Ibrahim as: Makrifat, Tauhid, dan Ikhlas

Bagikan:

Jurnal Suficademic | Artikel No. 04 | Januari 2026

Ibrahim as: Makrifat, Tauhid, dan Ikhlas
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic

SUATU hari, Habib Puteh dan Habib Itam kembali bertemu di warung kopi. Sambil meneguk segelas sanger yang baru terhidang, Habib Puteh membuka soal:

HABIB PUTEH: “Kamu mau tidak, kalau tiba-tiba Tuhan memerintahkan kamu memotong leher anak yang paling kamu sayangi?”

HABIB ITAM: “Wah, berat! Boleh jadi, gak mau. Dengan kata lain, saya tidak sanggup. Tidak tega. Tidak berani.”

HABIB PUTEH: “Itulah ujian ikhlas. Tidak ada manusia yang betulan ikhlas. Tidak ada yang mau, tidak ada yang berani, tidak ada yang bersedia melepaskan apa yang paling mereka sayang untuk Tuhan. Tidak ada yang betul-betul sanggup mendedikasikan hidupnya untuk Tuhan”.

HABIB ITAM: “Jadi, kenapa Ibrahim as mampu melakukan itu?”

HABIB PUTEH: “Karena ia sudah mencapai level makrifat. Makrifat artinya “mengenal” Tuhan. Karena Tuhan yang minta, dan Tuhan itu ia kenal, makanya ia bersedia. Kalau setan yang minta, tentu ia menolaknya”.

HABIB ITAM: “Wah, kalau begitu, kalau betulan Tuhan yang minta, saya juga mau mengorbankan apa saja!”

HABIB PUTEH: “Ok, kalau nanti malam kamu bermimpi, Tuhan datang dan meminta kamu memotong leher anakmu, apakah kamu bersedia?”

HABIB ITAM: “Bagaimana saya bisa memastikan bahwa yang hadir dalam mimpi saya itu adalah Tuhan, bukan setan?”

HABIB PUTEH: “Nah, lagi-lagi, masalah kita adalah, kita tidak mengenal Tuhan. Kapan pun Tuhan datang, apakah dalam mimpi atau bukan, kita pasti tidak mengenalinya. Kita pasti ragu, apakah itu betulan Tuhan. Karena tidak mengenalinya, maka mustahil kita mau patuh kepadanya. Tidak mengenal Tuhan bukan hanya masalah kita, tapi juga masalah hampir semua manusia yang beragama. Maka bagaimana mungkin kita yang mengaku Islam bisa ikhlas pada perintah Tuhan, kalau Tuhannya tidak kita kenal. Tau nama, tapi tidak tau Wujudnya. Karena itu, untuk bisa menjadi manusia yang ikhlas, yang tunduk dan patuh, seseorang harus terlebih dahulu makrifat, yaitu mengenal Tuhan. Ingat, awal dari tauhid, awal dari agama, adalah mengenal Allah. Karena itulah, surah tentang tauhid dinamai surah Al-Ikhlas. Tidak ada kata “ikhlas” dalam surah itu. Tapi dari awal pembukaan kita sudah diberi tau. Bahwa seseorang bisa menjadi pribadi yang ikhlas ketika sudah mengenal bahwa “Huwa” -Dia itu, adalah “Allah”, yang Esa. Siapakah yang dimaksud Dia (Huwa) itu? Tuhan! Tuhan yang mana? Carilah Dia. Dia yang betulan Allah, bukan dianya itu setan. Kalau ketemu si Dia, maka kamu benar-benar telah mengenal Allah. Itulah makrifat, awal dari ikhlas”.

HABIB ITAM: “Jadi kita selama ini tidak ikhlas dalam beribadah, karena belum mengenal-Nya? Bukankah kita selalu beribadah untuk Allah?”

HABIB PUTEH: “Sebelum makrifat, mustahil ikhlas. Yang selama ini kita maksud sebagai “ikhlas” adalah “keikhlasan” untuk melayani isi pikiran dan nafsu kita sendiri. Bukan melayani apa maunya Allah. Seringkali, yang membisiki kita untuk melakukan sesuatu adalah nafsu atau setan dalam diri kita. Tapi kita bungkus dengan ayat. Bukan murni keinginan Allah. Setan sering membisiki kita untuk berbuat sesuatu yang seolah-olah baik, lalu kita anggap itu bisikan dari sisi Allah. Setan sering hadir dalam hal-hal baik. Setan juga rajin menyuruh kita bersedekah, sholat, puasa dan haji. Sebaliknya, Allah juga sering membisiki kita kepada sesuatu yang sekilas terkesan buruk, padahal baik. Allah sering hadir pada wajah yang kita benci, pada perbuatan yang kita cela, pada mazhab yang kita takuti, atau pada aliran yang kita jauhi. Kita anggap itu semua sebagai setan. Padahal tidak selalu begitu. Kita belum mengenal, yang mana Allah, yang mana setan”.

HABIB ITAM: “Jadi Ibrahim itu pribadi yang makrifat dan ikhlas?”

HABIB PUTEH: “Iya. Ibrahim as adalah sosok yang sangat mengenal Allah. Dan juga sangat mengenal setan. Begitu kenal ia dengan setan, sehingga ia berani melemparnya dengan batu. Berapa kali kita sudah melempar setan dengan batu? Tidak pernah. Karena dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak tau yang mana setan itu. Kita juga tidak tau, yang mana Allahnya. Karena kekuatan makrifat inilah Ibrahim as disebut sebagai “Bapak Tauhid” atau The Father of Monotheism. Awal dari Islam adalah tauhid wal makrifah. Yaitu mengenal, atau mampu menyaksikan, yang mana Allah. Juga mengenal atau bisa melihat, yang mana iblis ataupun setan. Tanpa kemampuan ini, kita akan selalu tertipu”.***

Bagikan:

14 thoughts on “Ibrahim as: Makrifat, Tauhid, dan Ikhlas

  1. **mounjaboost**

    MounjaBoost is a next-generation, plant-based supplement created to support metabolic activity, encourage natural fat utilization, and elevate daily energywithout extreme dieting or exhausting workout routines.

  2. **backbiome**

    Mitolyn is a carefully developed, plant-based formula created to help support metabolic efficiency and encourage healthy, lasting weight management.

  3. Write more, thats all I have to say. Literally, it seems as though you relied on the video to make your point. You definitely know what youre talking about, why throw away your intelligence on just posting videos to your weblog when you could be giving us something informative to read?

  4. Sự tin tưởng của cộng đồng bet thủ chính là thước đo giá trị chính xác nhất cho thương hiệu 188v ios trong suốt những năm qua. Chúng tôi không ngừng cải tiến để bảo vệ quyền riêng tư và tài sản của khách hàng trước mọi nguy cơ từ không gian mạng. TONY03-02

  5. You clearly wrote this with intention and that intention shines through every part of the piece. You never talked down to your readers and that respect made the reading experience feel wonderful. I actually copied a few lines into my journal because they felt too important to forget. I hope you can feel how much reach your words have even when the comments stay quiet. Wishing you steady inspiration and every success with whatever you decide to create next.

  6. You have a soft and honest way with words that made this post feel like advice handed over by a friend who truly cares. So many lines here read like quiet truths I had waited a long time to finally hear spoken aloud with real conviction. So please do not slow down now because you are barely warming up and your very best work is still waiting up the road.

  7. This touched me in a way I honestly did not foresee and I keep drifting back to a few lines just to feel them again. I love how you rooted each big claim in something real so nothing here ever floated off into hollow abstraction. I fully intend to pass this along to a few people who need to read these exact words at this exact moment in their lives.

  8. You have a real gift for making a reader feel welcomed rather than counted as one more fleeting glance in a busy feed. The kindness in your tone never once wavered which quietly turned even the harder truths into gentle encouragement. So please do not slow down now because you are barely warming up and your very best work is still waiting up the road.

  9. You have a warm and unhurried way with words that made this post feel like a heartfelt talk with someone who cares. So many sentences here read like quiet truths I had waited a long while to finally hear spoken with real conviction. You reminded me why quitting was never truly an option and for that gentle push I am more grateful than words can hold.

  10. You found a way to stay grounded and inspiring together and striking that balance is a skill I genuinely admire. Each idea rested so naturally on the last that by the closing line the whole picture simply clicked into place. You have every reason to feel proud of this so please carry that pride straight into whatever project you dream up next.

  11. This touched me in a way I honestly did not foresee and I keep drifting back to a few lines just to feel them again. Each idea rested so naturally on the last that by the closing line the whole picture simply clicked into place. May your creativity keep pouring out freely because readers like me depend on writers like you to stay brave and hopeful.

  12. This is exactly the quiet encouragement I had not known I needed until your words set it gently before me today. I respect that you let your readers work it out for themselves rather than handing over every last conclusion neatly. You have my full admiration and support so keep that spark alive and keep lighting the way for everyone who follows you.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Haji Koruptif

Mon Jan 12 , 2026
Jurnal

Kajian Lainnya

SAID MUNIRUDDIN adalah seorang akademisi, penulis, pembicara dan trainer topik leadership, spiritual dan pengembangan diri.