“Leadership in Time of Crisis”, Menunggu Keberanian yang Tersisa

Bagikan:

Jurnal Suficademic | Artikel No.40 | Desember 2025

“Leadership in Time of Crisis”, Menunggu Keberanian yang Tersisa
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic

Bismillahirrahmanirrahim.

GUBERNUR dan bupati di Aceh sudah menyerah. Kerusakan infrastruktur terlalu masif. Efek ekonomi dan sosial paska itu bisa lebih parah. Pintu bantuan internasional diharapkan dibuka. Seketika muncul harapan agar musibah ini diberikan status sebagai bencana nasional.

Dewan Profesor Universitas Syiah Kuala sudah meminta hal yang sama (Antara News, 15/12/2025). Rektor UTU dan UIN Ar-Raniry juga bersuara serupa (Kompas, 17/12/2025). Muzakarah ulama Aceh juga melahirkan rekomendasi tentang itu (CNN, 15/12/2025). Semua elemen masyarakat sipil secara nasional menyuarakan hal yang sama. Dunia internasional juga sedang menunggu izin untuk masuk membantu.

Lalu dijawab oleh Presiden Republik Indonesia, “Apa teriak-teriak. Gak boleh. Kita tangani sendiri. Kita mampu. Walau gak punya tongkat Nabi Musa, kita masih punya harga diri”, dan sebagainya.

Alhasil, sudah hampir tiga pekan. Beberapa hal kecil sudah dilakukan. Tapi tak ada gerakan signifikan. Tak terarah. Tak tau tau kita ujungnya kemana. Selain omon-omon, janji palsu dan pencitraan belaka. Datang, main sandiwara, pulang. Staf presiden tak bekerja. BNPB sangat buruk dari segi cakap dan perilakunya. Kerja mereka rata-rata hanya membuat laporan palsu. Asal bapak senang, selesai urusan.

Jutaan rakyat Sumatera masih hidup dalam gelap, dingin, haus dan lapar. Belum pernah kita temukan kepemimpinan bencana yang seburuk ini di Republik Indonesia. Tak salah kalau kemudian netizen ramai membuat status, “pemerintah adalah bencana nasional” kita.

Lalu apa selanjutnya?

Menyurati presiden sudah. Menasehati presiden sudah. Mengingatkan presiden sudah.

Kita tidak boleh menunggu diabaikan terus menerus sedemikian rupa, oleh Pemerintah Pusat yang rabun dan lamban. Yang menganggap tangis harap sebagai “teriakan” tak berguna. Para relawan, juga TNI terus bekerja sesuai kemampuannya. Kita tau, luasnya cakupan bencana sudah diluar batas kemampuan mereka untuk menanganinya. Juga sudah di luar kapasitas korban untuk bergotong royong menangani musibah yang menimpa.

Dalam kondisi seperti ini, hanya butuh keberanian gubernur, bupati, rektor, guru besar, Ormas, LSM, Keuchik, dan mahasiswa se-Aceh atau mungkin juga se-Sumatera, bahkan se-Indonesia; untuk melakukan tindakan-tindakan berani apapun yang diperlukan, guna menyelamatkan rakyat yang ada di 3 provinsi di halaman muka Indonesia. Yang wilayah banjirnya setara dengan luas pulau Jawa. Sejumlah influencer sudah melakukannya. Sesuai kapasitasnya. Walau dihina oleh sejumlah pejabat dan politisi, bahwa jumlah bantuannya tak bermakna.

Para bupati jangan linglung. Jangan lempar handuk. Jangan lari. Jangan hanya bisa hidup enak saat situasi normal. Saatnya menunjukkan sikap “leadership in time of crisis”.

Gubernur juga jangan hilang keberanian. Jangan setelah mengirimi surat ke lembaga dunia, lalu bilang “Bukan saya yang buat itu”. Dalam kondisi bencana, jangan sampai ikut hilang keberanian Anda. Bersikaplah lebih jantan. Hadapi dengan lebih lantang. Katakan saja dengan teriakan lebih tegas, “Saya yang kirim surat itu, guna menyelamatkan rakyat saya. Kalau salah, tangkap saya”.

Keberanian Murthala, juru bicara bencana Aceh saat wawancara di salah satu stasiun TV Nasional (CNN, 17/12/2025), yang menyebut salah satu staf presiden yang asal ngomong sebagai “tukang bacot”, “penipu”, bisa jadi contoh keberanian bagi yang lain. Selagi benar, gebuk terus. Kalau salah, mohon maaf. Biasa, lagi bencana agak emosi. Emang saat ini bisa apa kita.

Aceh sudah kena bencana. Jangan sampai kena bencana yang lebih parah. Yaitu, pemimpin kita kehilangan keberaniannya. Takut untuk memberi respon dan perlawanan atas sikap abai pemerintah pusat. Takut melawan perusahaan-perusahaan nasional yang hadir untuk mengeruk emas dan menghabisi hutan. Lalu meninggalkan kita dalam banjir dan lumpur. Mungkin mereka menunggu kita menjadi mayat semua. Jangan terhenti level administratif surat dan rekomendasi, atau muzakarah dan pernyataan saja.

Rakyat menunggu gubernur, bupati, rektor, akademisi, ulama, Ormas dan LSM untuk secara bersama memperlihatkan keberanian-keberanian sesungguhnya, guna menyadarkan kedunguan pemerintah pusat yang lalai dengan rakyatnya. Saat situasi krisis seperti inilah rakyat menunggu para pemimpin yang berani. Pemimpin yang berpihak pada rakyatnya. Sudah cukup main film dan selfie-selfie. Sudah cukup menangisnya. Saatnya berani.

Disaat krisis begini, Anda harus menyadari. Anda bukan sekedar wakil pemerintah pusat. Anda adalah wakil rakyat. Lakukan apapun untuk mereka. Maksimalkan rupiah yang ada. Naikkan bendera putih. Naikkan bendera apapun untuk mengundang harapan. Surati Tuhan. Surati PBB. Surati siapapun yang punya nurani untuk datang. Jangan sampai Anda lebih linglung dan lamban dari pemerintah pusat.

Terima kasih untuk semua yang telah bekerja. Termasuk Pak Presiden dan timnya, yang sudah capek bolak balik ke Aceh dan Sumatera. Sukses untuk semua!

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

Bagikan:

One thought on ““Leadership in Time of Crisis”, Menunggu Keberanian yang Tersisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

"Wujudisme Ekonomi": Menyingkap Relasi Tuhan dengan Uang

Thu Dec 18 , 2025
Jurnal

Kajian Lainnya

SAID MUNIRUDDIN adalah seorang akademisi, penulis, pembicara dan trainer topik leadership, spiritual dan pengembangan diri.