Jurnal Suficademic | Artikel No. 17 | Maret 2026
BE A MAN!
Oleh Said Muniruddin
Bismillahirrahmanirrahim.
PERANG yang sedang dijalani Iran tidak selalu tentang kehancuran. Bagi dunia, ini sebuah pelajaran. Iran mengajari sebuah hal yang selama ini kita gagal belajar: “how to be a man”.
***
Ada 4 pelajaran penting dari Iran.
Pertama, 47 tahun di embargo: Iran semakin jago
Akses terhadap dolar dicabut. Penggunaan Swift sebagai sistem pembayaran internasional diputus. Transaksi ekonomi dengan dunia luar dilarang. Aset keuangan di luar negeri dibekukan. Program nuklirnya dibatasi. Semua sektor publiknya disanksi. Para pejabatnya dilarang ke luar negeri.
Apa yang terjadi?
Iran tidak mengeluh. Tidak berisik. Tidak berkoar-koar minta tolong. Tidak mengemis. Apalagi menyerah.
Dalam diam mereka membangun kemandirian. Otak anak-anak terus dihidupkan. Lewat sains dan teknologi masa depan. Apa yang tidak bisa didapat dari luar, produksi dalam negeri ditingkatkan. Ketika sistem pembayaran terganggu, pola barter dihidupkan. Disaat dihalangi untuk terkoneksi dengan jaringan keuangan global, ia membangun kelompok BRICS-nya sendiri.
Kedua, 47 tahun di isolasi: Iran semakin dicintai
Pengaruh revolusi Islamnya coba dihentikan. Imej mazhabnya dihitamkan. Sekolah da’i penyebar fitnah diperbanyak. Lalu disebar ke seluruh dunia Islam. Syiah disesatkan habis-habisan. Dianggap anti Ahlussunah dan bukan Islam. Citranya majusinya ditonjolkan. Para Ayatullah-nya dilabeli sebagai kumpulan pelaku muth’ah dan penumpuk kekayaan. Diserang sebagai penindas perempuan. Sebagai pembunuh masal. Syiah tandingan diciptakan, untuk menyerang simbol-simbol Sunnah. Film-film Hollywood menggambarkan Iran sebagai brutal, miskin, dan tertinggal.
Apa yang terjadi?
Iran tidak panik. Iran santai saja. Imam Ali Khamenei begitu tenang. Wajahnya penuh senyum dan cahaya. Mulutnya tidak pernah berbuih. Matanya juga tidak pernah melotot. Mimbar-mimbar agama tidak dia gunakan untuk memfatwakan sesat muslim yang berbeda mazhab dengan bangsanya.
Para ayatullah terus mengkampanyekan persatuan Islam. Isu Sunni-Syiah disebut hanya alat zionis untuk memecah belah umat. Disaat semua negara Sunni cuek atas penindasan Israel terhadap negara Ahlussunah Palestina, justru Syiah Iran yang jadi penyokong utama. Hanya Iran dengan Syiahnya yang lantang meneriakkan kematian untuk zionisme. Disaat yang sama, raja-raja Sunni Arab dan para ulamanya justru tunduk pada agenda Netanyahu dan gengnya.
Disaat Qurannya disebut beda, MTQ internasional di Iran justru termasuk yang terbaik, dan Indonesia beberapa kali menjadi juara. Ketika diisukan menindas perempuan, data statistik justru menunjukkan perempuan Iran lebih “melek” dari perempuan Amerika. Jumlah saintis perempuannya terbanyak di dunia. Sekarang, sejumlah ulama dan mufti Suni justru menilai, hanya Syiah yang terdepan dalam membela warwah dunia Islam. Iran dengan Syiahnya adalah benteng terakhir umat Islam. Selebihnya hanya mampu berkoar di atas mimbar.
Ketiga, 47 tahun dilibas: Iran selalu hadir sebagai pembela bangsa tertindas
Di hari pertama kemenangan revolusi Islam Iran tahun 1979, mereka menyebut, langkah selanjutnya membebaskan Alquds. Bekas kedutaan Israel di Teheran langsung dijadikan kantor kedutaan Palestina pertama di Iran. Di tengah tekanan embargo, justru Iran yang rutin menganggarkan APBN-nya bagi perjuangan Palestina. Ketika pemimpin negara-negara Arab sibuk berorasi mendukung Palestina, hanya Iran yang mentransfer senjata dan teknologi kepada Hamas. Tidak heran, para pemimpin Hamas tegas mengakui, hanya Iran yang konsern dengan kemerdekaan Palestina, dengan menolak total eksistensi zionis.
Iran juga hadir di Bosnia Herzegovina, ketika 8 ribu pria dan anak laki-laki muslim mayoritas Sunni disana dibantai masal oleh Ratko Mladic dari Serbia (1992-1995). Perempuannya diperkosa. Disaat Bosnia dan Herzegovina hampir runtuh oleh genosida Srebrenica, Iran datang secara langsung. Mereka memberi senjata serta pelatihan. Kehadiran Iran bukan sekedar ucapan simpati dan simbolik. Tapi nyata. Dukungan ini diakui secara penuh oleh Alija Izetbegobic, presiden Bosnia pada masa krisis.
Iran juga hadir di Suriah dan Irak ketika kedua negara itu diobrak abrik oleh ISIS buatan Israel dan Amerika (2014-2019). Gerakan ekstrimis ini tidak hanya memusuhi Syiah. Tapi juga memutilasi muslim Sunni dan Kristen. Iran, lewat komandan fenomenalnya -Jenderal Qasim Soleimani, hadir langsung untuk menumpas ISIS yang sudah masuk jauh ke kedalaman Irak (2017). Iran juga menggebuk ISIS di seputaran Damaskus, sehingga geng teroris ini menarik diri sebagai sel-sel tidur ke perbatasan Turki (2019). Terakhir diaktifkan lagi oleh Turki, Amerika, dan Israel untuk menjatuhkan Bashar Assad (2024).
Iran juga hadir membela Armenia yang mayoritasnya beragama Kristen. Negara ini dianiaya oleh Azerbeijan yang justru mayoritasnya bermazhab Syiah. Konflik Nagorno-Karabakh ini berlangsung selama tahun 1990an dan 2020. Bagi Iran, ini bukan tentang mazhab atau agama. Ini tentang pembelaan terhadap kaum yang teraniaya, apapun mazhab dan agamanya.
Keempat, 47 tahun berjuang sendirian: Iran hanya bersandar kepada Tuhan
Seruan demi seruan untuk bersatu tidak didengarkan. Dunia Arab justru menjadi sekutu Israel. Iran sendirian. Sejumlah jenderalnya dibidik. Iran masih bersabar. Hanya membela diri seperlunya. Qasem Soleimani misalnya, syahid di roket saat kunjungan resmi ke Irak. Secara terbatas Iran membalas, ke Pangkalan Ainul Assad. Ratusan prajurit geger otak dan tewas.
Tiba-tiba, secara terbuka Iran diserang. Selama 12 hari terjadi pertempuran (13-24 Juni 2025). Terakhir, rudal-rudal Iran menghujani pusat-pusat militer Israel. Rudal Iran juga menghantam markas CENTCOM di Al-Udeid Qatar. Amerika minta gencatan senjata. Iran setuju saja. Ia sudah membalas seperlunya.
Tiba-tiba, ditengah proses diplomasi nuklir, Iran diserang lagi (28 Februari 2026). Supreme leadernya, Sayyid Ali Khamenei syahid. Bagi Iran, ini sudah melewati garis merah. Sejak itu, Iran sepertinya tidak mau berhenti lagi mengirim drone dan rudal ke semua pangkalan Amerika. Tel Aviv dan kota-kota lainnya juga luluh lantak. Video kerusakan dan kematian disensor habis.
Amerika dan Eropa juga di cekik Iran di selat Hormuz. Ekonomi dunia terancam. Harga minyak mulai bergerak ke angka $200. Donald Trump sesekali minta ampun. Sayangnya, pintu keampunan sudah ditutup. Iran tidak mau berhenti, sampai Amerika angkat kaki dari kawasan. Sampai Israel lenyap dari muka bumi.
Di tengah perang ini, dunia kecewa berat dengan Iran. Sebab, Iran tidak mau minta bantuan. Iran tidak mau minta bantuan Rusia. Juga tidak mau meminta bantuan Cina. Juga tidak dari Korea Utara. Padahal tawaran datang berulang kali.
Teknologi Cina dan Rusia memang ikut diuji coba oleh Iran. Tapi tidak ada keterlibatan langsung mereka bersama Iran. Sebab, Iran bukan jenis bangsa yang mau “merepotkan” orang lain. Iran itu bangsa yang percaya diri. Bangsa yang merasa masalahnya bisa diselesaikan sendiri. Iran bukan Amerika ataupun Israel, preman yang baru lahir kemarin sore. Yang butuh dukungan PBB, NATO, sekutu Arab, dan suku-suku lokal yang bisa dibeli untuk terlibat berperang bersamanya.
Kalaupun Pemerintah Indonesia tiba-tiba menawarkan bantuan jihad untuk membantu Iran, mungkin pemerintah Iran akan menjawab: “Terima kasih atas niat baiknya, semoga Allah membalasnya. Sebaiknya, Anda fokus saja dulu dengan MBG. Biar Israel itu menjadi urusan kami”. Tapi mustahil Indonesia membantu Iran. Sebab, Presiden kita sudah jadi tukang pegang map Donald Trump di BoP. Kecuali ada yang menyadarkan beliau lagi.
Bukannya orang Iran tidak takut mati. Jenderalnya banyak yang mati. Tapi bagi Iran, masalahnya simpel. Kalau mati, tinggal tanam. Paling-paling dirayakan sedikit buat mengenang jasa-jasanya. Setelah itu tinggal dilanjutkan oleh para pengganti. Jadi mereka tidak seperti tikus, yang ketika ada rudal harus lari ke bawah tanah untuk bersembunyi. Tidak seperti ‘bangsa pilihan Tuhan’, yang ketika rudal Iran datang harus menyeberang ke Siprus atau lari ke negara-negara Eropa lainnya karena takut ketemu Tuhan.
Doktrin kesyahidan yang berakar ke tradisi “kesendirian” Husain di Karbala telah membuat masyarakat Iran dengan Syiahnya tidak takut mati. Ideologi inilah yang membuat mereka terus hidup. Di satu sisi, mereka itu bangsa Persia dengan identitas peradaban yang sangat tua. Ras Aria. Percaya dirinya luar biasa. Kecerdasannya tinggi. Lalu nilai-nilai Islam telah membuat mereka berani hidup, sekaligus tidak takut mati.
Ideologi ini juga menyebar dan memberi inspirasi bagi kelompok-kelompok perlawanan di kawasan: Hamas di Palestina, Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, dan Hashad Syakbi di Irak. Ideologi ini tidak ada sama pemimpin-pemimpin Arab. Mereka memilih menjadi ‘perempuan’. Mereka ingin hidup abadi, walau harus menjadi budak zionis.
Kesimpulan
Perang Iran vs. geng Israel tidak melulu tentang cerita kehancuran, atau dampak ekonomi dalam beberapa waktu mendatang. Perang ini juga tentang ketauladanan, bagaimana Iran menyampaikan sebuah pesan global: “Be a man!”. Iran berkata kepada dunia, “Belum bertauhid kalian, kalau masih percaya bahwa Amerika itu negara adidaya!”.
Iran mengajari kita tentang visi, kemandirian, kecerdasan, daya tahan, kemampuan untuk diam, kemanusiaan, keberanian, kujujuran, kesabaran, keyakinan, dan kewajiban mati dalam kesyahidan. Tanpa ini, kita belum berislam!
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****
