Jurnal Suficademic | Artikel No. 12 | Maret 2026
Ramadan dan Empat Cara “Membaca” Qur’an
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic
Bismillahirrahmanirrahim.
IQRAK. Artinya “baca”, dalam makna berlapis. Ada 4 lapisan Quran. Maka dibutuhkan 4 metode berbeda untuk “membaca” setiap lapisannya:
- Kalimat (the words) – “reading”
- Ibarat (the laws & stories) – “understanding”
- Isyarat (the signs) – “experiencing”
- Hakikat (the Truth) – “becoming”
***
Pertama, “kalimat” (the words)
Lapis terluar Quran adalah huruf, kata, beserta tanda baca yang membentuk kalimat. Untuk tahap pertama, pelajari cara membaca itu semua.
Ada ilmu “reading”. Ada makharijul hurufnya. Ada tajwid, waqaf dan ibtidak. Ada berbagai level kecepatan, serta pilihan alunan tilawah dan seni qiraahnya.
Boleh jadi kita jago baca. Tapi belum tentu paham. Boleh jadi suaranya bagus. Tapi belum tentu pemahamannya mendalam. Sebab, itu hanya cara membaca teks “level terluar”. Cara membaca “kulit” Quran.
Ya, tujuannya memang untuk membangun “reading skills”. Benar cara bacanya. Enak di dengar. Pas di telinga. Tujuannya memang secara umum untuk memuaskan dimensi inderawi semata.
Manusia punya sejumlah indera lahiriah, seperti telinga, yang terkadang juga harus dipuaskan. Ilmu bacaan Quran untuk memenuhi tuntutan itu. Begitu juga dalam bidang kaligrafi, atau ilmu tulis Quran. Secara umum hanya untuk memuaskan mata.
Selama Ramadan, kita dinasehati untuk “memperbanyak membaca Quran”. Umumnya orang memahami pesan ini pada level literal. Ada yang selama 11 bulan malas membaca teks Quran. Kini coba dia perlancar bacaan. Syukur juga kalau bisa tamat 30 juz. Bagus. Toh, itu sebuah kebaikan. Ada juga pahala yang ditawarkan. Bagi yang ingin pahala.
Kedua, “ibarat” (the laws and stories)
Pertanyaan selanjutnya, kita “membaca” Quran. Tapi apakah kita “mengetahui” isinya?
Maka, lebih dalam lagi, Quran bukan semata kata dan kalimat. Tapi tentang “ibarat”. Ada pelajaran dari setiap kalimat, ayat, dan surat. Ada konten tauhid, syariat dan akhlak. Ada “sunnatullah”, atau law of divine nature yang mengatur kehidupan.
Ada cerita. Ada kisah. Ada riwayat. Bukan sekedar sejarah untuk enak di dengar. Tapi ada pesan tentang kehidupan. Tentang keesaan Tuhan. Tentang hukum peribadatan. Tentang perilaku. Tentang hikmah. Tentang muamalah.
Untuk masuk ke level ini, maka kita harus mampu membaca “arti” dari Quran. Arti dari kata dan kalimat. Diperlukan sedikit kecerdasan akal. Harus punya kemampuan intelektual. Sebab, Anda sudah masuk ke wilayah “understanding”: memahami, memaknai, dan mengambil pelajaran.
Boleh jadi, ada orang yang tidak bisa atau kurang lancar membaca teks arab dari Qur’an. Tapi memahaminya. Karena rajin menelaah artinya. Mungkin kurang kecerdasannya di level satu. Tapi kuat di level dua. Maka jangan heran, jika ada orang yang kurang bisa membaca Quran, tapi lebih “beragama” dari pada yang sekedar jago membaca.
Maka kita lihat, ada juga yang selama Ramadan coba mengkaji kembali makna-makna ayat dalam Quran. Ia ingin pemahaman keagamaannya menjadi lebih baik. That is good. Beberapa intelektual suka dengan tradisi kajian dan diskusi semacam itu. Salah satu tujuan banyaknya ceramah atau tausiyah selama Ramadan adalah itu.
Ketiga, “isyarat” (the signs)
Pertanyaan selanjutnya, kita mengetahui makna ayat. Tapi apakah kita telah sampai kepada level bashirah: kemampuan “melihat” atau “menyaksikan” jiwanya?
Sejumlah orang memperlakukan Quran sebagai buku grammar serta manual “do’s and dont’s”. Ini halal. Itu haram. Cerita ini. Cerita itu. Mereka berdiri di pinggir pantai sambil mengamati permukaan lautan.
Padahal, Quran adalah lautan yang memiliki kedalaman yang beragam. Justru di dalamnya terpendam mutiara dan berbagai khazanah “rahasia”.
Jika pembacaan Quran terhenti di lapisan ini, maka kita hanya akan menjadi manusia “relijius”. Manusia yang sibuk dengan ritual. Sebab, Quran pada level ini hanya tentang cara bicara, cara minum, cara makan. Semuanya tentang “kecerdasan fisik”. Kita tidak akan menjadi manusia “spiritual”. Yang ruhaninya juga cerdas.
Nabi mengatakan, setiap ayat punya makna literal, sisi tersembunyi, dan titik untuk terhubung dengan Tuhan. Maka dibutuhkan keterjagaan spiritual untuk masuk ke setiap lapisnya. Ke kedalaman Quran.
Pada tahap ini, Quran harus diterjemahkan kembali melampaui makna-makna lahiriah. Ada tafsir “isyari”.
Ketika Quran bicara gelap dan cahaya, Dia tidak sedang bicara suasana malam dan siang. Dia sedang menjelaskan tentang kehadiran “Energy Ilahi” dalam qalbu manusia. Disaat ia bercerita tentang Fir’aun, Dia tidak sedang menjelaskan Fir’aun yang hidup 3000 tahun lalu. Dia sedang berbicara kita semua sebagai makhluk penuh ego, yang selalu ingin menuhankan diri. Kata, kalimat dan cerita dalam Quran, pada level “isyarat” bersifat maknawi (metaforis). Ia membawa signifikansi personal metodologikal dalam proses pencerahan spiritual atau perjalanan menuju Tuhan.
Kenyataannya, banyak orang yang merasa rindu dengan Tuhan, Sang Pemilik Quran. Mereka ingin “berjumpa” dengan-Nya. Mereka ingin beragama melampaui skrip dan pemahaman. Melampaui sisi lahiriah tekstual. Melampaui level kecerdasan intelektual.
Lalu dia ‘meninggalkan’ teks mushaf dan kajian-kajian. Kemudian masuk dalam sebuah ruang inkubasi. Mereka pergi menyendiri. Berkhalwat di ruang-ruang sunyi. Mereka mencari pencerahan-pencerahan yang lebih maknawi.
Selama proses inilah, mereka mengambil satu atau dua potong kata dan kalimat, untuk internalisasi selama 10, 40 atau 40 hari di kedalaman kesadaran. Mereka memanggil-manggil Tuhan dengan berwasilah kepada elemen “Azzikra” dari Quran.
Lalu apa yang terjadi?
Pada jangka waktu tertentu, “lataif”-nya terbuka. Sinyal-sinyal ketuhanan hadir ke dalam berbagai lapisan kesadaran. Ada “suara”. Ada “penglihatan”. Ada “keterbukaan”. Hatinya tergetar. Air matanya bercucuran.
Ada Gelombang ilahi bermunculan. Ada vibrasi ilham yang berdatangan. Ia mulai menangkap “the signs”, pesan-pesan keilmuan secara langsung dari sisi Tuhan. Frekuensi spiritualnya mulai tajam.
Ini bukan mengada-ada. Sebab, Tuhan berkata dalam ayat tentang Ramadan (Al-Baqarah: 186), “Aku dekat”. Berarti, metode tertentu dari “membaca” Quran bisa membawa seseorang dekat dengan gelobang ketuhanan. Para sufi secara khas (khawash) mengamalkan metode Qurani ini selama Ramadan. Ini cara “membaca” (ruh/jiwa) Quran lewat rasa. Dengan cara “mengalami” (experiencing).
Jadi jangan cemburu, kalau Anda melihat ada orang yang sekilas kita ketahui tidak jago dalam membaca kitab dan tidak begitu mengerti agama, tapi “karamah”-nya tinggi. Mereka tidak berada di “surface” dari Quran. Jiwanya ada di kedalaman Quran.
Keempat, “hakikat” (the Truth)
Ketika metode sufistik di atas diulang-ulang, maka kesadaran seseorang bisa terus membumbung. Sampai ia menyatu dengan energi, cahaya, atau gelombang ketuhanan.
Pada titik puncaknya, akan seperti yang dialami Musa as; “gunung” egonya hancur. Ia akan pingsan, fana, atau lebur dalam hakikat ketuhanan. Ia telah “becoming” sebagai Insan yang sempurna, menjadi Ruh atau Kalam Tuhan (Ruhullah/Kalamullah). Ruhnya “menyatu” dalam logos ketuhanan. Mereka telah menjadi “Quran”.
Untuk mencapai level ‘kematian’ diri semacam ini, sehingga Ruh Quran bisa turun dan aktual dalam jiwa (Alqadar: 4), dibutuhkan praktik puasa yang sangat ketat. Inilah salah satu signifikansi Ramadan. Jika ditempuh lewat metodologi tertentu, bisa menjangkau kesadaran Quran.
Pengalaman “khusus diatas khusus” (khawash lil khawash) ini lebih banyak dialamatkan kepada Nabi dan wali-wali Nya. Sebab, mereka semua adalah wujud dari Quran itu sendiri. Mereka itulah Quran.
Penutup
Sekarang coba tinggal kita ambil pelajaran. Selama Ramadhan, apakah kita rajin “membaca” Quran?
Jika iya, “bacaan” pada level mana yang sedang kita asah? Apakah level “reading skills”, “understanding skills”, “experiencing skills”, atau “becoming skills”?
Ingat. Ramadan adalah bulan “turunnya” Quran (Al-Baqarah: 185).
Pertanyaannya, level Quran mana yang mampu kita tangkap kehadirannya selama Ramadan:
- Teks Quran (words)
- Arti dari teks Quran (meanings)
- Rasa yang dalam dari Quran (feelings)
- Hakikat dari Quran (Tuhan)?
Karena Ramadan adalah bulan “turunnya” Quran, maka Quran harus “turun” ke dalam diri kita. Jika tidak, puasa kita gagal. Gagal menjadi orang yang bertaqwa. “Muttaqin” adalah orang-orang yang merasakan kehadiran Quran, kehadiran Tuhan dalam diri.
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****
