Jurnal Suficademic | Artikel No. 16 | Maret 2026
AKHIR RAMADAN: ADA YANG TAKWA, ADA YANG PIKUN
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic
Bismillahirrahmanirrahim.
Di akhir Ramadan, biasanya lahir dua golongan manusia. Pertama, golongan orang-orang yang bertakwa. Kedua, golongan manusia-manusia pikun.
Uniknya, kedua golongan manusia ini lahir dari proses yang sama: ‘qiyamullail’. Qiyamullail adalah aktifitas “menghidupkan” malam-malam Ramadan. Namun, metode qiyamullail mereka beda-beda.
***
Tujuan ibadah puasa pada bulan ramadan itu satu: menjadi “orang bertakwa”. La’allakum tattaqun (QS. Al-Baqarah: 183). Dan tidak mungkin menjadi “muttaqin” tanpa bergadang, tanpa menghidupkan malam-malam Ramadan.
Dalam realitasnya, kita temukan ada dua cara bergadang pada malam Ramadan. Nanti akan kita lihat, keduanya memiliki efek berbeda.
Pertama; ada orang-orang yang menghidupkan malam-malam Ramadan dengan membaca Quran, sholat malam, ataupun berzikir secara intensif dalam bentuk iktikaf, suluk, atau khalwat. Para penganut “mazhab spiritual”, yang suka beruzlah, memilih cara beribadah seperti ini.
Kedua; ada juga penganut mazhab “sosial”. Mereka menghidupkan malam-malam Ramadan dengan cara mejeng di warung dan cafee-cafee. Sambil ngopi, ngobrol, gosip, diskusi, dan tertawa. Sampai subuh. Tidak bisa disalahkan juga. Sebab mereka membingkai ibadah ini dalam nama “silaturahmi”.
Lalu apa yang terjadi?
Dari mazhab pertama biasanya lahir manusia-manusia bertakwa. Sedangkan dari mazhab kedua, muncul generasi pikun.
Kenapa?
Kita bahas dari mazhab kedua terlebih dahulu.
Pikun itu terjadi akibat “kurang tidur”. Sekaligus “banyak tidur”. Kalau Anda sering bergadang, itu mudah sekali pikun. Bayangkan, Anda duduk di warkop sampai subuh. Setiap malam. Lalu setelah subuh, Anda tidur sampai siang. Kalau keseringan, tidak lama itu, pasti pikun.
Seringkali short term memori menjadi terganggu. Lupa dimana meletakkan barang. Lupa apa yang mau diucapkan. Lupa apa yang mau dikerjakan. Lupa nama teman.
Lalu, bukankah pengikut mazhab pertama juga ikut bergadang malam-malam selama Ramadan? Apakah mereka juga ikut pikun?
Biasanya tidak. Sebab, metode bergadangnya beda.
Kelompok-kelompok sufi, atau para nabi, mereka juga kurang tidur. Atau suka “mengurangi tidur”. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Semakin sehat. Semakin cerdas. Memorinya semakin kuat. Tidak mudah pikun.
Kenapa?
Sebab, dalam keterjagaan pada malam-malam Ramadan, mereka mengaktivasi sebuah kesadaran lain. Lewat solat dan zikir misalnya, mereka belajar masuk ke alam subconscious (bawah sadar). Bahkan sampai ke dimensi supra-conscious (alam atas sadar).
Mereka belajar terjaga, sambil ngopi juga. Para sufi suka ngopi. Tujuannya biar bisa melek untuk terus menyebut Nama Tuhan. Mereka bergadang untuk mendekat kepada Tuhan. Yang dekat itu alam intelek dan kesadaran ruhaniahnya.
Terkadang; lewat durasi, frekuensi dan intensitas zikir tersebut, kesadarannya bisa sampai pada satu titik yang membuat mereka tenggelam dalam kesadaran Ilahi. Ketika Tuhan hadir dalam kesadaran, maka Tuhanlah yang kemudian bekerja dalam dirinya.
Artinya, ketika seseorang bermujahadah untuk terus “memanggil” Dia dalam malam-malam panjang, pada celah waktu tertentu, Dia hadir. Malaikat dan ruh “tanazzul”. Dia masuk atau turun dalam gelombang kesadaran kita. Maka kemudian, kekuatan Dia lah yang bekerja dalam diri kita.
Pada kondisi seperti itu, ketika kita mengingat, sebenarnya Dialah yang mengingat. Memori kita menjadi memori-Nya. Pada keadaan semacam itu, kita sebenarnya sudah menjadi makhluk yang “cerdas” secara ruhani. Gelombang ketuhanan telah bermutasi dalam kesadaran kita. Bisa kasyaf. Bisa hidup mata bashirah. Bisa terbuka berbagai bentuk kesadaran baru.
Alih-alih menjadi pikun, Tuhanlah yang mengisi kesadaran kita. Dia yang mengingat saat kita berusaha mengingat. Dialah yang berpikir, saat kita berusaha berpikir. Dia yang berbicara, pada saat kita berkata-kata. Dia telah mengambil alih kesadaran kita. Dia telah terintegrasi dalam cara berpikir dan bertindak kita.
Seperti itulah bentuk kecerdasan orang-orang shalih. Mereka sangat sensitif. Inteleknya hidup. Ruhaninya tajam. Ada Tuhan dalam dirinya. Mustahil pikun.
***
Berbeda sekali dengan kondisi orang-orang yang suka bergadang tanpa tujuan. Bergadang tidak dengan tujuan untuk “mengingat Tuhan” (zikir), itu membuat seseorang cepat sekali pikun. Cepat sakit. Di tambah lagi dengan kelamaan tidur. Atau tidur setelah subuh. Imun tubuh bisa menurun tajam.
***
Jadi, Ramadan itu melahirkan orang-orang yang suka bergadang. Juga suka tidur. Sekaligus kelamaan tidur.
Jika bergadang digunakan secara kreatif untuk menghidupkan otak bawah sadar (dalam bentuk zikir atau meditasi), itu justru akan membangun sebuah kecerdasan baru. Bisa membentuk kesadaran ketuhanan (takwa).
Sebaliknya, kalau mata dipaksa terjaga, lalu otak kritis (gelombang beta) disuruh bekerja pada malam-malam seperti itu, bisa cepat pikun kita Malam hari adalah tempat otak beristirahat. Atau secara kreatif, ia bisa diajak untuk tenggelam dalam kesadaran yang lebih dalam. Dan dilakukan dalam ruang-ruang isolasi. Bukan di tempat terbuka. Bukan di keramaian.
Jadi, kalau dipenghujung Ramadan Anda merasa tubuh sudah ringan, coba di cek. Apakah itu tanda-tanda sudah mencapai kondisi jiwa yang “Muthmainnah”. Sudah bertakwa.
Atau sebaliknya. Orang-orang pikun juga ringan badan dan perasaannya. Sebab, sudah banyak memori yang hilang. Sehingga lupa utang. Lupa anak. Lupa istri. Lupa pekerjaan. Semua bebannya hilang, gara-gara hilang ingatan.
Bagus juga pikun, kalau hidup terlalu banyak beban. Karena itu pula semakin tua semakin pikun kita. Itu memang mekanisme alamiah tubuh untuk menetralisir beban. Tapi lewat zikir, atau rajin mengingat Tuhan, juga bisa menetralisir beban. Tanpa harus menjadi pikun.
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****
