Jurnal Suficademic | Artikel No. 21 | Mei 2026
Manajemen “Qaddamat Lighad”: Menjadi Manusia Visioner dan Beretika
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic Supertraining
Bismillahirrahmanirrahim.
SISTEM pendidikan Barat sangat menekankan pentingnya “cita-cita”. Fokusnya “end goal” (tujuan). Karena itu, disain sebuah gerakan dimulai dari proses perencanaan strategis (strategic planning). Dalam konteks ini, “visi” ditempatkan sebagai puncak tujuan.
Visi adalah mimpi, cita-cita, tujuan, atau target yang ingin dicapai dimasa depan. Setiap organisasi digerakkan dalam kerangka visioning semacam ini.
“Apa Cita-Citamu?”
Jadi, kalau Anda bertanya kepada seorang siswa di sekolah: “apa cita-citamu?”, Anda sedang menanamkan pendidikan ala Barat. Sistem kerja Barat sangat fokus pada tujuan akhir. Karenanya, etika sering kali terabaikan. Etika kini menjadi isu krusial dalam setiap gerak keorganisasian.
Ketika bicara “etika”, berarti Anda sedang bicara proses. Bukan bicara tujuan. Kalau bicara “tujuan”, berarti Anda sedang bicara apa yang ingin dicapai, meskipun mengabaikan etika. Yang penting tujuan tercapai.
Coba lihat Israel dan Amerika. Itu dua contoh sempurna dari kasus Barat. Negara manapun akan mereka ancam. Siapapun akan dibunuh, dengan cara apapun. Melalui genosida. Dengan merudal sekolah. Mengebom kamp pengungsi. Menghancurkan fasilitas sipil. Membuat lapar warga. Membunuh anak-anak. Menghabisi perempuan. Menyiksa orang dewasa. Merampok tanah. Menculik. Mengadu domba, dan sebagainya. Yang penting tujuan tercapai. Mereka praktikkan itu dalam rangka menguasai sumberdaya alam seperti minyak, baik di Timur Tengah atau belahan dunia lainnya.
Lalu bandingkan dengan Iran. Drone-nya canggih. Rudal-rudalnya berbahaya. Tapi hanya dilepaskan ke pusat-pusat militer musuhnya saja. Bukan untuk membunuh warga sipil lainnya. Itupun dilakukan jika diserang, sebagai balasan untuk membela diri.
Sama seperti Israel dan Amerika, negara Iran juga punya tujuan. Tapi dicapai melalui etika. Karena itu Iran terkadang terlihat lemah, karena terlalu sopan dalam berperang. Mereka tidak mau membunuh dan merusak secara membabi buta. Padahal dengan senjata-senjata canggihnya, bisa saja Iran lebih brutal dari Israel. Tapi itu tidak dilakukan. Sebab, mereka fokus pada “proses”, pada “etika”. Bukan ngotot pada pencapaian ambisi yang tidak beradab.
Hal ini tidak berarti bahwa visi atau tujuan tidak penting. Tidak. Visi sangat penting. Gerak keorganisasian, gerak negara, atau gerak politik harus “rasional”. Harus digali lewat asesmen kebutuhan masa depan. Proses lahirnya tujuan itu sangat terstruktur, logis dan dilakukan lewat kajian yang sistematis.
Karena itu, cara berpikir Barat sangat rasional. Hanya saja, spiritnya sering mengarah pada tendensi “kolonial”. Apapun akan dilakukan, at all costs. Yang penting tujuan tercapai. Gaya ambisius ini bukan hanya khas kolonialisme dan zionisme Barat. Dalam kehidupan keseharian organisasi dan kenegaraan kita juga masih ditemukan pola-pola menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.
“Apa Perasaanmu?”
Kalau pencapaian “tujuan” menjadi satu-satunya indikator sukses, maka Anda akan menemukan banyak sekali nabi yang gagal. Nabi Isa as misalnya, pada akhirnya dikejar, ditangkap, ‘dibunuh’, dan menghilang dari publik. Ia gagal mendirikan negara atau kerajaan. Nabi-nabi lain juga begitu, banyak yang harus ‘lari’, terbunuh, terkucilkan dari sistem kekuasaan.
Namun itu tidak menjadi indikator bahwa mereka “gagal”. Sebab, mereka fokus pada “proses”. Yang diperlihatkan oleh para nabi adalah proses bagaimana nilai-nilai diperjuangkan dan diimplementasikan dalam segala sisi kehidupan.
Semua nabi punya tujuan dalam berdakwah. Namun, yang mereka lakukan bukan sebuah bentuk pragmatisme dan kebrutalan. Melainkan bagaimana memastikan bahwa dalam setiap langkah yang mereka ambil terjadi dialog dan interaksi dengan Tuhan. Bukan sekedar mengejar ambisi yang kesetanan.
Disinilah letak “etika spiritual”-nya. Mereka mencari rasa kebahagian selama proses. Mereka ingin menyaksikan kehadiran Tuhan dalam setiap nafas dan tindakan. Tidak melulu keterburuan. Mereka tidak terikat pada nafsu untuk mati-matian mengejar tujuan. Ada “jeda”, “pause”, “retreat”, “wukuf”, atau “uzlah” untuk menyerap kemauan Tuhan.
Jadi, pertanyaannya bukan lagi sekedar “apa cita-citamu?”. Melainkan, “apakah engkau merasakan kehadiran Tuhan saat melakukan itu?”
Bagi para nabi, tujuan adalah “arah” gerakan. Sedangkan bagaimana berinteraksi dan merasakan kehadiran Tuhan dalam setiap langkah perjuangan, itu lebih menentukan. Sebab, yang dicari adalah “wajah” Tuhan dalam setiap tahapan aksi dan perlawanan. Bukan terjebak pada tujuan untuk menang. Justru, kemenangan itu adalah ketika mereka menyaksikan kehadiran Tuhan (syahid/syuhud) dalam setiap fase pelaksanaan program. Itulah “ethics” dalam makna tertinggi. Hadir Tuhan dalam setiap sisi pekerjaan.
Namun demikian, kasus unik ditemukan pada sosok Muhammad SAW. Ia menjadi nabi yang bukan hanya sukses mencapai tujuan. Tapi juga paling berhasil dalam mewariskan prinsip-prinsip hukum dan etika dalam gerakan.
Disatu sisi, setelah 20 tahun berjuang, Beliau mampu membangun imperium yang berpusat di Madinah. Ia sukses menjadi pemimpin politik dunia Arab. Musuh-musuhnya terkalahkan lewat dakwah dan pedang. Tujuan untuk membangun Islam lewat sebuah sistem politik dan kekuasaan berhasil dicapai.
Disisi lain, Beliau “menikmati” prosesnya. Ia “bahagia” selama berjuang. Ia “merasakan” Tuhan dalam setiap ucapan dan tindakan. Ia melakukan aksi bermoral sepanjang hidupnya. Etikanya diluar nalar manusia biasa. Tidak korup. Tidak brutal. Sangat penyayang. Meski beberapa kali harus berdarah, hampir terbunuh, dan mengalami kekalahan; Beliau berhasil menjadi role model perilaku ihsan dalam semua sisi kehidupan.
Hal serupa bisa Anda temukan pada figur-figur kepemimpinan Iran terkini. Mereka diembargo. Difitnah. Diserang. Diisolasi dari dunia luar. Tapi perlahan mereka bangkit untuk mencapai tujuan, untuk menjadi salah satu pemilik teknologi militer tercanggih di dunia.
Tujuan berhasil dicapai. Tapi dengan tetap memegang prinsip dan nilai. Dunia perlahan berbalik mendukung mereka. Ada ketauladanan etik dari para ayatullah dalam membela nilai-nilai kemanusiaan. Pada akhirnya, Iran menjelma menjadi pemimpin dan adidaya baru dunia.
“Qaddamat Lighad”: Menjadi Manusia Visioner dengan Manajemen Etik-Akhirat
Memiliki tujuan sangat penting. Tapi memiliki etika dalam pencapaian tujuan juga tidak kalah penting.
Memiliki tujuan bermakna memiliki “ambisi”. Sedangkan memiliki etika, dalam perspektif sufistik berarti memiliki “getaran” (pengawasan) Tuhan dalam proses pencapaian Tujuan. Etika adalah kompas moral dalam menjangkau target dan sasaran.
Dunia sering terbelah dalam dua pola. Barat dengan rasionalitasnya sangat mengagungkan pada efektifitas dan efisiensi pencapaian visi. Karenanya, produktifitas menjadi kata kunci. Akibatnya, nilai-nilai humanisme sering terabaikan. Manusia teralienasi dari dirinya sendiri. Sistem edukasi dunia barat banyak melahirkan orang-orang sukses. Tapi mengalami depresi. Jiwanya kosong, hampa. Banyak dari mereka pergi ke India untuk belajar meditasi.
Sedangkan dunia timur dengan spiritualitasnya suka berfokus pada rasa bahagia (mindfulness) selama perjalanan. Penduduk dunia timur terkadang miskin. Tapi bahagia. Mungkin tujuan hidupnya tidak begitu jelas. Tapi gembira. Walau tak ada kerja, minimal masih shalat mereka. Zikirnya ada.
Kita tidak mengatakan bahwa model Barat lebih baik, atau Timur lebih baik. Tidak. Yang terbaik adalah, yang menyatukan keduanya. Hidup harus punya tujuan. Sekaligus memiliki etika dan rasa bahagia (mindfulness) selama proses perjalanan.
Dalam Islam, konsep penyatuan tujuan dalam perspektif Barat dan etika dalam perspektif Timur terangkum dalam ayat:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)
Ada dua poin utama dalam ayat ini. Pertama, setiap orang wajib punya tujuan. “.. hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok”. Semua langkah kerja kita hari ini mesti diarahkan untuk mencapai sebuah tujuan di masa depan. Setiap orang harus punya visi.
Kedua, setiap orang mesti bertakwa kepada Allah dalam pencapaian visi. “..dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan”. Kata “takwa” dua kali disebut dalam ayat tersebut, diawal dan diakhir. Sebuah pertanda, dimensi etik dalam bekerja harus lebih diperhatikan.
Istilah “tujuan” (visi) sering dikaitkan dengan apa yang ingin diraih “hari esok” (lighad). Sedangkan “etika” (takwa) selalu dikaitkan dengan apa yang “sekarang” harus diperhatikan saat melakukan sesuatu. Takwa atau etika sering dikaitkan dengan “mindfulness”, aspek kesadaran dan kebahagiaan dalam bekerja.
Jadi, manusia adalah tempat menyatunya dua elemen ini: “hari esok” dan “hari ini”. Keduanya harus berjalan secara seimbang. Jika tidak, akan terjadi kekacauan.
Manusia akan hidup menderita dalam keadaan was-was kalau terus memikirkan “hari esok” dan gagal merasakan “hari ini”. Atau, sukses tidak akan pernah dicapai kalau hidup terus berputar-putar dari satu warung kopi ke warung kopi lain, tanpa tujuan.
Karena itu, “lighad” dalam ayat di atas tidak hanya diartikan sebagai “hari esok”. Tapi juga “akhirat”. Akhirat bukan hanya berarti “hari esok”, tapi juga “hari ini”. Hari esok dan hari ini, itu berkumpul pada satu titik: “akhirat”. Akhirat itu bukan hanya besok. Tapi juga “sekarang”.
Manusia adalah makhluk dua dimensi: duniawi dan ukhrawi. Sisi luar manusia adalah “dunia” (materi). Sedangkan sisi dalamnya adalah “akhirat” (spirit). Jika bicara dimensi, dimensi “awal” (luar/lahiriah) manusia adalah materi, dan dimensi “akhir” (dalam/batiniah) adalah ruh. Jadi, sisi duniawi dan ukhrawi, keduanya telah ada pada manusia. Ia bisa menjadi makhluk “akhirat” kalau ruhnya hidup.
Jadi, setiap mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan duniawinya, manusia harus memperhatikan kondisi batin ukhrawinya. Jiwanya harus merasakan ketenangan (kehadiran Tuhan) saat bekerja mencapai tujuan tersebut. Dan itu hanya bisa diperoleh lewat etika (keterkoneksian) dengan nilai-nilai dan getaran spiritual. Sebagaimana disinggung dalam Al-Hasyr 18 diatas, dimensi akhirat (etika spiritual) itulah yang harus diperhatikan dalam setiap perbuatannya.
Artinya, masa depan dan tujuan manusia itu ada dalam tindakan “sekarang” (now). Selama dalam proses mencapai tujuan seseorang bisa merasakan kehadiran Tuhan, maka tujuannya sudah tercapai. Sebab, tujuan hakiki manusia memang Tuhan. Bukan yang lain.
Karena itu, hidup yang benar adalah kehidupan yang berfokus pada dimensi “now” (sekarang). Jika sejak sekarang seseorang bisa terhubung dengan rasa ketuhanan, maka otomatis ia telah berada di masa depan. Tujuan kita adalah Tuhan. Tuhan ada dimana-mana. Tuhan ada dimasa lalu, dimasa sekarang, dan dimasa depan. Jika sekarang kita sudah bersama Tuhan, kita sudah berada satu titik kesadaran dengan-Nya.
Artinya, dimensi “akhirat” (dimensi Tuhan) itu ada dimasa sekarang. Akhirat itu adalah dimensi batin, dimensi ketuhanan, dimensi kesucian dari jiwa manusia. Jika dalam pencapaian tujuan duniawi Anda sudah memperhatikan sisi etis ketuhanan ini, maka Anda telah mencapai tujuan akhir. Yang harus kita kejar adalah Tuhan. Itulah tujuan sesungguhnya dibalik semua visi duniawi kita.
Kesimpulan
Dengan adanya “tujuan” kita bisa sukses dan kaya raya. Tapi hanya dengan “Tuhan” kita merasakan bahagia. Ada orang yang sukses, tapi tidak menemukan Tuhan pada sisi ukhrawi kejiwaannya. Atau sebaliknya, selalu bersama Tuhan, tapi tertinggal dalam indikator duniawi. Idealnya, kita memiliki keduanya.
Inilah model manajemen “qaddamat lighad” (QS. Al-Hasyr 18) yang kami sebut dalam training-training The Suficademic. “Hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok”. Anda harus punya visi stratejik untuk masa depan, dan punya model kesadaran etik dalam proses pencapaian.
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****
