
Jurnal Suficademic | Artikel No.46 | September 2024
KEGENITAN SPIRITUAL
Oleh Said Muniruddin
Bismillahirrahmanirrahim.
AGAMA terdiri dari dua unsur: spiritualitas dan relijiusitas.
Spiritualitas adalah rasa, suasana jiwa, pandangan batin atau pengetahuan iluminatif seseorang tentang Tuhan. Inti agama berupa imanensi atau makrifah, rasa dan keterkoneksian dengan Tuhan. Ketika seseorang telah mampu merasakan kehadiran Tuhan, maka ia telah menjadi makhluk spiritual.
Spiritualitas sifatnya sangat personal. Biasanya, itu bukan sesuatu untuk diungkapkan di muka publik. Spiritualitas adalah sebuah ruang sunyi antara hamba dengan Tuhan. Spiritualitas adalah “kesalehan yang disembunyikan”. Ketika diungkapkan atau mungkin juga dipamerkan, maka ia tereduksi menjadi “relijiusitas”.
Relijiusitas adalah bentuk pengungkapan seseorang terhadap sebuah rasa, agama atau keyakinan yang dianut melalui aneka eksibisi, lembaga dan ritual. Relijiusitas membutuhkan simbol dan atribut. Relijiusitas butuh panggung dan slogan. Relijiusitas butuh peci, sarung, janggut dan surban. Relijiusitas adalah “kesalehan yang dipamerkan”.
Sholat berjamaah misalnya. Itu sangat dianjurkan, walau hukumnya (dalam mazhab syafii) tidak wajib. Itu bagian dari eksibisi sebuah relijiusitas. Ada juga tahajud, yang juga tidak kalah penting, pun sangat dianjurkan. Namun sifatnya sangat spiritual. Bukan untuk dipamerkan. Walau banyak juga orang yang suka posting, ketika sedang tahajud. Mungkin ia ingin orang-orang tau, bahwa ia rajin tahajud. Belakangan tahajud/qiyamullail juga sudah dijamaahkan, dieksibisikan. Sholat subuh juga begitu. Ada yang sangat rajin bangun subuh, hanya untuk memposting bahwa dirinya baru saja sholat subuh. Relijiusitasnya tinggi sekali!
Zikir juga begitu. Ada yang diamalkan dalam lingkaran-lingkaran sunyi. Ada juga yang di hentak-hentak di tengah lapangan. Ada zikir tanpa baliho, ada zikir yang berbaliho. Ada zikir untuk tidak diketahui orang, ada zikir biar orang tau kita lagi berzikir. Jadi, ada zikir untuk membuka tabir spiritual, ada juga untuk mengekspose relijiusitas kelompok dan personal. Jadi, zikir itu ada dua: “zikir spiritual” (terfokus ke dalam) dan “zikir relijius” (pertunjukan zikir). Untuk agenda-agenda politik, yang kedua ini lebih menarik.
***
Kami tidak mengatakan bahwa spiritualitas itu salah, ataupun relijiusitas itu salah. Keduanya ada dan sepatutnya saling menguatkan. Meskipun kita juga harus lebih awas untuk memahami, mana yang harus disimpan sebagai “rasa spiritual” dan mana yang patut dipublikasikan sebagai “ibadah sosial”.
Begini.
Kita umat Islam sudah lama tertinggal jauh. Tidak begitu punya prestasi. Hampir tidak ada lagi inovasi. Yang kita tau cuma sholat, tata cara berpakaian islami, dan yang sejenis itu. Jadi, kita memang lagi punya sesuatu yang bisa dipublikasi. Tidak ada yang bisa kita jual saat ini, selain agama itu sendiri. Memang hanya agama yang masih kita punya. Lain tidak ada. Orang sudah menjual pesawat, mobil, kapal, dan aneka produk hightech lainnya; kita masih menjual agama. Orang sudah mengupdate status-status baru terkait rancangan teknologi dan sains terbaru. Kita masih seputar halal haram bank konvensional, ini dan itu.
Tidak salah juga sih, bagus itu. Cuma khawatir, apakah kita memang lagi tidak punya prestasi mendunia untuk di update? Agama memang selalu laku untuk dijual dan bahkan semakin laku. Sebab, manusia makhluk pencari spiritual. Kita takut-takuti dengan isu neraka, langsung percaya masyarakat kita.
Para pemimpin kita terkadang juga begitu. Masih ada yang gigih menjual isu syariat. Seputaran agama dan simbol-simbol relijiusitas (jilbab, rok, dan sebagainya itu). Sebab, tak ada inovasi dan kinerja lain yang bisa dijual sebagai prestasi kerja. Semua ingin menunjukkan betapa islami dan spiritualnya mereka. Tapi tidak ada produk monumental yang dapat ditampilkan.
Kita tidak tau bagaimana dengan Aceh kita. Coba perhatikan. Daerah kita mirip seperti sebuah ‘kamp konsentrasi’ yang dibangun di ujung barat Sumatera. Tidak ada bioskop. Tidak ada hiburan. Konser musik pun baru aman kalau aparat yang adakan. Tidak ada bank, kecuali yang dibolehkan ada. Ngisi bensin pun pakai barcode. Tak ada barcode, diabaikan. Mungkin daerah kita sengaja di disain seperti itu. Memang, kalau masyarakatnya bandel-bandel, cocok diisolasi dengan pilihan terbatas seperti itu. Biar mudah di kontrol. Rakyat Saudi juga pernah dibegitukan, dengan syariatnya. Aman dan terkontrol. Negara-negara komunis juga begitu, rakyat ditertibkan dengan memberi pilihan-pilihan terbatas untuk hidupnya.
Satu-satunya hiburan terakhir yang begitu dinikmati oleh rakyat Aceh adalah “uji mampu baca Quran” Cagub/Cawagub Aceh pada Rabu silam (4/9/2024). Setelah mendengar Ombus dan Mualem mengaji, ‘rasa spiritualitas’ masyarakat Aceh naik lagi. Bukan karena orang Aceh hobi menyimak orang mengaji. Bukan. Tok karena ada kaidah dan irama bacaan dari dua kontestan Pilkadagub Aceh 2024 ini yang mungkin mereka tidak setujui. Netizen langsung menghakimi dan bekerja melampaui tupoksi hakim LPTQ.
Rasa keislaman kita naik, ketika punya kesempatan meneriaki orang yang sedang di cambuk. Ketauhidan kita naik, setelah menyoraki Rara si pawang hujan yang sedang berakrobat di Stadion Harapan Bangsa. Relijiusitas kita juga menguat setelah menertawakan para kandidat gubernur mengaji secara terbuka.
Kita ini masyarakat yang lama tertindas, kurang hiburan, dikekang dan tidak pernah putus dari konflik dan bencana alam. Konon juga termasuk provinsi yang masih miskin. Masyarakat yang depresi dan tanpa prestasi seperti ini, pasti akan senang sekali ketika ada orang jatuh. Kita akan merasa hebat kalau bisa mengomentari, mencerca dan menertawakan orang yang salah. Kita menunjukkan rasa beragama ketika ada orang lain yang dengan atau tanpa sengaja “keliru” dalam beragama.
Ini yang disebut sebagai “kegenitan spiritual”. Kita semua merasa paling beragama, paling benar, atau paling relijius kalau ada yang bisa kita salahkan. Kita menjadi benar setelah mencari dan menyenter kesalahan orang lain. Kita tiba-tiba menjadi cinta kepada agama, ketika menemukan kesalahan orang lain.
***
Aturan-aturan dalam beragama dan bermasyarakat, terkadang kita buat untuk mengakomodir “kegenitan” kita itu.
Mungkin kita juga terlalu genit dengan aturan untuk me-musabaqah-kan para calon pemimpin, yang kita sendiri tidak tau apakah mereka fasih membaca Quran atau tidak. Peserta MTQ saja harus di TC tertutup selama beberapa kali, sebelum di uji di mimbar nasional.
Lalu kenapa cagub tidak di uji di ruang tertutup saja? Kenapa tidak cukup disimak oleh para ahli dari LPTQ saja? Masyarakat kita bukan pendengar orang mengaji. Magrib pun tidak ke meunasah mereka. Semua di warung kopi. Masyarakat dan juga timses hanya menunggu kesalahan para kontestan untuk ditertawakan. Bukan menunggu berkah dari bacaan Quran. Masyarakat kita bukan pecinta Quran. Masyarakat kita pencinta game online, pinjol dan judol. Ada banyak kontestan Pilkada yang bagus mengajinya. Tapi tidak menarik perhatian. Yang menarik hanya yang buruk-buruk. Bad is good news.
Kalau calon gubernur ingin diuji kemampuan membaca Qur’an, diajari saja dulu satu atau dua bulan oleh para ustad LPTQ. Lalu diuji. Kalau ustad LPTQ yang ajari, sudah pasti lulus itu. Salah-salah bisa juara MTQ kandidat gubernurnya. Kalau tidak lulus, berarti ustadnya yang harus dipecat, bukan calon gubernur. Kok ustaz tidak punya kemampuan untuk membuat orang bisa mengaji. Kira-kira begitu.
***
Inti cerita, janganlah kita “kegenitan” membuat aturan untuk menguji orang di depan umum hanya untuk melihat kesalahan-kesalahannya. Janganlah kita menjadikan Qur’an sebagai bahan untuk mencela. Jangan mencari aib orang yang mungkin tidak sempurna dalam membaca Quran. Lalu kita jadikan itu sebagai patokan untuk menunjukkan bahwa kita lebih relijius dari saudara kita.
Padahal, apa hubungannya antara mampu membaca Quran dengan mampu memimpin Aceh? Apakah dengan ahli membaca Quran otomatis seseorang menjadi ahli dalam memimpin sebuah negeri? Banyak negara maju yang dipimpin oleh orang yang bahkan tidak beragama. Iya kita sepakat perlu mengajari anak-anak kita mengaji, karena itu kalam Tuhan. Tapi bukan membuka ruang untuk mencari aib orang lewat ajang baca Qur’an.
Banyak dari kita yang mengalami “kegenitan” spiritual. Kita menjadi relijius dengan cara menyoraki orang. Mungkin kita perlu memperbaiki itu
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

SAID MUNIRUDDIN | The Suficademic
Web: sayyidmuniruddin.com
TikTok: tiktok.com/@saidmuniruddin
IG: instagram.com/saidmuniruddin/
YouTube: youtube.com/c/SaidMuniruddin
Facebook: facebook.com/saidmuniruddin/
Facebook: facebook.com/Habib.Munir/
Twitter-X: x.com/saidmuniruddin
Channel WA: The Suficademic
Join Grup WA: The Suficademic-1
Join Grup WA: The Suficademic-2


2 thoughts on “KEGENITAN SPIRITUAL”