“Interface Connection”: Seni Menghubungkan Wajah dalam Belajar dan Beribadah

Bagikan:

Jurnal Suficademic | Artikel No.39 | Desember 2025

“Interface Connection”: Seni Menghubungkan Wajah dalam Belajar dan Beribadah
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic Supertraining

Bismillahirrahmanirrahim.

DALAM tradisi intelektual, khususnya ketika belajar di sekolah, menatap wajah guru itu hukumnya “wajib”. Guru bisa marah kalau si murid lihat kiri kanan saat ia sedang menjelaskan. Bisa-bisa kapur dan penghapus ikut melayang, kalau pandangannya tidak fokus ke guru saat menjelaskan.

Kunci belajar memang di fokusnya itu. Begitu si murid hilang fokus, putus pengetahuannya. Transfer pengetahuan dari guru akan gagal ketika si murid tidak menghadapkan wajahnya secara serius ke arah gurunya.

Bagi guru juga begitu. Transfer pengetahuan akan mudah diberikan ketika si murid memberikan perhatian secara sungguh-sungguh. Makin serius para mahasiswa sambil duduk diam menatap wajah dosen, semakin intens sang dosen menyalurkan pengetahuannya.

Tapi, begitu si mahasiswa mulai sibuk dengan hp, mulai bicara dengan kawannya, mulai bergerak dan tertawa dengan teman disampingnya; sang dosen bisa marah seketika. Sebab, itu sangat menggangu proses “transfer of knowledge”. Bisa hilang poin-poin penting yang ingin disampaikan ke mahasiswa.

***

Jadi, dalam tradisi intelektual, kunci sukses belajar adalah fokus ke wajah. Yaitu menatap secara penuh muka dari informan, guru, sumber, atau asal pengetahuan. Semakin kuat kita dengan sikap belajar semacam itu; semakin banyak, semakin luas, dan semakin dalam ilmu yang bisa didapatkan.

Karena itulah, proses belajar mendalam (deep learning) perlu guru. Perlu wajah yang hidup, untuk “disentuh” lewat tatapan. Makanya, memandang wajah orang berilmu (alim/ulama) nilainya tinggi sekali. Dalam berbagai hadis disebut nilainya adalah “ibadah”, “diampuni dosa”, “menghadirkan malaikat”, bahkan “lebih dicintai Allah dari pada ibadah puasa dan tahajud selama 60 tahun”, dan sebagainya.

Ilmu diperoleh lewat menatap secara langsung wujud fisik dari wajah pemilik ilmu. Terkadang kita bukan hanya paham apa yang disampaikan oleh pembicara. Bahkan kita bisa memahami hal-hal yang tidak diucapkan olehnya. Sebab, metode “menatap” itu sebenarnya adalah proses menyambungkan “frekuensi” dengan sumber pengetahuan. Ketika frekuensi tersambung, maka berbagai gelombang pengetahuan yang tak terucap juga ikut terserap oleh pendengar. Ada kecerdasan lain yang ikut hadir kepada pendengar dari ruang pengajaran, hanya lewat fokus menatap.

***

Metode serupa juga menjadi kunci dalam pembelajaran dunia spiritual. Dunia spiritual keislaman juga menuntut adanya “Guru” yang menjadi titik fokus, atau pusat perhatian. “Wajah” sang Guru inilah yang senantiasa ditatap oleh para murid, siang dan malam. Mereka percaya, dari proses menatap inilah sesuatu menjadi terhubung, transmisi pengetahuan terjadi.

Namun ada sedikit perbedaan. Dalam dunia intelektual, si murid menatap wajah material sang guru saat berinteraksi mendengar pelajaran. Sementara dalam dunia “spiritual”, wajah tidak harus dalam wujud fisik. Wajah juga bisa direkam dalam wujud ruhaniah. “Imej ruhani” dari sang Guru inilah yang kemudian ditatap oleh murid dalam setiap ibadah dan aktivitas.

Wajah sang Guru senantiasa dihadirkan dalam mental murid. Mereka percaya, dengan senantiasa menatap Wajah ruhaniah sang Guru, pengetahuan secara laduniah akan hadir. Ilham muncul. Vibrasi pengetahuan akan mengalir. Dengan syarat, fokusnya di dapat. Koneksinya tersambung. Frekuensinya terhubung. Untuk mencapai kondisi keterhubungan ini, diperlukan mujahadah dalam durasi dan intensitas yang kuat. Bisa berlangsung selama 40 hari.

Inilah yang dalam dunia sufistik spiritual disebut “rabithah”. Rabithah adalah metode pembelajaran spiritual. Metode “mengingat” nama sekaligus wajah, atau zikir. Metode “menyentuh” (menatap) Wajah. Metode menghubungkan ruhani dengan ruhani. Metode menyambungkan tatapan/wajah si murid dengan Wajah sang Guru. Metode “inni wajjahtu wajhiya lilladzi fatharas samawati wal ardh”.

Memang sekilas terlihat sangat sederhana. Tapi ingat, lewat “menatap” Wajah Guru inilah si murid bisa masuk lebih dalam untuk mengakses pengetahuan yang lebih tinggi. Sebenarnya, saat ia menatap wajah sang Guru, hadir dan terbuka gelombang lain dari balik itu. Ada Wajah lain di balik wajah gurunya. Sebab Tuhan, Wajah atau Gelombang ketuhanan, itu bersemayam pada wajah karamah, wajah yang mulia atau suci.

Kesimpulan

Apa yang kita bahas di atas, dalam teknologi moderen disebut dengan “interface” (antarmuka). Interface adalah titik interaksi atau penghubung antara dua sistem, komponen, atau antara pengguna dengan sistem/perangkat. Sehingga memungkinkan terjadinya komunikasi dan pertukaran data. Dalam dunia teknologi, interface ini sering kali berupa elemen visual (ikon, tombol, atau cara interaksi lain seperti suara). Dalam dunia digital, ini mencakup segala hal yang Anda lihat dan sentuh di aplikasi atau website (User Interface/UI), seperti tombol, menu, atau tata letak, yang dirancang untuk kenyamanan pengguna. Elemen interface ini merupakan media atau wasilah yang bertujuan untuk memfasilitasi interaksi, komunikasi atau transfer informasi secara mudah, intuitif, dan langsung.

Jadi, dunia teknologi pun menggunakan istilah “antarmuka” (interface) sebagai elemen visual yang secara mudah dan intuitif membuka gerbang pengetahuan (data). Pengetahuan diperoleh ketika Anda melakukan “tapping” atau menyentuh visual tombol tertentu dari perangkat teknologi seperti yang ada di layar muka Hp. Lewat sentuhan itulah terbuka lapis demi lapis gelombang informasi.

Dunia intelektual dan spiritual juga beroperasi dengan mekanisme “antarmuka” (interface) yang sama. Untuk mengakses pengetahuan, Anda harus melakukan tapping, ‘menyentuh’ muka guru Anda. Caranya dengan fokus memandang atau menatapnya (rabithah). Baik secara lahiriah ataupun batiniah, muka sang Guru sebenarnya hanyalah “ikon visual” biasa. Basyariah sekali sifatnya. Tapi, ketika Anda menyentuh wajah penuh gelombang Cahaya ini dengan tatapan Anda, itu bisa membuka gerbang kota pengetahuan sang Nabi yang ada dibaliknya. “Ana madinatul ‘ilm wa Ali baabuha” (hadis). Dengan menatap wajah karamah sang Guru atau Walimursyid (karamallahu wajhah), Anda menjadi terhubung/bersanad dengan ruhani sang Nabi yang tidak terbatas.

Inilah yang kami maksud dengan “interface connection”. Segala bentuk pendidikan, baik intelektual maupun spiritual dibangun melalui interaksi “antarmuka”. Jadi, menatap wajah Guru itu “wajib” hukumnya. Baik itu dalam tradisi intelektual saat belajar di kelas-kelas universitas, maupun dalam praktik-praktik spiritual peribadatan di ruang-ruang mujahadah. Lewat menatap itulah ilmu “terbuka”, komunikasi dan sharing data terjadi. Dalam tradisi spiritual, dalam shalat sekalipun disarankan untuk menatap (menyentuh) sebuah wajah, agar secara “interface” terkoneksi dengan Wajah atau gelombang spiritual yang lebih dalam: “inni wajjahtu wajhiya lilladzi fatarassamawati wal ardh”.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

Bagikan:

4 thoughts on ““Interface Connection”: Seni Menghubungkan Wajah dalam Belajar dan Beribadah

  1. Okay, so I’ve been messing around with the 18winapp and it’s not bad! Some cool games and I managed to win a little something. Worth a look if you’re into this kinda thing. 18winapp

Leave a Reply to 18winapp Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

"Leadership in Time of Crisis", Menunggu Keberanian yang Tersisa

Thu Dec 18 , 2025
Jurnal

Kajian Lainnya

SAID MUNIRUDDIN adalah seorang akademisi, penulis, pembicara dan trainer topik leadership, spiritual dan pengembangan diri.