Lima Metode “Membaca”

Bagikan:

Jurnal Suficademic | Artikel No. 14 | Maret 2026

Lima Metode “Membaca”
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic

Bismillahirrahmanirrahim.

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ ۝١

IQRAK. Artinya “baca”. Apa yang harus dibaca?

Yang harus -dan bahkan wajib- untuk bisa dibaca adalah “ayat”. Ayat itu ada dua: Ayat Qauli (ayat tersurat, kitabi, teks Quran) dan Ayat Kauni (ayat tersirat, afaki, semua dimensi fisika dari fenomena alam semesta). Setiap “ayat”, khususnya Quran, itu punya makna berlapis. Maka dibutuhkan 5 metode berbeda untuk “membaca” setiap lapisannya:

  1. Kalimat (the words) – “reading”
  2. Ibarat (the laws & stories) – “understanding”
  3. Isyarat (the signs) – “comprehending”
  4. Maslahat (the uses) – “applicating”
  5. Hakikat (the Truth) – “becoming”

***

Pertama, Reading “Kalimat” (The Words)

Lapis terluar dari Quran misalnya; adalah huruf, kata, beserta tanda baca yang membentuk kalimat. Untuk tahap pertama, pelajari cara membaca itu semua.

Ada ilmu “reading”. Ada makharijul huruf-nya. Ada tajwid, waqaf dan ibtidak. Ada berbagai level kecepatan, serta pilihan alunan tilawah dan seni qiraahnya.

Boleh jadi kita jago baca. Tapi belum tentu paham. Boleh jadi suaranya bagus. Tapi belum tentu pemahamannya mendalam. Sebab, itu hanya cara membaca teks “level terluar”. Cara membaca “kulit” Quran.

Ya, tujuannya memang untuk membangun “reading skills”. Benar cara bacanya. Enak di dengar. Pas di telinga. Tujuannya memang secara umum untuk memuaskan dimensi inderawi semata.

Manusia punya sejumlah indera lahiriah, seperti telinga, yang terkadang juga harus dipuaskan. Ilmu bacaan Quran untuk memenuhi tuntutan itu. Begitu juga dalam bidang kaligrafi, atau ilmu tulis Quran. Secara umum hanya untuk memuaskan mata.

Selama Ramadan misalnya, kita dinasehati untuk “memperbanyak membaca Quran”. Umumnya orang memahami pesan ini pada level literal. Ada yang selama 11 bulan malas membaca teks Quran. Kini coba dia perlancar bacaan. Syukur juga kalau bisa tamat 30 juz. Bagus. Toh, itu sebuah kebaikan. Ada juga pahala yang ditawarkan. Bagi yang ingin pahala.

Kedua, Understanding “Ibarat” (The Laws and Stories)

Pertanyaan selanjutnya, kita sudah bisa “membaca” Quran. Tapi apakah kita “mengetahui” isinya?

Maka, lebih dalam lagi, Quran bukan semata kata dan kalimat. Tapi tentang “ibarat”. Ada pelajaran dari setiap kalimat, ayat, dan surat. Ada konten tauhid, syariat dan akhlak. Ada “sunnatullah”, atau law of divine nature yang mengatur kehidupan.

Ada cerita. Ada kisah. Ada riwayat. Bukan sekedar sejarah untuk enak di dengar. Tapi ada pesan tentang kehidupan. Tentang keesaan Tuhan. Tentang hukum peribadatan. Tentang perilaku. Tentang hikmah. Tentang taat tertib muamalah.

Untuk masuk ke level ini, maka kita harus mampu membaca “arti” dari Quran. Arti dari kata dan kalimat. Diperlukan sedikit kecerdasan akal. Harus punya kemampuan intelektual. Sebab, Anda sudah masuk ke wilayah “understanding”: memahami, memaknai, dan mengambil pelajaran.

Boleh jadi, ada orang yang tidak bisa atau kurang lancar membaca teks arab dari Qur’an. Tapi memahaminya karena rajin menelaah artinya. Mungkin kurang kecerdasannya di level satu. Tapi kuat di level dua. Maka jangan heran, jika ada orang yang kurang bahkan tidak bisa membaca Quran, tapi lebih “beragama” daripada yang sekedar jago membaca.

Maka kita lihat, ada juga yang selama Ramadan coba mengkaji kembali makna-makna ayat dalam Quran. Ia ingin pemahaman keagamaannya menjadi lebih baik. That is good. Beberapa intelektual suka dengan tradisi kajian dan diskusi semacam itu. Salah satu tujuan banyaknya ceramah atau tausiyah selama Ramadan adalah untuk itu.

Ketiga, Comprehending “Isyarat” (The Signs)

Pertanyaan selanjutnya, kita mengetahui makna ayat. Tapi apakah kita telah sampai kepada level bashirah: kemampuan “melihat” atau “menyaksikan” jiwanya?

Sejumlah orang memperlakukan Quran sebagai buku grammar serta manual “do’s and dont’s”. Ini halal. Itu haram. Cerita ini. Cerita itu. Mereka berdiri di pinggir pantai sambil mengamati permukaan lautan.

Padahal, Quran adalah lautan yang memiliki kedalaman yang beragam. Justru di dalamnya terpendam mutiara dan berbagai khazanah “rahasia”.

Jika pembacaan Quran terhenti di lapisan ini, maka kita hanya akan menjadi manusia “relijius”. Manusia yang sibuk dengan ritual. Sebab, Quran pada level ini hanya tentang cara bicara, cara minum, cara makan. Semuanya tentang “kecerdasan fisik”. Kita tidak akan menjadi manusia “spiritual-intelektual”. Yang ruhani dan mentalnya juga cerdas.

Nabi mengatakan, setiap ayat punya makna literal, sisi tersembunyi, dan titik untuk terhubung dengan Tuhan. Maka dibutuhkan keterjagaan spiritual-intelektual untuk masuk ke setiap lapisnya. Ke kedalaman Quran.

Pada tahap ini, Quran harus diterjemahkan kembali melampaui makna-makna lahiriah. Ada tafsir “isyari” (filosofis-spiritual).

Ketika Quran bicara gelap dan cahaya, Dia tidak sedang bicara suasana malam dan siang. Dia sedang menjelaskan tentang kehadiran “Energy Ilahi” dalam qalbu manusia. Disaat ia bercerita tentang Fir’aun, Dia tidak sedang menjelaskan Fir’aun yang hidup 3000 tahun lalu. Dia sedang berbicara kita semua sebagai makhluk penuh ego, yang selalu ingin menuhankan diri. Kata, kalimat dan cerita dalam Quran, pada level “isyarat” bersifat maknawi (metaforis). Ia membawa signifikansi personal metodologikal dalam proses pencerahan spiritual atau perjalanan menuju Tuhan.

Kenyataannya, banyak orang yang merasa rindu dengan Tuhan, Sang Pemilik Quran. Mereka ingin “berjumpa” dengan-Nya. Mereka ingin beragama melampaui skrip dan pemahaman. Melampaui sisi lahiriah tekstual. Melampaui level kecerdasan intelektual.

Lalu dia ‘meninggalkan’ teks mushaf dan kajian-kajian. Kemudian masuk dalam sebuah ruang inkubasi. Mereka pergi menyendiri. Berkhalwat di ruang-ruang sunyi. Mereka mencari pencerahan-pencerahan yang lebih maknawi.

Selama proses inilah, mereka mengambil satu atau dua potong kata dan kalimat, untuk internalisasi selama 10, 40 atau 40 hari di kedalaman kesadaran. Mereka memanggil-manggil Tuhan dengan berwasilah kepada elemen “Azzikra” dari Quran.

Lalu apa yang terjadi?

Pada jangka waktu tertentu, “lataif”-nya terbuka. Sinyal-sinyal ketuhanan hadir ke dalam berbagai lapisan kesadaran. Ada “suara”. Ada “penglihatan”. Ada “keterbukaan”. Hatinya tergetar. Air matanya bercucuran.

Ada Gelombang ilahi bermunculan. Ada vibrasi ilham yang berdatangan. Ia mulai menangkap “the signs”, pesan-pesan keilmuan secara langsung dari sisi Tuhan. Frekuensi spiritualnya mulai tajam.

Ini bukan mengada-ada. Sebab, Tuhan berkata dalam ayat tentang Ramadan (Al-Baqarah: 186), “Aku dekat”. Berarti, metode tertentu dari “membaca” Quran bisa membawa seseorang dekat dengan gelobang ketuhanan. Para sufi secara khas (khawash) mengamalkan metode Qurani ini selama Ramadan. Ini cara “membaca” (ruh/jiwa) Quran lewat rasa. Dengan cara “mengalami” (experiencing).

Jadi jangan cemburu, kalau Anda melihat ada orang yang sekilas kita ketahui tidak jago dalam membaca kitab dan tidak begitu mengerti agama, tapi “karamah”-nya tinggi. Mereka tidak berada di “surface” dari Quran. Jiwanya ada di kedalaman Quran.

Keempat, Applicating “Maslahat” (The Uses)

Itu kasus bagaimana para spiritualis memahami “isyarat” dari Quran. Dari proses ini, lahir rasa kedekatan dengan Tuhan.

Tapi beragama tidak ‘terjebak’ pada dekat dengan Tuhan saja. Melainkan bagaimana membawa rasa ketuhanan dan kemanfaatan dirinya ke tengah umat manusia. Al-Quran harus dapat dibumikan pada berbagai dimensi kehidupan yang dapat memajukan dan mensejahterakan manusia.

Maka kemudian ada sekelompok spiritualis-intelektual yang coba mendalami lebih lanjut berbagai “isyarat” tentang berbagai ontologi yang terkandung dalam Quran. Tentang manusia, masyarakat dan alam. Mereka membawa pesan-pesan Quran ke dalam laboratorium penelitian. Ssetelah sekian lama, mereka keluar dengan membawa rumus-rumus baru matematika, kimia, fisika, optika, astronomi, kedokteran, ekonomi, sejarah, musik, dan sebagainya.

Itulah yang terjadi sejak 200 tahun setelah Quran turun. Lahir ilmuan-ilmuan muslim dengan berbagai pengetahuan yang mengguncang dunia. Ada Ibnu Sina (kedokteran), Al-Khawarizmi (matematika/aljabar), dan Ibnu al-Haytham (formula sains dan optik), Al-Zahrawi (ilmu bedah dan teknik pengobatan), Jabir bin Hayyan (kimia eksperimental/teknik destilasi dan kalsinasi), Al-Razi (ilmu klinis/ahli alergi dan imunologi), Ibnu Khaldun (sosiologi, historiografi, dan ekonomi), Al-Jazari (teknik mekanik, robotika modern, dan hidrolik), Abbas bin Firnas (teknik penerbangan), Al-Idrisi (geografer dan kartografer), Al-Kindi (musik dan kedokteran), dan lainnya.

Mereka itu para spiritualis, sangat dekat dengan Quran, sekaligus pelopor sains masa keemasan Islam. Karya-karya mereka mendasari sains modern. Ilmu-ilmu mereka lahir dari kemampuan membaca “ayat-ayat”: kauni dan Qauli. Mereka tidak ‘terjebak’ pada bentuk teks suci an sich. Mereka bisa masuk lebih dalam untuk membaca “isyarat”. Lalu hadir ke tengah manusia untukmembawa maslahat. Quran telah menjadi sains yang bermanfaat.

Hari ini, mungkin cuma Iran yang terlihat nyata membawa maslahat bagi umat. Muslim persia tidak berhenti pada level membaca dan menghafal Quran saja. Tapi mampu menerjemahkan ayat secara lebih rasional dalam berbagai bidang sains, termasuk kedokteran dan militer. Hanya muslim Iran yang juga punya kesadaran spiritual untuk merudal Israel dengan teknologinya. Bangsa Arab lain, walau terkenal jago membaca dan menghafal Quran, tak mampu menembakkan walau hanya sebutir peluru ke arah musuh-musuh Islam.

Keislaman kita sering tidak membawa maslahat bagi saudara-saudara kita yang tertindas. Keislaman yang terhenti pada level kalimat, ibarat, dan isyarat; itu hanya mampu menyelamatkan perut sendiri. Tidak untuk membawa manfaat bagi manusia lain. Padahal, kata Nabi SAW: “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi yang lain”. Karenanya, membaca ayat harus sampai pada level aksiologis maslahat.

Kelima, Becoming “Hakikat” (The Truth)

Ketika metode rasional-sufistik di atas diulang-ulang, maka kesadaran seseorang bisa terus membumbung. Sampai ia menyatu dengan energi, cahaya, atau gelombang ketuhanan. Seseorang yang terus berpikir, berjihad dan membawa maslahat kepada umat manusia, pada akhirnya akan semakin dekat dengan Tuhan.

Pada satu titik, mereka akan “syahid”. Syahid artinya lebur kesadarannya dalam penyaksian terhadap Tuhan. Sebab, tidak ada lagi ego personal. Semua pengabdiannya hanya untuk Tuhan. Pada titik puncaknya, akan seperti yang dialami Musa as; “gunung” egonya hancur. Ia akan pingsan, fana, atau lebur dalam hakikat ketuhanan. Ia telah “becoming”, menjadi Insan yang sempurna, menjadi Ruh atau Kalam Tuhan (Ruhullah/Kalamullah). Ruhnya “menyatu” dalam logos ketuhanan. Mereka telah menjadi “Quran”. Menjadi Ayatullah.

Kalaupun mati betulan, itu juga “mati syahid”. Maka sangat unik ketika menyaksikan para pemimpin, ilmuan dan jenderal-jenderal Republik Islam Iran yang tidak takut mati ketika sedang berperang melawan zionis. Kematian justru mereka anggap sebagai sosok kekasih yang sedang ditunggu untuk datang. Inna shalati, wa nusuki, wa mahyaya, wa mamati, lillahi rabbil ‘alamin.

Penutup

Sekarang coba tinggal kita ambil pelajaran. Apakah kita rajin “membaca” ayat atau Quran? Jika iya, “bacaan” pada level mana yang sedang kita asah? Apakah masih pada level “reading skill” (words), “understanding skill” (laws and stories), “comprehending skill” (meanings and feelings), “applicating skill” (products, services and innovations), atau “becoming skills” (syahadah dan penyatuan dengan Tuhan)?

Itulah metode “Iqrak” dalam 5 jenjang. “Membaca” segala sesuatu (termasuk Quran), dari pola sederhana, sampai benar-benar terhubung dengan Tuhan.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

Bagikan:

34 thoughts on “Lima Metode “Membaca”

  1. **back biome**

    Backbiome is a naturally crafted, research-backed daily supplement formulated to gently relieve back tension and soothe sciatic discomfort.

  2. **prostafense**

    ProstAfense is a premium, doctor-crafted supplement formulated to maintain optimal prostate function, enhance urinary performance, and support overall male wellness.

  3. **prodentim**

    ProDentim is a distinctive oral-care formula that pairs targeted probiotics with plant-based ingredients to encourage strong teeth, comfortable gums, and reliably fresh breath.

  4. **neurosharp**

    Neuro Sharp is a modern brain-support supplement created to help you think clearly, stay focused, and feel mentally confident throughout the day.

  5. **nerve calm**

    NerveCalm is a high-quality nutritional supplement crafted to promote nerve wellness, ease chronic discomfort, and boost everyday vitality.

  6. HeroUP is a premium mens wellness formula designed to support sustained energy, physical stamina, and everyday confidence.

  7. Prosta Peak is a high-quality prostate wellness supplement formulated with a comprehensive blend of 20+ natural ingredients and essential nutrients to support prostate health

  8. ProDentim is a distinctive oral-care formula that pairs targeted probiotics with plant-based ingredients to encourage strong teeth, comfortable gums, and reliably fresh breath.

  9. Mitolyn is a carefully developed, plant-based formula created to help support metabolic efficiency and encourage healthy, lasting weight management.

  10. PurDentix is a revolutionary oral health supplement designed to support strong teeth and healthy gums. It tackles a wide range of dental concerns

  11. AquaSculpt is a high-quality metabolic support supplement created to help the body utilize fat more efficiently while maintaining steady, reliable energy levels throughout the day.

  12. Boostaro is a purpose-built wellness formula created for men who want to strengthen vitality, confidence, and everyday performance.

  13. Maintaining prostate health is crucial for men’s overall wellness, especially as they grow older. Conditions like reduced urine flow, interrupted sleep

  14. Arialief is a carefully developed dietary supplement designed to naturally support individuals dealing with sciatic nerve discomfort while promoting overall nerve wellness.

  15. InsuLeaf is a high-quality, naturally formulated supplement created to help maintain balanced blood glucose, support metabolic health, and boost overall vitality.

  16. ProstAfense is a premium, doctor-crafted supplement formulated to maintain optimal prostate function, enhance urinary performance, and support overall male wellness.

  17. NerveCalm is a high-quality nutritional supplement crafted to promote nerve wellness, ease chronic discomfort, and boost everyday vitality.

  18. Prostadine concerns can disrupt everyday rhythm with steady discomfort, fueling frustration and a constant hunt for dependable relief.

  19. GL Pro is a natural dietary supplement formulated to help maintain steady, healthy blood sugar levels while easing persistent sugar cravings.

  20. AquaSculpt is a high-quality metabolic support supplement created to help the body utilize fat more efficiently while maintaining steady, reliable energy levels throughout the day.

  21. Backbiome is a naturally crafted, research-backed daily supplement formulated to gently relieve back tension and soothe sciatic discomfort.

  22. ViriFlow is a dietary supplement formulated to help maintain prostate, bladder, and male reproductive health. Its blend of plant-based ingredients is designed to support urinary comfort and overall wellness as men age.

  23. Visium Pro is an advanced vision support formula created to help maintain eye health, sharpen visual performance, and provide daily support against modern challenges such as screen exposure and visual fatigue.

  24. I found this polished without feeling too formal. It has the same nice balance as makeup beauty routine that uses eyeshadow lid color for depth and foundation coverage base for stability while cosmetic makeup-related choices keep the eyes features interested. The final effect is smooth and memorable, like the right lipstick lip color at the right moment. Strong makeup beauty routine voice.

Leave a Reply to boostaro Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Kenapa Mahasiswa Bernilai "D" Cenderung Lebih Sukses?

Sun Mar 15 , 2026
Jurnal

Kajian Lainnya

SAID MUNIRUDDIN adalah seorang akademisi, penulis, pembicara dan trainer topik leadership, spiritual dan pengembangan diri.