Kenapa Mualem Menangis?

Bagikan:

Jurnal Suficademic | Artikel No.38 | Desember 2025

KENAPA MUALEM MENANGIS?
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | Suficademic

Bismillahirrahmanirrahim.

MUSIBAH banjir menyebabkan Aceh kembali ke era Iskandar Muda. Makbul sekali, sesuai dengan doa Mualem saat Pemilu:

“Ta puwoe keulayi Aceh bak jameun Iskandar Muda”.

Tanpa listrik.
Tanpa sinyal.
Tanpa jembatan.
Tanpa BBM.
Tanpa angkutan.

Pemerintah pusat pun memilih tenang. Pasang badan nyaman. Sambil mengangkat sekarung beras, lalu berusaha meyakinkan:

“Karena cuaca ekstrim”.
“Hutan tidak gundul”.
“Tidak ada pembalakan liar”.
“Itu kayu-kayu lama”.
“93 persen listrik nyala”
“Hanya mencekam di medsos”.

Penguasa sawit yang di backup aparat, tertawa. Setuju semua.

Presiden kita sangat kesatria. Menolak bantuan dunia. Sudah benar itu. Jangan sampai kenyataan lingkungan kita menjadi perhatian mereka. Jangan sampai dunia tau, rimba kita telah jadi sawit dimana-mana. Lalu muncul kalimat pengunci: “Kita mampu mengurus diri sendiri”.

Alhamdulillah, benar. Semua sibuk mengurus dirinya sendiri. Hanya satu dua yang rajin ngurusin orang lain. Ngurusin pengungsi. Presiden pun berangkat ke luar negeri.

Alhasil. Rakyat kini masuk ke tahap bencana baru. Kelaparan. Ketidakpastian. Menuju evolusi baru, ke arah yang tak terbayangkan.

Dari hati para pejabat pusat terdengar bisik ke eks Panglima GAM: “Nah, lo urus tuh rakyat lo. Lo bangun tuh bangsa lo. Lo merdekakan tuh Aceh lo, dari kenyataan terbaru. Mana pasukan lo yang dari Libia itu?”.

Panglima pun menangis. Setelah tau, hidup di era Iskandar Muda itu gak enak sekali.

Lebih parah lagi, Aceh bukan hanya sedang berada di era Iskandar Muda. Aceh sedang menuju zaman batu:

Tanpa makan.
Tanpa baju.
Saling serang.
Saling ancam.
Saling ngompas.
Saling peras.

Kementerian dan Lembaga, SKPA/SKPD, sebagiannya masih pantau-pantau aja. Lainnya masih ngopi. Belum ada perintah kerja, katanya. Mungkin juga agak susah kalau kerja di lapangan. Panas. Berlumpur. Berdebu. Beda dengan ruangan ber AC.

Lama-lama, jadi monyet semua kita. Jadi Homo Erectus. Hidup dengan menengadahkan tangan. Seperti si amang yang antri dan rebutan makan di pinggir jalan gunung Seulawah.

Ditengah evolusi yang tidak pasti, sayup-sayup terdengar kembali teriakan, yang sebenarnya telah lama terkubur dalam MoU Helsinski:

“Kita harus betulan merdeka, harus terbebas dari Indonesia”. Teriakannya bukan lagi terdengar dari pesisir. Tapi juga dari pedalaman Gayo sana.

Panglima, yang sudah ter-indonesiakan sedemikian, yang sudah ter-NKRI-kan sedemikian rapi, jadi galau. Lalu menangislah beliau.

Setelah 20 tahun Otsus, kita kembali ke zaman batu. Bukan karena kita kurang uang. Bukan karena kurang sumberdaya alam. Tapi karena hujan seminggu.

Sejenak saya merenung. Lalu terlintas beberapa jawaban. Mungkin karena kita kurang bersyukur. Mungkin karena kita terlalu zalim. Mungkin karena kita terlalu korup. Mungkin karena kita telah lama menerima penjajahan model baru, yang membunuh kita dengan cara menodai alam. Mungkin karena kita telah membiarkan perusahaan-perusahaan Belanda masuk untuk merusak hutan.

Kalau Mualem sudah tidak mampu, maka Aceh butuh panglima baru. Aceh butuh pahlawan baru. Aceh butuh pejuang-pejuang baru. Aceh butuh semangat baru. Aceh butuh keberanian baru. Aceh butuh pemimpin yang bisa membawa masyarakatnya untuk keluar dari potensi masuk ke zaman batu. Indonesia juga begitu.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

Bagikan:

5 thoughts on “Kenapa Mualem Menangis?

  1. You could certainly see your enthusiasm in the work you write. The arena hopes for even more passionate writers such as you who aren’t afraid to say how they believe. All the time go after your heart. “No man should marry until he has studied anatomy and dissected at least one woman.” by Honore’ de Balzac.

Leave a Reply to Indiboxest Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

"Interface Connection": Seni Menghubungkan Wajah dalam Belajar dan Beribadah

Wed Dec 17 , 2025
Jurnal

Kajian Lainnya

SAID MUNIRUDDIN adalah seorang akademisi, penulis, pembicara dan trainer topik leadership, spiritual dan pengembangan diri.