“Manusia Digital”: Cerdas Lewat Sinyal

Bagikan:

Jurnal Suficademic | Artikel No. 23 | Mei 2026

“Manusia Digital”: Cerdas Lewat Sinyal Sinyal
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic

Bismillahirrahmanirrahim.

MANUSIA sama seperti handphone (HP), personal computer (PC), atau perangkat elektronik lainnya. Kita ini hanya kumpulan komponen, organ, atau perangkat keras (hardware) yang aslinya memang tanpa daya.

HP, PC dan semua peralatan itu baru hidup kalau diberi “nyawa”. Nyawanya adalah arus listrik. Arus ini merupakan gelombang dasar yang mengalir dalam organ, bisa putus kapan saja, dan secara alamiah akan habis kalau sudah berakhir waktunya.

Dan yang lebih penting lagi, semua gadget ini baru akan bernilai dan berfungsi ketika terunduh “sofware” di dalamnya. Bagi orang kantoran misalnya, ada perangkat lunak dasar yang sering digunakan dalam memecahkan persoalan. Seperti Word, Excel, dan PPT. Bagi pengolah data lanjutan; ada SPSS, EViews, Python, dan lainnya.

Perangkat lunak ini disebut “akal”, atau basic intelligence yang bekerja untuk mengoperasikan dunia kita. Lewat software akal inilah berbagai data yang diterima oleh perangkat keras dapat diolah dan dipahami secara logis guna pengambilan keputusan. Banyak masalah keseharian yang secara sistematis dapat diselesaikan melalui software yang sudah terinstall sejak kita beli. Software akal yang ada dalam diri kita fungsinya untuk itu.

***

Jadi, kekuatan “nyawa” adalah energi bawaan sejak lahir. Ada koneksi tak terlihat antara kita dengan sumber arus, sehingga kita terus hidup. Sedangkan software “akal” menjadi alat bagi kita untuk berpikir, mengetahui, dan berimajinasi. Menjadi rasional dan mandiri. Tanpa ini, kita manusia akan menjadi hewan. Kalau tujuan hidup kita hanya untuk sekedar hidup di atas dimensi hewan, maka sudah memadai dengan elemen nyawa dan akal.

Tapi, untuk menjalani hidup yang “tercerahkan”, seseorang harus terhubung dengan dunia yang tidak terbatas. Untuk mengalami pencerahan, seseorang harus memiliki akses yang cepat dan mudah dengan pusat-pusat pengetahuan. Anda harus mengalami transendensi. Anda harus punya “koneksi”. Perangkat elektronik Anda harus menemukan sinyal. Anda harus terintegrasi dengan sumber-sumber pengetahuan di luar diri. Sehingga Anda bisa “menyatu” dengan segala sesuatu di luar sana.

Sinyal inilah yang disebut “ruh”. Ruh adalah sebuah gelombang yang sangat tinggi, yang bisa menghubungkan seseorang dengan segala sesuatu. Dengan sinyal ruh, seseorang bisa berada dimana-mana. Ia bisa melihat, mendengar, dan terhubung dengan apa saja. Jika sinyal ruhaniah ini hidup, seseorang menjadi “maha hidup”, “maha tau”, atau “maha menyadari”.

Manusia secara alamiah -atau “by design” (takdir), terlahir dengan energi nyawa dan perangkat akal. Dengan dua elemen ini, mereka bisa membangun peradaban. Tapi, proses untuk menjadi tercerahkan dan terhubung dengan Tuhan sebagai pusat kesadaran, itu sifatnya “pilihan” (ikhtiyari).

Manusia secara alami juga terlahir dengan infrastruktur “ruh” (qalbu). Karenanya, pada level dasar kejiwaan, secara emosional kita bisa “merasakan” sesuatu. Ada sensasi fitrah dalam setiap diri, yang secara alami membuat kita bisa merasakan kebenaran pada kadar tertentu.

Namun, untuk mampu menjangkau kebenaran secara absolut, untuk terintegrasi dengan hirarki kebenaran yang lebih tinggi, kita membutuhkan bantuan energi yang lebih murni. Kita harus terhubung dengan sinyal yang lebih kuat, yang bisa menarik dan membawa kita ke alam pengetahuan yang lebih agung.

Energi, gelombang, atau sinyal yang bisa membawa kita untuk sampai kesana, dalam terminologi klasik keagamaan disebut “Nur Muhammad”. Nur artinya “gelombang” (cahaya). Nur Muhammad artinya “gelombang ketuhanan”, yang frekuensinya bisa ditemukan pada sosok-sosok terpuji (Muhammad).

Manusia, secara “akliyah” adalah makhluk independen. Otaknya mampu bekerja untuk membuatnya survive selama di dunia. Tapi, secara “ruhani”, kita adalah makhluk dependen. Kita membutuhkan sinyal yang berasal dari Tuhan, untuk bisa kembali (terhubung) kepada Tuhan.

Nur Muhammad adalah sinyal, ‘kilatan’ cahaya, buraq, energi malakut, Ruh Al-Ilahi, Jibril, Khizir, atau gelombang Tuhan. Gelombang ini ada, dan bisa diakses jika kita menemukan frekuensinya. Pusat frekuensi atau pembawa gelombang ini disebut “nabi”, “wali”, “rasul”, dan berbagai nama lainnya. Orang-orang ini membawa otoritas tertentu dari sisi Tuhan. Karenanya mereka disebut sebagai “utusan Tuhan”. Sebuah pertanda bahwa Tuhan “mengutus” diri-Nya (sinyal diri-Nya) dalam diri orang-orang ini.

Kalau ruhani kita terhubung (terkoneksi) dengan jiwa orang-orang seperti ini, maka kesadaran kita akan mengalami transendensi ke berbagai alam pengetahuan yang sangat virtual. Sehingga wawasan kita menjadi lebih terbuka dan tercerahkan. Ruh mereka merupakan “jaringan” yang dapat menghubungkan kesadaran kita dengan Tuhan.

Karena itulah, “utusan Tuhan” selalu hadir disepanjang zaman. Secara fisik, mereka terlihat sebagai hardware biasa (basyar). Tapi, secara ruhani, mereka merupakan pusat frekuensi wahyu yang dapat “mentahlil” (menteleportasi) jiwa seseorang untuk berjumpa (liqa) dengan Tuhannya.

Jadi, manusia adalah “mahkluk digital”, yang memerlukan kekuatan sinyal untuk terhubung dengan sumber-sumber pengetahuan yang tidak terbatas di luar dirinya. Perjalanan spiritual untuk menemukan nabi, atau pewaris nabi, pada hakikatnya adalah perjalanan untuk menemukan sinyal dan frekuensi ketuhanan. Akal kita pun sebenarnya akan lebih berkembang kalau menemukan guru. Makanya ada sekolah, dari SD sampai kuliah guna mencerdaskan akal. Begitu juga dengan ruhani kita. Untuk mengalami transendensi, harus ada pembimbingnya.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kajian Lainnya

SAID MUNIRUDDIN adalah seorang akademisi, penulis, pembicara dan trainer topik leadership, spiritual dan pengembangan diri.