Pikiran: Sumber Masalah atau Kemajuan?

Bagikan:

Jurnal Suficademic | Artikel No.34 | November 2025

Pikiran: Sumber Masalah atau Kemajuan?
Oleh Said Muniruddin | Rector the Suficademic

Bismillahirrahmanirrahim.

MANUSIA adalah “makhluk berpikir”. Ketika mulai berpikir, ia mulai menjadi manusia. Karena berpikir maka terjadi dinamika. Muncul ide untuk membangun dan berubah. Perkembangan zaman dengan segala teknologinya terjadi akibat manusia mulai berpikir. Tanpa berpikir, kita semua menjadi binatang. Kehidupan binatang sejak dulu tidak pernah berubah. Sebab mereka tidak punya potensi untuk berpikir.

Jadi, kalau ada daerah yang tidak maju-maju, miskin dan tertinggal dalam segala sisi; itu pertanda kemampuan berpikirnya rendah. Terkadang ngomongnya banyak. Ceramahnya berlebih. Khutbahnya panjang. Rapatnya tidak habis-habis. FGD-nya berulang-ulang. Tapi percayalah, semua teriakan dalam ruang diskusi semacam itu kualitasnya sangat rendah.

Ada bentuk berpikir yang pasif, tidak menggerakkan. Hanya unjuk ego dan kecerdasan. Ada bentuk berpikir yang menyadarkan, menggerakkan.

Bentuk berpikir yang tidak menggerakkan disebut “noise”. Ada suara-suara dalam kepala kita yang terus membisiki. Ada gemuruh dalam otak yang terus berbicara. Pada model ini, kita aktif berpikir. Tapi, pikiran kita tidak lebih dari “ombak” atau “badai” yang menyelimutinya aspek-aspek kognitif kita.

Pikiran kita sehari-hari sering lahir dari kebisingan otak semacam ini. Pemikirannya banyak. Tapi sering tak berguna. Karena kontennya tidak jujur. Tidak jernih. Tidak tulus. Tidak bersih. Tidak arif. Tidak mencerahkan.

Untuk menemukan “voice” di kedalaman lautan pemikiran, ombaknya harus ditenangkan. Badainya harus ditaklukkan. Untuk mudah menemukan dan menangkap ikan, airnya harus terlebih dahulu distabilkan. Atau mungkin Anda harus menyelam.

Disatu sisi, ombak dengan segala gemuruh yang lahir dari pikiran sadar (conscious mind); itu bagus bagi dialektika intelektual. Tapi isi di dalam lautan yang tenang, itu jauh lebih bagus. Mutiara hanya ada di dasar lautan. Anda harus berenang ke dasarnya untuk menemukan berbagai perbendaharaan tersembunyi.

Proses menenangkan pikiran sadar ini disebut “zikir” (suluk/khalwat). Bahasa umumnya “meditasi”. Lewat proses inilah para nabi bisa mendengar “pikiran Tuhan”. Bisa menangkap wahyu, ataupun ilham.

“Zikir” adalah proses berpikir, tanpa berpikir. Zikir itu metode untuk menggali pikiran dari alam bawah sadar (subconscious). Bahkan jauh sampai ke alam atas sadar (supraconscious). Metodenya sangat kreatif.

Kalau kita tau cara “menjernihkan” ombak dan “menenangkan” badai pemikiran, akan terlihat banyak sekali ikan dan mutiara dalam lautan. Selama pikiran masih keruh dan kacau, semua “ilmu hikmah” tidak akan tersibak dalam pandangan. Selama kita masih aktif berpikir, maka pikiran Tuhan tidak akan hadir. Untuk mendapat pemikiran dari Tuhan, kita harus bersedia untuk duduk dengan tenang, pasrah dan diam.

Jadi, metode “muthmainnah” (QS. Al-Fajr: 27-30) merupakan metode untuk naik kelas dalam berpikir. Metode ini merupakan metode ‘kematian’. Metode “mati sebelum mati”. Metode untuk kembali ke Tuhan. Metode untuk memperoleh “jiwa yang tenang”. Matikan/tenangkan dirimu (otakmu), sebelum (otakmu) mati betulan. Sebab, gelombang pemikiran Tuhan tidak hadir di frekuensi otak sadar (conscious mind). Dia dengan segala vibrasi pemikiran-Nya muncul pada gelombang emosi, jiwa atau ruhani (subconscious dan supraconscious) yang tersucikan.

Kesimpulan

Ketika mulai “berpikir” (conscious), Anda mulai berevolusi dari hewan menjadi manusia. Itu bagus. Dengan berpikir kita menjadi maju. Dengan berpikir kita menjadi berbeda dari binatang. Agama atau syariat misalnya, itu hanya ditujukan bagi orang-orang yang sudah mulai berpikir.

Namun pikiran manusia sering bergejolak. Semua pertikaian dan kekacauan dalam hidup, itu juga lahir dari pikiran. Maka, pikiran harus ditenangkan. Ketika pikiran mulai tenang, Anda mulai berevolusi menjadi malaikat. Sebab, Anda mulai berpikir melalui alam ruhani atau alam ketuhanan. Kesadaran untuk hidup lebih beradab tumbuh pada level ini.

Jadi, manusia itu makhluk bertanya dan berpikir. Demikian juga dengan malaikat. Malaikat juga makhluk bertanya dan berpikir (QS. Al-Baqarah: 30). Bedanya; jika manusia bertanya dan berpikir dengan “ambisi egoistik” (conscious mind), malaikat berpikir melalui “gelombang cahaya” yang tenang (superconscious mind). Kita bisa menjadi keduanya. Kita bisa menjadi makhluk berakal, but spiritually guided.

Kami The Suficademic Supertraining hadir untuk mengedukasi masyarakat Indonesia tentang berbagai bentuk kecerdasan manusia, serta teknik-teknik bagaimana kita bisa masuk lebih dalam dalam cara berpikir yang lebih intelek dan menenangkan. Cerdas sekaligus bahagia. Cerdas dan bahagia adalah motor untuk penggerak kinerja; baik sebagai individu, dalam organisasi ataupun keluarga.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

Bagikan:

4 thoughts on “Pikiran: Sumber Masalah atau Kemajuan?

  1. Reddyannabookie is another one I’ve seen around. Similar to Reddyannabookonline, seems like the reviews are split. I’d recommend browsing around the site and seeing if it feels right for you before depositing any money. You can check them out at reddyannabookie.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Pemimpin, Berkah dan Bencana

Thu Nov 27 , 2025
Jurnal

Kajian Lainnya

SAID MUNIRUDDIN adalah seorang akademisi, penulis, pembicara dan trainer topik leadership, spiritual dan pengembangan diri.