TAHUN BARU, HAKIKAT USIA DAN LEMBARAN SYAHADAH

Bagikan:

Jurnal Suficademic | Artikel No. 01 | Januari 2024

TAHUN BARU, HAKIKAT USIA DAN LEMBARAN SYAHADAH
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM. Beberapa filsuf mengatakan bahwa “masa hidup” tidak diukur dengan tahun, yang berarti tahun yang dihasilkan dari hasil orbit bumi terhadap matahari. Melainkan dengan jumlah “sa’ah/saat” (waktu) yang telah dimanfaatkan seseorang dalam hidupnya. Singkatnya, nilai usia tergantung pada seberapa sering seseorang menyaksikan wujud Allah dalam setiap gerak yang dibangunnya. Sebab, tujuan hidup adalah “perjumpaan”.

Meskipun Anda dapat mencapai usia 100 tahun secara numerik; pengalaman hidup (khususnya pengalaman perjumpaan) sebenarnya dapat diringkas menjadi hanya beberapa tahun, bulan, minggu, hari dan bahkan jam saja; dalam skala sebenarnya. Sesaat saja seseorang bisa melihat Wajah Allah, itu lebih baik dari 40 tahun beribadah tanpa rasa kehadiran. Sejenak menyaksikan Allah, itu lebih mulia daripada usia 1000 bulan rukuk sujud siang malam, yang sebenarnya itu tidak lebih dari sekedar mengikuti arah dan posisi matahari.

Tuhan kita bukan matahari. Karena itu, usia seseorang tidak diukur dari lama periode dia mengitari matahari. Rabb kita adalah Allah. Usia hakiki diukur dari kemampuan kita mengorbit Wujud-Nya. Karena itulah Ibrahim as menjadi kekasihnya. Hidupnya tidak dilekatkan pada benda-benda langit semata. Melainkan pada kemampuan untuk menghadapkan wajahnya kepada Allah. “Inni wajjahtu wajhiya lilladzi fatharassamawati wal-ardh”.

Itulah “syahid”, kemampuan menyaksikan wujud Allah. Sejenak saja Anda mampu melihatnya, akan menghapus semua dosa. Karena itu, syahid dijanjikan surga. Cara tercepat ke surga adalah dengan syahid. Keseluruhan nilai hidup terletak pada kesyahidan. Sebab, tujuan hidup ini sebenarnya sangat sederhana: untuk berjumpa, untuk menyaksikan Wajah-Nya. Syahid adalah model hidup, sekaligus model kematian terbaik. Tidak peduli berapa lama usia Anda, yang penting “syahid”. Semakin cepat, semakin baik. Tidak perlu takut mati. La takhaf wa la tahzan!

Dari sini kita mulai paham. Kenapa para pejuang Hamas, Ansharullah, Hizbullah dan gerakan jihad lainnya itu semakin lama semakin kuat. Sebab, mereka tidak mengukur usia pada lama periode bumi melakukan tawaf terhadap matahari. Melainkan, pada seberapa mampu jiwa mereka bisa mengorbiti poros Tuhannya. Keberkahan usia diukur pada pengabdian yang dapat mempertemukan mereka dengan Tuhan. Orang-orang seperti ini telah kehilangan semua dalam hidupnya, kecuali keberanian untuk menemui Tuhan.

Ketika Israel, NATO dan kekuatan setan lainnya bertempur untuk ide-ide liberalisme dan kapitalisme (cinta dunia/takut mati), seorang mujahidin sejati justru berjuang untuk memperoleh keridhaan Tuhan. Tanpa sadar, zionisme terus berperang untuk membangun lobang gelap kematian untuk dirinya sendiri. Sementara para pejuang muqawama justru sedang menciptakan sejatinya sebuah kehidupan. Dunia akan diwariskan kepada orang-orang shaleh di muka bumi.

Tidak ada yang bisa mengalahkan orang-orang yang berjuang untuk Tuhan. Mereka tidak bisa ditakuti. Mereka tidak bisa disuap. Berbeda dengan kita dan masyarakat kita, dikasih uang seratus ribu saja, bisa berubah pikiran saat Pemilu. Kita sudah cenderung mengabdikan hidup untuk menyembah (mengitari) matahari, sambil terus mengumpulkan pundi-pundi. Kita hanya terdorong untuk mengejar materi. Kepercayaan kepada Allah hanya formalitas saja.

Itulah pelajaran, dari banyak pelajaran, yang dapat kita ambil dari para pejuang di Palestina. Hidup bukan lagi untuk mengejar deret usia dalam kebutaan nurani. Hidup adalah perjalanan, untuk sesegera mungkin menemui “kesyahidan”. Untuk menyaksikan Tuhan, dalam setiap gerak langkah pekerjaan.

Selamat tahun baru 2024 masehi. Semoga kita semua dibukakan mata untuk senantiasa menyaksikan Allah dan Rasulnya pada setiap lembaran tahun, bulan, minggu, hari dan jam-jam akan datang. “Asyhadu anla ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah“. Pergantian waktu, apakah itu dalam penanggalan masehi ataupun hijriah, mesti ditindaklanjuti dengan memperbaharui komitmen syahadah dalam setiap gerak keislaman kita. Resolusi terbaik dalam setiap pergantian tahun adalah untuk “syahid”, memiliki lembaran-lembaran syahadah (perjumpaan dan kehadiran Allah) pada setiap waktu yang akan kita lalui.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.

SAID MUNIRUDDIN | The Suficademic
Web: 
sayyidmuniruddin.com
TikTok: tiktok.com/@saidmuniruddin
IG: instagram.com/saidmuniruddin/
YouTube: youtube.com/c/SaidMuniruddin
Facebook: facebook.com/saidmuniruddin/
Facebook: facebook.com/Habib.Munir/
Twitter-Xx.com/saidmuniruddin
Channel WA: The Suficademic
Join Grup WA: The Suficademic-1
Join Grup WA: The Suficademic-2

Bagikan:

3 thoughts on “TAHUN BARU, HAKIKAT USIA DAN LEMBARAN SYAHADAH

  1. Với chiến lược phát triển dài hạn, tai xn88 đầu tư mạnh vào nội dung và công nghệ, mang đến môi trường cá cược hiện đại, phù hợp xu hướng giải trí trực tuyến hiện nay. TONY02-11O

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

DUA PERILAKU ORANG BAHAGIA

Wed Jan 3 , 2024
Jurnal

Kajian Lainnya

SAID MUNIRUDDIN adalah seorang akademisi, penulis, pembicara dan trainer topik leadership, spiritual dan pengembangan diri.