Jurnal Suficademic | Artikel No. 03 | Januari 2026
Jakarta, Hadirlah dengan Cinta!
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic Supertraining
Bismillahirrahmanirrahim.
APA yang menyebabkan relawan antusias mengumpulkan donasi dan hadir ke daerah bencana?
Salah satu jawabannya adalah: “cinta”. Walaupun ada juga yang hadir hanya untuk sekali show saja. Itu bukan relawan. Itu “artis” namanya. Boleh-boleh saja. Beberapa yang lain justru hadir dengan SPPD. Dengan upah perjam, perhari, atau gaji bulanan. Pada kasus terakhir, ini sudah misi cari makan. Tentu sambil membantu pemulihan lokasi bencana.
Cinta adalah penggerak paling besar dalam menolong sesama. Anda bisa saja bergerak karena uang atau motif politik lainnya. Tapi “kerelawanan” merupakan produk yang lahir dari cinta. Tanpa itu semua, gerak kita menjadi bisnis dan pencitraan semata. Menjadi pekerjaan yang dipenuhi kalkulasi untung dan rugi.
Cinta lah yang membawa seseorang hadir untuk menolong orang yang tidak mereka kenal, berbeda suku ataupun agama. Cinta lah yang membuat seseorang merasa, bahwa mereka yang hanyut dalam lumpur adalah saudaranya.
Yang paling membahayakan adalah, ketika Anda hadir ke Aceh misalnya, dengan “dendam lama”. Apalagi jika Anda pernah bertugas sebagai tentara. Mungkin pernah ada trauma. Pernah lelah disana. Pernah hampir mati. Pernah bermalam-malam di hutan tanpa cukup tidur dan makan. Mungkin ada kolega yang tewas atau terluka. Ada rasa perih yang masih membekas.
Damai boleh jadi sudah dua dekade berjalan. Tapi trauma sulit hilang. Bisa jadi itu trauma eks GAM dengan tentara. Atau trauma tentara dengan eks GAM. Atau trauma masyarakat dengan keduanya.
Bagaimanapun, Aceh dan RI pernah punya hubungan yang retak. Keretakan ini tidak bisa dihilangkan begitu saja. Sedikit tidaknya masih tersimpan jauh dalam memori bersama. Seperti halnya suami istri, atau sesama teman, kalau hubungan pernah retak, tentu tidak akan pernah kembali ke posisi semula. Rasa curiga tetap ada. Bahkan, rasa sakit hati belum tentu hilang sepenuhnya. Kecuali Anda telah dibangkitkan Tuhan sebagai manusia baru.
Jika modal trauma, benci dan curiga semacam ini yang hadir dan menyatu dalam penanganan bencana; itu sangat berbahaya. Sangat berbahaya bagi kesehatan para pelaksana rehab rekon disana. Berbahaya bagi pembangunan kita.
Sebab; energi benci, curiga dan sakit hati negatif sekali. Bisa naik ke lambung. Bisa berubah menjadi penyakit gula. Setelah ditugaskan berperang di masa lalu, kini Anda ditugaskan untuk membangun Aceh paska bencana. Itu berat luar biasa, kalau Anda belum bijak dalam menangkap makna dari setiap peristiwa.
Apalagi ketika alam bawah sadar kita masih membawa emosi tidak sehat. Masih menyimpan marah. Masih melihat Aceh sebagai musuh laten Indonesia. Baru beberapa lembar bendera Bulan Bintang di arak berkibar, Anda sudah trauma. Marah naik seketika. Padahal sudah lama damainya kita. Sepatutnya itu disikapi sebagai aksi anak-anak saja.
Maka, untuk membangun Aceh, pusat harus mengirim orang-orang yang sehat psikologinya. Yang jernih emosinya. Yang mampu melihat Aceh seperti melihat dirinya sendiri. Yang kalimat-kalimat komunikasinya penuh aura. Yang cintanya bisa memotivasi semua. Yang rasa cintanya terhadap Aceh lebih besar dari keinginan untuk sekedar menguasai sumber daya alamnya.
Belajar dari Yusuf Kalla dan SBY
Saya melihat, kisah damai RI dengan GAM pada 20 tahun silam, itu tidak terlepas dari sepotong kisah sosok pendek Yusuf Kalla. Namun tinggi sekali magnet cintanya. Juga kisah SBY, seorang tentara yang walaupun jarang nampak senyumnya, tapi mampu menanggalkan ego untuk melihat Aceh dengan kacamata cinta. Benar, dua orang ini bukanlah manusia sempurna. Banyak juga masalahnya. Tapi setidaknya mereka telah berani hadir dengan cinta. Sesuatu yang mungkin mulai langka di Republik ini. Sehingga damai terjadi. Karena cinta para pemimpin nasional kita lah, konflik dan tsunami tertangani sedemikian indahnya.
Pak Prabowo, bapak-bapak jenderal, bapak-bapak BNPB semua; kami percaya, Anda juga punya cinta. Anda pasti hadir dengan itu semua.
Kami pribadi percaya, bencana demi bencana yang hadir kehadapan kita -dan mungkin akan terus muncul- sebenarnya, selain akibat deforestasi yang dilakukan para oligarki, juga wujud ujian untuk mengukur kembali kadar cinta Republik ini terhadap rakyatnya.
Bencana memang menimpa hanya 3 provinsi, dari 38 yang kita punya. Tapi dari 3 tempat inilah seluruh Indonesia akan menilai, seberapa besar vibrasi cinta pengelola negara terhadap bangsanya. Yang harus diperlihatkan lewat respon yang sungguh-sungguh, kontinyu dan nyata.
Rakyat kita seperti bayi, yang cengeng dan suka menangis. Sesekali cukup nyinyir. Penuhi saja apa yang diminta. Sejauh mereka bahagia. Sejauh tidak berbahaya. Kita mampu. Berikan saja, melebihi apa yang mereka minta. Gubernur kami pun tidak minta macam-macam, cuma “daging meugang” dan beberapa unit eskavator saja.
Rakyat dan Pemerintah Aceh pun kita harapkan semakin banyak bersyukur. Agar apa yang sedikit telah kita miliki bisa bertahan lebih lama, dan dijauhkan dari bencana.
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

