Jurnal Suficademic | Artikel No.32 | November 2025
Bangsa yang Terluka
Oleh Said Muniruddin | Rector Suficademic
Bismillahirrahmanirrahim.
Kita tidak bisa menyalahkan sebagian orang Aceh yang anti konser. Anti perempuan yang bercelana jeans. Atau anti kalau orang berkumpul di tempat-tempat wisata.
Orang-orang sudah stres sekali. Tidak tau kenapa dirinya tidak maju-maju. Kenapa miskin terus. Tidak pernah sejahtera.
Cara sederhana untuk mencari salah, ya itu. Tertuduhnya adalah perempuan tidak pakai jilbab. Laki-laki bercelana pendek. Atau karena konser raya. Atau karena bioskop. Semua fenomena yang kita temukan ada di negara maju dan sejahtera, di Aceh dijadikan sebagai sebab kita tidak maju.
Fenomena alam seperti tsunami, banjir bandang, dan sejenisnya; juga ditimpakan kepada perilaku perempuan, konser, bioskop, dan pariwisata. Itu model keyakinan tradisional keagamaan kita. Mereka percaya, Tuhan marah karena itu.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Orang Aceh lama hidup menderita. Mungkin paling lama diantara bangsa lainnya di Nusantara. Begitu lamanya menderita, sehingga susah untuk menjadi bahagia. Begitu lama hidup tertekan, sehingga susah untuk rileks dan tenang. Bawaannya curiga terus.
Orang Aceh, itu bangsa terluka. Kebetulan, lama pula sembuhnya. Kisah Soekarno menipu Aceh misalnya. Itu melekat sangat kuat. Tidak hilang-hilang. Bangsa lain sudah maju semua. Walaupun juga sama-sama pernah kena tipu. Tapi orang Aceh masih jalan di tempat, dengan terus menggendong memori sebagai bangsa kena tipu. Kalau memorinya semacam ini, kita susah bahagia. Susah kreatif. Susah maju.
***
Suatu ketika saya di Jerman. Kebetulan ada warga Afrika yang mendapat beasiswa sebuah program disana. Beasiswanya cukup besar. Cukup untuk membuat ia hidup enak dan nyaman. Disana ia juga difasilitasi oleh sponsornya untuk menikmati berbagai keindahan dan hiburan.
Suatu ketika, tersiar kabar ia bunuh diri. Lompat dari atas bangunan. Aneh. Kenapa bisa terjadi?
Dari hasil investigasi diketahui. Sejak di Jerman, ia mulai mengalami gangguan kejiwaan. Ia tidak bisa menikmati hidup yang serba indah. Makan serba enak. Fasilitas serba mudah. Sebab, pada saat yang sama, ia membayangkan saudara-saudaranya sedang susah, sedang berjuang, sedang kelaparan di kampungnya. Tak tahan ia. Lalu bunuh diri!
Anda mungkin tak tahan dengan orang-orang yang happy saat konser. Atau tak suka dengan orang-orang yang bersenang-senang di tempat wisata. Sebab, pada saat yang sama Anda membayangkan derita masa lalu. Ataupun derita yang sekarang masih Anda alami.
Kalau sudah terlalu lama dan nyaman tidur di tikar, Anda akan kesusahan untuk terlelap di atas springbed. Kalau sudah terlalu lama miskin, Anda akan marah ketika melihat orang kaya. Dimata Anda, orang kaya pasti orang bermasalah. Orang berdosa. Orang yang cepat masuk neraka.
Seperti itulah kita akan melihat pelaku konser. Pelaku wisata. Atau perempuan yang pakai celana. Salah semua menurut standar memori kita. Memori yang terluka. Memori yang melarang kita untuk bernyanyi, menari dan bersenang-senang. Memori yang melarang kita berkumpul di tempat terbuka. Karena sudah diframe dan terlanjur kita yakini sebagai dosa.
Mungkin setengah dari piramida penduduk Aceh diisi oleh orang-orang terluka. Orang-orang yang terjebak dengan derita masa lalu. Masa Belanda. Masa Jepang. masa PKI. Masa Cumbok. Masa GAM dan TNI. Ketika generasi ini tergantikan, suasana Aceh akan lebih berbeda. Mungkin butuh 10 atau 20 tahun lagi untuk masuk ke dimensi berbeda.
Orang-orang terluka ini, tanpa sadar, berlindung dibalik syariat untuk meneguhkan ego personalnya. Bagi kita yang terdidik dengan nilai-nilai agama, harus ada “religious reason” untuk mempertahankan kesalahan yang tidak disadari. Padahal, disisi lain konser, wisata dan sejenisnya; adalah sisi seni yang harus dikembangkan untuk membangun sebuah bangsa. Itu semua bisnis. Bisnis juga agama. Sejatinya, bukan dilarang. Tinggal diperkuat unsur-unsur etikanya.
Banyak bentuk bisnis yang “diislamisasi”. Konon musik dan tari memang sesuatu yang lahir dari peradaban Islam sendiri.
Kalau ingin maju, kita harus mulai fokus ke etika. Bukan fokus pada ini haram, itu haram. Semua jadi haram. Memang mindset syariah begitu. Kritis. Curiga. Susah bahagianya. Karena pilihannya hitam putih. Apalagi ketika bertemu dengan jiwa yang terluka. Sementara, disisi lain, pengembangan seni membutuhkan jiwa yang merdeka. Jiwa yang beriman dan terbuka.
Penutup
Saya tidak mengatakan bahwa konser, bioskop, tempat wisata dan sebagainya itu sebagai bagus. Saya melihat, semua ini bisnis. Sama dengan bisnis-bisnis lainnya. Sesuatu yang wajar adanya. Hanya perlu diperkuat etika dalam semua bentuk bisnis, guna memajukan ekonomi dan membangun bangsa. Pemerintah dan agamawan harus mulai fokus dalam ranah etika bisnis. Bukan justru menghambat pertumbuhan bisnis.
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****


Okay, bdggameaviator. The Aviator game is super addictive! Spent way longer on there than I planned. Graphics are good, payouts seem fair. Just be careful, it’s easy to lose track of time (and money!). For Aviator fans, bdggameaviator is the place to be.
I don’t think the title of your article matches the content lol. Just kidding, mainly because I had some doubts after reading the article.
Descobri abcbet1br e tô achando bem interessante! Variedade de jogos e umas promoções que chamam a atenção. Alguém mais testando por aqui? Deixem suas impressões! abcbet1br
Jilibetweb looks like the classic website. Hopefully, it’s mobile-friendly! I can’t always be on my computer. Gotta be able to play wherever! Check it out here: jilibetweb
Catch the games live? FB88TV says they’ve got streaming. Fingers crossed it doesn’t buffer every five seconds! fb88tv