“La’ibun wa Lahwun”: Jangan Salah Main Film!

Bagikan:

Jurnal Suficademic | Artikel No. 09 | Februari 2026

“La’ibun wa Lahwun”: Jangan Salah Main Film!
Oleh Said Muniruddin | Rector | Suficademic Supertraining

Bismillahirrahmanirrahim.

Pendahuluan

DUNIA ini “permainan” (La’ibun) dan “senda gurau” (Lahwun). Quran menyebutkan hal ini di tiga ayat: Al-An’am ayat 32, Al-‘Ankabut ayat 64, dan Al-Hadid ayat 20.

وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ ۗوَلَلدَّارُ الْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لِّلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ

“Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?” (QS al-An’am: 32).

وَمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا لَهْوٌ وَّلَعِبٌۗ وَاِنَّ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ

“Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui” (QS. Al-Ankabut: 64).

اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًاۗ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ

“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, dan saling bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam banyaknya harta dan anak keturunan. (Perumpamaannya adalah) seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, lalu mengering dan kamu lihat menguning, kemudian hancur. Di akhirat ada azab yang keras serta ampunan dari Allah dan keridaan-Nya. Kehidupan dunia (bagi orang-orang yang lengah) hanyalah kesenangan yang memperdaya” (QS. Al-Hadid: 20).

Apa maksud: dunia ini permainan (la’ibun) dan senda gurau (lahwun)?”

Manusia adalah “Artis”

Kita semua artis. Yang ditugaskan Tuhan untuk main film. Lokasi syutingnya ada di realitas semu, di studio sementara, di alam dunia.

Sudah ada skripnya. Kita kebagian peran sebagai “good boy”, atau “good girl”. Jadi orang baik. Tugas kita selama berada dalam realitas dunia ini adalah memainkan sandiwara sebagai manusia yang baik, sebaik mungkin.

Alasan kenapa dunia ini disebut “sandiwara”, karena realitasnya “sementara”. Dunia ini “mumkinul wujud”. Wujudnya “fana”. “Mimpi”. Temporal.

Jadi, dunia ini “simulasi”. Ada kita di dalamnya, yang ditugaskan oleh Sang Sutradara untuk memainkan peran-peran kebaikan. Kalau sukses kita perankan, nanti di akhirat akan dapat “Oscar”, “Piala Citra”, “Surga”, atau apapun namanya.

Lalu, karena dunia ini permainan dan senda gurau, apakah kita harus main-main?

Jawabannya: iya, sekaligus tidak.

Disatu sisi, “kita harus main-main”. Artinya, jangan serius sekali. Toh, hidup ini sementara. Nanti kita akan mati semua. Pindah alam. Hidup ini singkat. Anda harus menikmati semua permainan ini. Anda harus menikmati semua peran dan tugas yang diberikan Tuhan kepada Anda. Itulah namanya “senda gurau”. Anda harus bisa menertawakan semua peran Anda. Anda harus bisa tersenyum. Anda harus bisa menikmatinya. Anda harus bahagia. Jika itu Anda dapatkan, berarti Anda sudah “bahagia di dunia”.

Bahaya kalau Anda tidak menikmati pekerjaan Anda. Bisa kena lambung. Bisa kena serangan jantung. Bisa hipertensi. Bisa memunculkan anxiety. Bisa susah. Bisa menderita. Bisa cepat mati.

Disisi lain, “jangan main-main”. Artinya, semua peran yang diberikan Tuhan harus sungguh-sungguh dijalankan. Jangan malas. Jangan putus asa. Harus diseriusi. Lewat lakon-lakon yang menjiwai. Jangan munafik. Harus masuk ke hati. Kalau pemainnya “munafik”, itu filmnya tidak enak ditonton. Tidak bisa Anda nikmati. Sebab tidak sinkron antara apa yang ada di otak, lisan, dan hati. Ketiganya harus menyatu. Sehingga terlihat begitu asik dan nyata.

Coba lihat bagaimana artis-artis ternama Hollywood memainkan peran-peran mereka. Begitu menjiwai. Seperti sungguhan. Dapat sekali feel-nya. Kalau memainkan peran sebagai dokter, tentara, supir, pembantu, presiden, dan sebagainya; mereka seolah-olah betulan jadi itu semua. Bahkan lebih berkarakter dari yang asli. Kalau memainkan karakter sedih, itu bisa membuat mata penonton seketika berurai air mata. Kalau memainkan peran antagonis, bisa membuat emosi pemirsa meledak tiba-tiba. Tidak main-main. Seperti sungguhan. Begitu hidup perannya.

Namun sekali lagi, mereka begitu menikmati, begitu mensyukuri semua peran itu. Mereka senang untuk “bermain-main” secara sungguh-sungguh dengan semua peran itu.

Jangan Salah Main Film!

Ini pesan penting dari Quran. Jangan salah main film. Jangan mengambil peran iblis dan setan. Secara “nature”, itu bukan peran kita. Bisa membinasakan. Justru, iblis dan setan menjadi lawan main kita dalam film ini. Walau kenyataannya, iblis dan setan juga ada dalam diri kita, untuk dilawan oleh sisi fitrah kita.

Menjadi presiden, gubernur, dan bupati; itu permainan. Menjadi politisi dan birokrat, itu permainan. Menjadi pengusaha, jurnalis, dan sebagainya; semuanya permainan. Semuanya lakon dan jabatan yang harus dimainkan sesuai dengan bakat dan minat masing-masing. Untuk kebaikan.

Jangan lengah. Jangan lalai. Jangan lupa diri. Jangan terjebak. Jangan terseret. Jangan terpedaya. Jangan gelap mata. Jangan korup. Jangan angkuh. Jangan zalim. Jangan menyakiti. Jangan merusak. Jangan mengganggu.

Banyak artis yang kehilangan orientasi akhirat hanya gegara mencari kemegahan dan perhiasan. Hidup seolah hanya untuk memperbanyak harta dan anak. Orientasinya berubah. Seolah-olah dunia inilah keabadian. Lupa dengan akhirat. Begitu larut dalam permainan. Sehingga menjadi rakus dan culas. Sampai lupa Tuhan.

Penutup

Itulah makna, “dunia ini permainan dan senda gurau”. Anda harus bisa memainkan semua peran kebaikan, dalam versi terbaik. Lalu Anda harus bisa tertawa, tersenyum, dan menikmati itu semua. Kita semua “digaji” Tuhan untuk menjadi artis-artisnya.

Untuk sukses dalam drama perfilman, juga agar tidak salah main film, sering-sering membaca Qur’an. Dihafal-hafal juga boleh. Yang penting dipahami, diresapi maknanya. Itu skrip filmnya. Isinya merupakan “zikir”, ingatan yang harus menyatu dalam darah daging kita. Jangan “munafik”. Jangan sampai teks film cuma nyangkut di bacaan atau hafalan saja. Harus masuk ke hati. Sehingga menjelma menjadi sebuah alur aksi dan episode permainan yang begitu nyata.

Mainkan!

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

SAID MUNIRUDDIN adalah dosen dan juga Supermaster di The Suficademic Supertraining. Sebuah lembaga training dan pengembangan diri berbasis nilai-nilai Alquran.

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kajian Lainnya

SAID MUNIRUDDIN adalah seorang akademisi, penulis, pembicara dan trainer topik leadership, spiritual dan pengembangan diri.