Jurnal Suficademic | Artikel No. 06 | Januari 2026
Memahami Israk Mikraj dalam Tiga Pendekatan Ilmiah
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic Supertraining
Bismillahirrahmanirrahim.
Pendahuluan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS. Al-Israk: 1)
ISRAK MIKRAJ adalah sebuah fenomena, kejadian, peristiwa, hal, ayat, atau tanda-tanda yang bersifat misterius (yang dalam bahasa agama disebut “gaib”). Karena ia bersifat misterius, maka pasti menimbulkan diskursus bagi setiap pemilik akal sehat. Karena itulah, “fenomena” (hal-hal gaib) menjadi landasan awal bagi riset ilmiah.
Karena punya akal, maka manusia menjadi bertanya terhadap segala berita atau fenomena yang ia terima, atau yang muncul kehadapannya. Termasuk “israk mikraj”. Pertanyaan risetnya adalah:
- Apakah benar itu terjadi?
- Bagaimana itu bisa terjadi?
- Apakah bisa diulangi?
Pembahasan
Ketika berusaha menjawab tiga pertanyaan di atas, lahirlah 3 bentuk pendekatan ilmiah. Yaitu: “iman, ilmu, dan amal”. Ketiga hal ini merupakan epistemologi, atau alat untuk pencapaian pengetahuan.
Pertama, Pendekatan “Iman”
Iman itu artinya “percaya”. Dalam dunia ilmiah, percaya itu disebut “hipotesis”. Lebih tepatnya “hipotesis alternatif” (Ha/H1). Ha artinya, “Saya percaya israk mikraj itu ada”. Jadi, iman atau percaya kepada sesuatu adalah fondasi dari tradisi ilmiah. Disebut ilmiah, karena “percaya” adalah bagian dari mekanisme kerja akal. Percaya adalah bentuk pemikiran yang paling sederhana terhadap segala sesuatu.
Sebenarnya, tidak hanya “percaya” (Ha/H1) yang disebut ilmiah. “Tidak percaya”-pun (Hnull/Ho), itu sebuah sikap ilmiah. Jadi, baik percaya atau tidak percaya, itu sama-sama “ilmiah”. Sebab, keduanya hanya sebatas kepercayaan. Yaitu percaya kepada ada atau tidak adanya sesuatu.
Masalahnya adalah, kepercayaan mana yang benar. Untuk itu diperlukan pembuktian lebih lanjut. Apakah H-null (Ho) atau H-alternatif (Ha) yang benar. Karena itu, “iman” (hipotesis/percaya) saja tidak cukup. Harus ada pendekatan lebih lanjut untuk sampai kepada pembuktian kepercayaan. Maka, pada tahap riset selanjutnya dibutuhkan sebuah pendekatan tambahan lainnya yang disebut “ilmu”.
Kedua, Pendekatan “Ilmu”
Seandainya Anda menduga, berhipotesis atau percaya bahwa “israk mikraj” itu terjadi atau ada; maka buktikan. Masyarakat ilmiah seperti itu cara kerjanya. Tidak sekedar percaya-percayaan. Kalau sekedar percaya, itu dogma atau doktrin namanya. Itu hanya cocok bagi anak kecil atau kelompok awam.
Bagi kelompok ilmiah, percaya (iman) butuh pada penjelasan (ilmu). Bagaimana itu bisa terjadi. Itu pola hidup kaum akademik, ulama atau ilmuan. Seorang ulama atau intelektual adalah orang yang beriman, sekaligus berilmu. Ia percaya pada adanya israk mikraj. Sekaligus ia bisa menjelaskan bagaimana itu bisa terjadi.
Maka pada tahap ini, dalam tradisi ilmiah muncul berbagai “teori”, “konsep”, “dalil”, atau “kerangka pemikiran”; yang berusaha menjelaskan bagaimana fenomena israk mikraj bisa terjadi. Ada teori yang dihadirkan atau dikutip dari berbagai sumber yang dipercaya, yang menjelaskan bagaimana manusia bisa ‘terbang’ ke langit. Apa makna “burak”, “langit”, “sidratul muntaha”, dan lain sebagainya. Ada referensi yang dibangun, bagaimana ruh ataupun jasad, ataupun keduanya; bisa berpindah tempat. Muncul beragam teori tentang kosmos, dimensi alam, perjalanan cahaya, teori kuantum, dan sebagainya.
Jadi, “hipotesis” (iman/kepercayaan) harus di back up oleh “landasan teoritis”, konsep atau ilmu pengetahuan yang memadai. Ini semua tentunya bersifat tekstual. Jadi, iman terhadap sesuatu harus ada mekanisme pemahaman yang bersifat rasional teoritis. Itulah namanya “ilmiah”. Dunia keagamaan bukan dunia taklid buta atau iman-imanan belaka. Dunia keagamaan, termasuk “israk mikraj” adalah dunia ilmiah: dunia percaya, tapi ada ilmu pendukungnya.
Pertanyaan selanjutnya, apakah dengan “percaya” (iman/hipotesis) dan memiliki landasan “keilmuan” (ilmu/teori) terkait israk mikraj, maka serta merta israk mikraj terbukti kebenarannya?
Jawabannya, iya. Secara hipotesis dan teoritis sudah terbukti. Namun demikian, kebenarannya masih bersifat konseptual. Belum mencapai level realitas ontologis yang sesungguhnya. Kebenarannya masih sangat teoritis. Belum dilihat (observatif), belum dialami (empirical), atau belum dibuktikan melalui “pengalaman langsung” (experiential).
Agama, termasuk pengalaman israk mikraj, bukanlah sekedar “iman” (hipotesis) atau “ilmu” (teori). Agama pada puncaknya adalah pengalaman dan rasa. Seseorang harus mengalami untuk bisa mengetahui secara absolut kebenaran tentang sesuatu.
Karena itu, setelah melewati bab “iman” dan “ilmu”, tahap ilmiah terakhir dalam pembuktian kebenaran adalah melalui “amal”.
Tiga, Pendekatan “Amal”
Amal adalah metode praktis untuk membuktikan sesuatu. Dalam riset ilmiah, “amal” disebut dengan “metodologi”. Yaitu, langkah-langkah taktis, prosedur, cara, pendekatan, atau teknik tertentu yang digunakan dalam pembuktian hipotesis dan teori.
Dalam bahasa Arab, metodologi disebut “tariqah”. Tariqah adalah “jalan” untuk mengungkap kebenaran. Jalan ini sifatnya praktis. Ada adab (etika aksiologis) yang harus diperhatikan. Ada amalan-amalan khusus yang diterapkan guna menemukan apa yang dicari.
Jadi, peristiwa israk mikraj, bagi para ulama besar atau para researcher profesional, itu bukan sekedar “kepercayaan” (hipotesis) dan “ilmu” (teori). Tapi juga sesuatu yang lewat metode (amalan) tertentu mereka berusaha mengungkap pengalaman itu. Sehingga, apa yang dialami Nabi, dalam kadar tertentu juga dialami oleh para peneliti ini.
Kelompok-kelompok peneliti yang masuk sampai kepada tahapan metodologis yang halus dan detil ini, guna mengungkap fenomena dan pengalaman-pengalaman mistis, dalam dunia Islam biasa disebut dengan “sufi”. Jadi, sufi bukan kelompok dogmatis. Justru sufi itulah researcher paling ketat dengan metodologi.
Bagi kaum sufi, pengalaman mikraj nabi bukanlah sebuah “teori” atau cerita an sich untuk sekedar “diimani”. Melainkan, sesuatu untuk “direplika” sepanjang masa lewat metode tertentu. Agama menjadi “ilmiah” ketika pengalaman terdahulu bisa diriset ulang dan dialami kembali disepanjang tempat dan zaman. Kalau tidak bisa direplika, maka itu tidak ilmiah. Jadi, bagi sufi, Islam itu “ilmiah”. Sebab, kebenarannya bisa direplika, salih fi kulli zaman wa makan.
Jadi, kunci Islam menjadi sebuah “agama ilmiah”, itu terletak pada metodologinya. Kalau metodenya dapat, maka kebenarannya bisa diungkap secara valid dan robust. Metode apa yang dipakai Nabi dalam melakukan mikraj. Sebab, peristiwa itu tidak terjadi begitu saja. Ada tahapan-tahapan yang memungkinkan itu terjadi.
Kaum sufi menyadari, misalnya, salah satu langkah penting dalam proses ini adalah “penyucian diri”. Sebab, peristiwa ini sendiri digambarkan dengan kalimat: Maha “Suci” Allah yang telah memperjalankan hambanya… (QS . Al-Israk: 1). Pengalaman ini bisa alami oleh seorang “hamba”, manusia biasa. Sejauh suci. Sebab, Tuhan yang Maha Suci hanya menerima hamba-hambanya yang suci. Kalau metode penyucian diri ini ditemukan, maka pengalaman Nabi bisa dirasakan. Artinya, kebenaran “israk mikraj” dapat dikonfirmasi kebenarannya pada level observatif ataupun pengalaman langsung (ainul yaqin dan haqqul yaqin). Melampaui hipotesis dan teori (ilmul yaqin).
“Israk mikraj” pada hakikatnya adalah pengalaman hakikat dari shalat. Dengan kata lain, peristiwa itu adalah pengalaman “perjumpaan” dengan Tuhan. Jadi, kunci “perjumpaan”, itu ada pada amalan atau metode yang digunakan. Karena itu pula, di Quran disebutkan:
قُلْ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰٓ إِلَىَّ أَنَّمَآ إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ ۖ فَمَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَٰلِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا
“Aku itu sungguh hanya manusia biasa seperti kalian yang diberikan wahyu bahwa Tuhan kalian itu sungguh Tuhan Yang Maha Esa. Maka barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia dalam menerapkan metode yang benar (amal saleh)… (QS. Al-Kahfi: 110)
Jadi, berjumpa atau tidak berjumpa dengan Allah, mikraj atau tidaknya seseorang ke sisi Allah, itu hanya persoalan metode saja. Salah metode, maka hasilnya tidak didapat.
Nabi Muhammad SAW sendiri bukanlah orang pertama yang mengalami “israk mikraj”. Orang-orang shaleh sebelumnya, seperti para nabi, sudah duluan mengalami levitasi spiritual, atau “perjumpaan” dengan Tuhan. Isa as sudah duluan “diangkat” ke langit. Nabi-nabi lain juga banyak demikian, banyak diceritakan bagaimana pengalaman mereka di “langit”. Nabi Muhammad SAW hanya mengulangi metode yang sudah digunakan oleh orang-orang shaleh terdahulu. Karena bisa diulangi, maka pengalaman mistis para nabi -yang nota bene mereka adalah juga manusia biasa, maka dapat kita sebut sebagai sebuah “tradisi ilmiah”. Sebuah tradisi yang diwariskan sampai ke akhir zaman.
Berarti, kalau Anda mewarisi metode yang sama dengan yang dimiliki Nabi, Anda juga bisa merasakan pengalaman makrifat serupa. Jadi hanya pada persoalan apakah kita mewarisi metode tersebut atau tidak. Karena itu, agar efektif dalam berislam, tidak hanya “ilmu” (seperti hadis) yang harus bersanad. “Tariqah” (metode/amalan) perjumpaan dengan Tuhan juga harus bersanad. Sebab, metode inilah yang bisa membuka “pintu-pintu” Tuhan.
Kesimpulan
Islam harus didekati secara ilmiah. Lewat tiga pendekatan epistimologis: “iman” (percaya), “ilmu” (dalil/teori), dan “amal” (metode pencapaian). Islam, seperti dalam kasus israk mikraj, sering mentok di level iman. Kita hanya disuruh percaya saja. Sehingga kita terus menjadi umat yang terdogma sepanjang abad. Padahal, kepercayaan itu harus diback up dengan ilmu. Pada level lebih canggih, seseorang malah harus berani bertanya: “Metode atau amalan apa yang digunakan para nabi, sehingga bisa seperti itu?”.
Kunci pencapaian peradaban, itu ada di metode. Yang menyebabkan Habibi bisa menerbangkan pesawat bukanlah pada level percaya dan tau teorinya saja. Tapi beliau menguasai teknis metodis cara menerbangkan pesawat. Tel Aviv luluh lantak juga bukan karena orang Iran percaya dan punya teori tentang rudal. Tapi mereka tau metode untuk melesatkan rudal-rudal itu tepat ke jantung Tel Aviv. Pun untuk berjumpa atau tidak berjumpa Tuhan dalam shalat, itu bukan karena percaya pada Tuhan atau tau hafalannya. Melainkan metode apa yang harus digunakan sehingga jiwa/ruh seseorang bisa mengalami pencerahan sehingga terhubung, akrab dengan Tuhan.
Karena itu, ulama dan intelektual yang hebat, bukan hanya mampu mengajak kita sekedar “beriman”, atau mampu membahas “dalil” teori tentang mikraj. Tapi juga mampu mengajarkan kepada kita metode bagaimana cara mikraj. Sehingga, sholat kita menjadi sempurna. Benar-benar “berjumpa”, dengan-Nya. Ada implikasi praktis dari kisah agung israk mikraj kepada kita semua. Tidak terhenti di level iman saja.
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****
