Kenapa Mahasiswa Bernilai “D” Cenderung Lebih Sukses?

Bagikan:

Jurnal Suficademic | Artikel No. 15 | Maret 2026

Kenapa Mahasiswa Bernilai “D” Cenderung Lebih Sukses?
Oleh Said Muniruddin

Bismillahirrahmanirrahim.

ADA dosen yang tidak pernah memaksa mahasiswanya untuk mendapatkan nilai “A”. Mereka malah heppi-heppi saja kalau mahasiswanya mendapatkan nilai “D”. Sebab mereka tau, mahasiswa yang bernilai “D” cenderung lebih sukses dalam karirnya.

Kok bisa?

Mahasiswa yang mendapatkan nilai “D” itu sangat cerdas, paling tidak untuk tau bahwa dirinya tidak cukup cerdas saat di kelas. Jadi mereka menjadi suka bertanya, berhimpun, berorganisasi, berkoneksi, atau paling tidak menyontek dengan orang-orang cerdas lainnya. Mahasiswa dengan nilai “D” tau bahwa mereka butuh bantuan dan jaringan.

Sementara, mahasiswa yang mendapat nilai “A” mungkin mengira mereka paling cerdas, paling tau segalanya. Karena sudah berada di atas, mereka lupa cara berbaur ke bawah. Lupa ngopi. Sibuk di pustaka. Sibuk dengan PR-nya.

Mahasiswa bernilai “D” sering tidak peduli dengan aturan. Dalam kesempitan, mereka mencari kesempatan. Karena itu mereka lebih sukses. Coba lihat politisi, umumnya bernilai “D” saat kuliah. Mereka tidak terikat aturan. Bahkan aturan pun akan diubah, kalau dianggap sudah tidak lagi sesuai dengannya.

Berbeda dengan mahasiswa bernilai “A”. Hidupnya terikat standar dan aturan. Manut pada SOP. Patuh pada sistem permainan. Tidak berani berimprovisasi atau melawan. Mahasiswa seperti ini menunggu izin untuk dipersilahkan.

Mahasiswa dengan nilai “D” lebih berani mengambil resiko. Mereka berani menjual sesuatu yang bahkan mereka belum punya. Itulah yang dilakukan oleh mahasiswa bernilai “D” sepanjang hari. Mereka bolos kuliah, karena sibuk jualan. Sementara, mahasiswa bernilai “A” suka mengkaji sesuatu sampai perfek, sebelum melaksanakannya.

Mahasiswa bernilai “D” menjual sesuatu dan mencari bagaimana cara mengembangkan. Mereka terlalu sibuk mencari uang, daripada belajar untuk memperbaiki nilai. Sementara, mahasiswa bernilai “A” sering terlambat berpikir bagaimana cara mendapatkan uang. Karena larut dengan hafalan.

Mereka yang bernilai “A” mungkin banyak yang jadi dosen, dan hidup miskin atau pas-pasan. Padahal mereka jago bicara dan tau semuanya. Mereka yang bernilai “D”, kerjanya diam dan rata-rata jadi pengusaha. Bahkan mereka yang bernilai “A” ikut melamar menjadi pegawainya. Ikut bekerja mencari uang untuknya.

Jangan heran, diperkuliahan Anda dapat nilai “A”. Lalu menjadi doktor dan profesor dari mana-mana. Tapi nanti akan bekerja dengan orang yang hampir tidak lulus kuliah. Jadi tim sukses mereka, dan mencari proyek dari orang-orang yang banyak nilai “D”-nya. Sebab, mereka yang menguasai pundi-pundi keuangan negara.

Paling tidak, itulah yang kita pelajari dari sistem perkuliahan. Kampus hanya menghargai mahasiswa yang bisa menjawab soal dan kuat hafalan. Sementara dunia bisnis hanya menghargai aksi dan kemampuan bertahan dalam menghadapi kenyataan.

Mahasiswa bernilai “A”, lebih cerdas. Tapi yang bernilai “D”, lebih cerdik. Kampus hanya menghargai yang cerdas. Sedangkan dunia di luar kampus menunggu orang-orang cerdik.

Orang-orang kaya yang kita kenal, umumnya orang-orang bernilai “D”. Mungkin telat dan bahkan ada yang tidak tamat kuliah. Mereka gagal dalam ujian akhir semester. Tapi sukses dalam ujian kehidupan. That is life!

Kesimpulannya, kalau Anda tidak cerdas, berusahalah untuk cerdik. Dan jangan jadi orang “bodoh”. Yaitu, orang yang gagal sejak di bangku kuliah sampai ke bangku kehidupan.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

PENULIS adalah Dosen FEB Universitas Syiah Kuala, Rector The Suficademic Supertraining.

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kajian Lainnya

SAID MUNIRUDDIN adalah seorang akademisi, penulis, pembicara dan trainer topik leadership, spiritual dan pengembangan diri.