahasa Sansekerta disebut “upawasa”, itu bertujuan membawa pelakunya untuk “dekat” dengan Tuhan. Kalau tidak menjadi dekat dengan Tuhan, maka tujuan dari ibadah “upawasa” tidak tercapai. Memang itu hakikat dari “puasa”. Ini selaras dengan salah satu ayat tentang Ramadan:

وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌۗ ..

“Apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat.. (Al-Baqarah: 186).

Karena itulah, para da’i dan leluhur kita menggunakan istilah Sansekerta, yang notabenenya adalah bahasa populer hinduisme. Karena kata “upawasa” (puasa) memang sangat merepresentasikan makna hakiki dari ibadah “shaum” dalam Islam. Yaitu membawa pelakunya dekat dengan Tuhan. Ada makna yang bernilai transformatif esoteris ketika menggunakan kata “puasa”. Bukan sekedar permainan kosa kata yang bersifat literal.

Dari “Shaum” ke “Upawasa”

“Shaum” itu sendiri artinya “menahan diri”. Praktik yang umumnya berdimensi fisikal (menahan diri dari makan dan minum) ini ada kurikulumnya. Dilakukan lewat proses “shiyam” selama periode waktu tertentu. Dari terbit fajar hingga terbenam matahari.

Namun, secara lebih khusus, proses “menahan diri” (shaum) diterapkan juga dalam berbagai dimensi batiniah. Bahkan sampai menahan bicara, pikiran, imajinasi, gerakan, dan sebagainya. Ini biasanya dipraktikkan oleh kelompok-kelompok sufi selama periode tertentu.

Maryam misalnya, mengamalkan proses “menahan diri” (shauman) dari bicara (Maryam: 26). Zakaria as juga begitu, tidak bicara tiga hari tiga malam (Aali Imran: 41, Maryam: 10). Nabi SAW pun bahkan menahan diri untuk tidak muncul ke publik, dengan cara berkhalwat atau uzlah, baik di gua atau di kamar rumahnya. Ini rutin Beliau lakukan ketika usia muda ataupun disaat sudah menetap di Madinah.

Tujuan akhir dari proses “menahan diri” (shaum) ini sebagaimana disebut dalam Al-Baqarah 185, adalah untuk memperoleh kekuatan atau gelombang “taqwa”:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Al-Baqarah: 183).

Taqwa artinya “rasa” kehadiran Tuhan (omnipresent). Kalau sudah mencapai derajat ini, berarti sudah kembali “menyatu” dengan Tuhan. Sebab, “rasa” hadir ketika esensi sesuatu telah menyatu dengan diri kita. Rasa pedas, manis, dingin, panas, dan lainnya; itu baru bisa dirasa ketika wujudnya telah “masuk” dalam diri kita. Karenanya, “taqwa” itu lebih ke pengalaman makrifat.

Jadi, “shaum” itu sebuah praktik ibadah dalam bentuk “menahan” (diri). Secara syariat biasanya dalam bentuk menahan diri dari makan dan minum. Secara tarikat termasuk “menahan” diri dari berbagai motif mental, intelektual, dan emosional yang sifatnya sangat laten dan halus.

Ada dua bentuk “self” atau consciousness dalam diri manusia. Yang pertama “diri”. Ini wujud dari kesadaran egoistik manusia. Yang kedua “Diri”, atau gelombang kesadaran ketuhanan. Kalau manusia hidup dengan kemauan-kemauan yang berasal dari “diri”-rendahnya, maka kesadaran dari “Diri” ketuhannya tidak akan eksis. Diri Ketuhanan akan aktual kalau kemauan-kemauan yang berasal dari “diri” rendah bisa ditahan, dijinakkan, atau dikendalikan.

Itulah “shaum”, yang artinya “menahan” diri. Tapi hakikat tujuannya untuk “taqwa”. Yaitu, membawa “diri” rendah kita agar mendekat kepada “Diri” Yang Maha Kuasa (Tuhan). Maka, satu kata yang paling merepresentasikan tujuan ini adalah “upawasa” (puasa). Sehingga sah istilah Sansekerta menjadi nama ibadah untuk “shaum” bagi kita di Nusantara. Sebab, hakikatnya memang bukan untuk “menahan” lapar dan dahaga. Melainkan untuk memperoleh “taqwa”.

Apa itu “Taqwa”?

“Taqwa” itu sebuah bentuk kekeramatan yang bisa diperoleh oleh seorang mukmin lewat puasa dan berbagai ritual yang menyertainya. Taqwa itu sebuah “mistical power” yang memungkinkan seorang mukmin punya keberanian moral luar biasa. Lewat kekuatan ini ia menjadi terjaga. Menjadi mulia, hilang rasa takut dan sedih ketika berhadapan dengan dunia. Sebab, vibrasi Tuhan selalu hadir dalam dirinya. Karenanya mustahil ia koruptif. Tidak mungkin ia tunduk pada kemauan iblis.

Bayangkan. Seorang dukun bisa “sakti”, hanya gara-gara berpuasa. Elit global, politisi, artis, dan sejumlah penguasa; juga bisa berpower sedemikian rupa karena ritual-ritual iluminatif seperti puasa serta penumbalan perempuan, bayi, dan aksi pedofil lainnya. Anehnya, seperti kata Nabi SAW, di akhir Ramadan, kita umat Islam justru tidak dapat apa-apa dari ritual ibadah sebulan penuh ini. “Selain haus dan lapar saja”. Kita kalah sakti dengan Trump dan Netanyahu. Pemimpin-pemimpin kita bahkan terkooptasi ke dalam jaringan pedofil “Board of Peace” penyembah setan ini. Ini hanya sebuah indikasi, bahwa ibadah kita selama ini hanya formalitas belaka. Berpuasa, tapi tidak melahirkan manusia yang “bertaqwa”: sakti, berani, dan mulia. Berpuasa, tapi justru menjadi pengikut setan. Bahkan mejadi setan.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kajian Lainnya

SAID MUNIRUDDIN adalah seorang akademisi, penulis, pembicara dan trainer topik leadership, spiritual dan pengembangan diri.