Pemimpin, Berkah dan Bencana

Bagikan:

Jurnal Suficademic | Artikel No.35 | November 2025

Pemimpin, Berkah dan Bencana
Oleh Said Muniruddin | Rector Suficademic

Bismillahirrahmanirrahim.

KITA berduka. Hujan yang hakikatnya adalah rahmat, telah berubah menjadi bencana. Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat tenggelam dibuatnya. Sambil bekerja menolong para korban, ruang diskusi juga perlu dibuka. Kenapa ini terjadi. Paling tidak untuk belajar, agar ini tidak terulang, dalam skala lebih parah.

Yang jelas, untuk konteks Aceh misalnya, kali ini bukan lagi tentang konser atau celana ketat wanita yang selalu menjadi dalil kemunculan petaka. Ketika air bah menutupi sungai dengan potongan kayu-kayu ilegal, tema bencana telah bergeser ke topik “kepemimpinan dan bencana”.

Ini kajian bencana dan musibah dalam perspektif kesadaran dan kepemimpinan. Saya tidak tau, kenapa kali ini alam begitu kesal dengan Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Mungkin lain waktu akan menyasar daerah lain, yang alam kesadaran para pemimpinnya tanpa sadar suka mengundang bencana.

***

Dalam dunia spiritual dikenal istilah: “As above so below”. Imajinasi kita membentuk takdir kita. “As within so without”. Apa yang kita bentuk dalam dunia internal, itulah yang mewujud dalam realitas eksternal. Dalam bahasa Quran: “Kerusakan di darat dan laut hanya sebuah akibat dari ulah tangan manusia” (QS. Ar-Rum: 41). “Musibah terjadi karena ulah tangan manusia” (QS.Asy-Syura: 30).

Setiap masalah yang kita temui adalah tajalli dari alam kesadaran kita. Bencana yang turun dari “langit” adalah refleksi dari perilaku dan kondisi kejiwaan kita. Hujan, seberapa pun lebatnya, bukanlah petaka. Hujan itu rahmat. Ia sebenarnya turun sesuai “daya tampung” kita. Kita saja yang terkadang tidak siap untuk menerima anugerah ini.

Gunung kita gunduli. Izin tambang tak terkendali. Becko turun 100 unit, mungkin setelah itu akan naik 1000 lainnya. Sungai kita keruk. Sampah kita buang sembarangan. Saluran air kita abaikan. Imajinasi kita tentang dunia yang sustainable tidak terbangun dengan baik. Ketika daya tampung tidak kita perkuat, rahmat tetap turun, namun sebagai bencana. Ketika kesadaran, sains, dan manajemen pengelolaan sumberdaya alam tidak kuat, rahmat Tuhan berubah menjadi musibah.

Rahmat Tuhan seperti air, angin dan panas bumi merupakan “power” (sumberdaya konstruktif) bagi kelangsungan hidup manusia. Tapi, jika kehadiran aneka daya ini tidak diperkuat dengan manajemen pengelolaannya, ia berubah menjadi “force” (kekuatan yang merusak).

Sama halnya dengan dana Otsus, dana Migas, dana alokasi umum, dana alokasi khusus, dan lainnya. Itu semua rahmat, “hujan” dari langit. Jika pengelolaannya dilakukan dengan jujur, adil, efisiensi dan efektif; maka menjadi “daya” positif bagi pembangunan daerah.

Sebaliknya, jika tidak terkelola dengan kesadaran dan akal sehat, semua akan berubah menjadi bencana. Infrastruktur ekonomi tetap acak-acakan. Kemiskinan tidak berkurang. Tidak ada pertumbuhan kesejahteraan yang signifikan. Justru menciptakan erosi kesadaran, korupsi, gap pendapatan, dan berbagai penyakit sosial lainnya. Karena tidak dibangun dengan kejujuran, mungkin alam pun tidak menyukainya. Tersapu seketika, hanya karena hujan kurang dari seminggu.

Tuhan tidak pernah sedikitpun alpa dalam kemurahan hati. Rahmatnya turun siang malam dalam jumlah berlimpah. Begitu kita gagal belajar dan lupa cara bersyukur, perlahan ia berubah menjadi bencana.

Jika bersama kesulitan ada kemudahan; maka bersama kemudahan juga bisa muncul kesulitan. Jika bersama bencana ada hikmah, maka bersama hikmah juga bisa hadir bencana. Variabel pentingnya adalah bagaimana kita secara kolektif terus belajar dan bersyukur.

Apapun yang kita alami, itu adalah gambaran kondisi kolektif dari kesadaran atau kejiwaan kita. Semakin kita belajar dan bersyukur, semakin dilipat gandakan kebaikan dalam kehidupan kita. Semakin kita gagal belajar dan bersyukur, semakin banyak rahmat yang turun dalam gelombang bencana.

Para pemimpin yang memegang mandat dari rakyat, yang juga dianggap mandat dari Tuhan, harus menyadari ini. Sebab, kondisi alam di atas sana biasanya mengikuti irama kejiwaan para pemimpinnya. “As above so below”. Kalau pemimpinnya dan pendukungnya beriman, negeri biasanya aman. “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi..” (QS. Al-‘Araf: 96).

Pemimpin yang baik bisa bernegosiasi dengan alam. Kalau pikiran pemimpinnya mulai koruptif, alam akan memberi peringatan. Karena itu dikatakan, “pemimpin itu pang ulee alam”. Pemimpin itu penghulu alam. Cuaca dalam sebuah jazirah alam akan mengikuti suasana kejiwaan para Muspidanya. Kalau Muspidanya dekat dengan Tuhan, alam akan tenang. Jika tidak, alam punya caranya sendiri untuk sesekali, atau berulang kali, melakukan perlawanan.

Mungkin masyarakat sudah letih untuk bersuara. Lalu memilih diam. Tapi Tuhan, melalui “the power of nature”, punya caranya sendiri untuk berbicara. Untuk mengkoreksi para pemimpin, beserta seluruh masyarakatnya. Karena itulah bencana tidak memilih. Ia menimpa semua. Sebab, perubahan sebuah negeri harus digerakkan oleh kesadaran bersama. “Allah tidak akan mengubah nasib sebuah bangsa, sampai kita semua bersedia mengubah kondisi kejiwaan kita” (QS. Ar-Ra’d: 11). Sampai kita semua bersuara dan bergerak untuk tidak lagi merusak gunung, hutan, udara, tanah, laut, dan sungai.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

Bagikan:

8 thoughts on “Pemimpin, Berkah dan Bencana

  1. Onbets23, huh? Heard a few whispers about it but finally checked it out. Seems legit. I won a little something, which is always a plus! Interface is clean and easy to navigate. Might stick around for a bit. Give it a whirl? –> onbets23

  2. Bạn cần truy cập đúng trang chủ slot365 ios , sau đó điền đủ các thông tin cần thiết. Hãy đảm bảo thông tin này được nhập chính xác đầy đủ, vì đây sẽ là những thông tin quan trọng để bạn có thể đăng nhập và thực hiện giao dịch sau này. TONY12-30

  3. Alright folks, 13wim is on my radar. A friend recommended it, said it’s got some unique features. Giving it a whirl and will report back. But so far, so good! Find them here: 13wim

Leave a Reply to 13wim Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Kenapa Bencana Terus Berulang?

Sat Dec 6 , 2025
Jurnal

Kajian Lainnya

SAID MUNIRUDDIN adalah seorang akademisi, penulis, pembicara dan trainer topik leadership, spiritual dan pengembangan diri.