
Jurnal Suficademic | Artikel No. 26 | Maret 2024
SHOLAT DAN ZIKIR: IBADAH UMUM DAN IBADAH KHUSUS
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic
Bismillahirrahmanirrahim.
Ibadah ada dua jenis: umum dan khusus. Ini terkait dengan ibadah sholat dan zikir.
Sholat: Ibadah Umum
Sholat, khususnya sholat fardhu, adalah ibadah umum. Waktunya sudah ditentukan. Gerakannya standar. Bacaannya telah diatur. Rakaatnya sudah pasti. Ibadah sholat sudah diregulasi sedemikian formal dan kaku. Tugas kita hanya mengulang-ulang saja.
Ibadah semacam ini adalah sebuah rutinitas. Itu-itu dan begitu-begitu saja yang harus dilakukan. Seumur hidup pula. Tidak ada ruang untuk berkreasi.
Karenanya, ibadah sholat bisa sangat membosankan. Karena itu banyak ditinggalkan. Bahkan orang-orang ada yang sudah kehilangan orientasi, tidak tau untuk apa hal seperti itu terus menerus diulangi. Banyak orang Islam yang tidak melaksanakan sholat lagi. Karena tidak tau, apa tujuannya. Kalaupun dilakukan, itu karena takut ancaman. Takut masuk neraka.
Sebenarnya, ibadah seperti ini penting sekali. Sebab, sholat mengajarkan konsistensi, dalam pola berulang-ulang. Ibadah sholat akan terakumulasi menjadi “power”, kalau seseorang paham apa yang dia kerjakan. Artinya, apa yang berulang kali dibaca dalam sholat mesti dipahami. Bacaannya harus dimengerti. Harus tertanam dalam hati.
Sesungguhnya, bacaan sholat adalah bai’at kita kepada Allah dan Rasulnya, agar kita menjadi pribadi yang baik. Bai’at seperti ini wajib untuk terus diperbaharui, siang malam, setiap sehari. Sukses dalam hidup hanya diperoleh jika Anda menjadi pribadi yang baik.
Ada sejumlah training yang bisa melatih Anda menjadi sukses. Bayarannya mahal sekali. Bisa puluhan, bahkan ratusan juta. Anda hanya dilatih untuk persisten mengucapkan misalnya: “Saya bisa!”, dalam level kesadaran tertentu. Kata-kata seperti ini, lama kelamaan menjadi belief system. Inilah yang membentuk karakter, sehingga memungkinkan seseorang untuk sukses dan terus maju.
Tapi, agama seperti Islam memiliki kurikulum untuk sukses yang bernilai gratis. Melalui repetisi aneka bacaan dalam sholat, seseorang di set sistem mentalnya agar menjadi pribadi tangguh. Itu akan terjadi kalau kita disiplin dalam pengulangan, serta khusyuk dalam melakukannya. “Repetition is a mother of skill”, kata Sang Master. Perubahan akan terjadi kalau kita terus melatih, mengulangi dan meresapi apa yang kita lakukan dan ucapkan.
“Khusyuk” adalah proses untuk menginternalisasi nilai-nilai ketuhanan. Khusyuk adalah proses transfer dan downloading Ruh Ilahi (Nur Muhammadi) ke dalam diri. Karenanya, khusyuk adalah modal paling besar untuk kesuksesan kita, lahir dan batin. Quran mengatakan: “Sungguh beruntung (kemenangan/ kesuksesan akan menyertai) orang-orang beriman, yaitu mereka yang khusyuk dalam sholatnya” (QS. Al-Mukminun: 1-2).
Coba lihat-lihat kembali apa arti dari setiap doa dalam sholat kita. Dahsyat sekali. Jangan pernah bosan untuk meneguhkan setiap bacaannya, secara berulang-ulang. Itu menjadi sumber energi utama. Konon lagi, jam 5 subuh kita disuruh bangun untuk menata gelombang otak dengan bacaan-bacaan penuh hikmah ini. Mustahil hidup kita gagal, kalau sejak pagi sudah menyerap energi Ilahi. Sampai diberi jaminan, siapa saja yang sholat subuh tidak terputus selama 40 hari, akan mudah rejekinya. Ada teknik untuk mengakumulasi alpha waves for financial success di pagi hari. Islam sebenarnya mengajarkan itu.
Zikir: Ibadah Khusus
Agar ibadah tidak seluruhnya formal dan kaku, maka setelah sholat dianjurkan berdzikir. Sebelum subuh pun dianjurkan “tahajud”, sholat plus zikir yang diperpanjang. Bahkan sampai subuh. Zikir tidak harus kaku, hanya dengan membaca kata-kata atau kalimat tertentu sejumlah 33 kali. Tidak seperti itu juga.
Dzikir itu dapat dilakukan secara fleksibel, dalam jumlah tidak terbatas atau “sebanyak-banyaknya” (zikran katsira). “Wahai orang-orang yang beriman, Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat-Nya sebanyak-banyaknya” (QS. Al-Ahzab: 41). Bacaannya pun sangat beragam. Seluruh ayat Quran bisa dizikirkan secara khusus, sesuai kebutuhan. Begitu juga Asma-Asma Tuhan yang 99 itu, bisa dipilih sesuai keinginan. Dalam tradisi sufisme, seorang syekh yang kasyaf biasanya paling tau zikir apa yang cocok untuk masing muridnya.
Karena itu, zikir dalam Islam menjadi ibadah khusus. Zikir adalah ibadahnya kaum “khawash” atau “khawash lil khawash”. Berbeda dengan sholat yang sifatnya formal dan kaku, zikir memberi Anda ruang kreatifitas dalam membangun komunikasi dengan Allah. Zikir juga bisa diisi dengan doa-doa khusus, sesuai tantangan dan harapan masing pelaku.
Karena itulah, para ahli zikir, setelah melaksanakan beberapa rakaat sholat (dan biasanya hanya menghabiskan waktu beberapa menit saja), akan melanjutkannya dengan zikir selama berjam-jam. Kombinasi ibadah inilah yang menghasilkan orang-orang berpower, penuh karamah dan mukjizat. Dari kombinasi ibadah inilah lahir para nabi, wali dan orang-orang sholeh. Kalau hanya rajin sholat saja, itu tidak akan melahirkan manusia “super”. Sebab, itu hanya ibadah wajib. Hanya ketika dilanjutkan dengan zikir, suluk/khalwat dan aneka ibadah nafilah fleksibel lainnya; jiwa seseorang akan membumbung tinggi ke hadapan Allah.
Sebenarnya, sholat itu zikir. Dan zikir itu juga sholat. Baik sholat dan zikir, keduanya sama-sama media untuk mengingat Allah dan ada doanya (sholawat). Hanya saja, ada yang dilakukan secara formal dan kaku, dan ada yang dilakukan secara fleksibel dan “daim”. Untuk mencapai sukses yang besar, keduanya harus dikerjakan!
Penutup
Ibadah yang kaku seperti sholat bertujuan untuk memperteguh bai’at kita (vision dan mission statement), secara berulang-ulang. Sedangkan zikir, itu ruang fleksibilitas untuk melakukan perjalanan jiwa guna mencapai titik-titik destinasi (maqamat) dari mental dan spiritual kita. Zikir itu kendaraan untuk mencapai apa yang kita baca dalam sholat. Mikraj, itu terjadi dalam zikir. Kecuali seseorang sudah menjadi ahli zikir (sudah menjadi ahli perjalanan jiwa), maka sholat juga menjadi media sederhana untuk mikraj ke sisi-Nya.
Karena itu; syariat mengajari kita sholat, cara beribadah dalam pola umum dan formal. Dalam pola ini diperkenalkan kedisiplinan awal untuk konsisten dan berulang-ulang memperbaharui bai’ah kita kepada Allah dan Rasulnya. Sedangkan tarikat, secara khusus mengajari kita cara-cara kreatif dalam melakukan “perjalanan jiwa”. Sehingga ruhani Anda bisa mencapai maqam dan vibrasi ruhaniah yang lebih tinggi.
Seorang Guru sufi berkata: “Sholat adalah landasan pacu, sedangkan zikir adalah pesawat yang menerbangkan Anda ke sisi Allah SWT”. Landasan itu penting. Tapi jangan lalai di landasan. Kalau ingin sampai ke tujuan, terbanglah! Celakalah orang-orang yang shalat. Yaitu yang lalai, riya dengan sholatnya. Mereka lupa, bahwa ada tahapan berikutnya. Yaitu menjadi makhluk Ilahi yang memiliki kepekaan sosial yang tinggi (QS. Al-Ma’un: 4-7).
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.

SAID MUNIRUDDIN | The Suficademic
Web: sayyidmuniruddin.com
TikTok: tiktok.com/@saidmuniruddin
IG: instagram.com/saidmuniruddin/
YouTube: youtube.com/c/SaidMuniruddin
Facebook: facebook.com/saidmuniruddin/
Facebook: facebook.com/Habib.Munir/
Twitter-X: x.com/saidmuniruddin
Channel WA: The Suficademic
Join Grup WA: The Suficademic-1
Join Grup WA: The Suficademic-2


One thought on “SHOLAT DAN ZIKIR: IBADAH UMUM DAN IBADAH KHUSUS”