“Wujudisme Ekonomi”: Menyingkap Relasi Tuhan dengan Uang

Bagikan:

Jurnal Suficademic | Artikel No.41 | Desember 2025

“WUJUDISME EKONOMI”: MENYINGKAP RELASI TUHAN DENGAN UANG
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic Supertraining

Bismillahirrahmanirrahim.

ADA orang yang spiritualnya bagus, tapi uangnya sedikit. Ini golongan ustadz. Ada juga yang uangnya banyak, tapi spiritualnya lemah. Ini kelompok pengusaha. Sedikit kita temukan orang yang keduanya tinggi. Apa penyebabnya?

Akar masalahnya ada pada ideologi, cara pandang dikotomis tentang Tuhan dan uang. Orang mengira, Tuhan bukan uang. Uang bukan Tuhan. Akhirnya dipercaya, kalau mau dekat Tuhan, pasti jauh dari uang. Sebaliknya, jika ingin dapat uang, pasti renggang dengan Tuhan.

Orang yang menganut mazhab ini percaya, banyak uang akan jauh dari surga. Paling tidak, lama proses hisabnya. Sehingga paling akhir masuk surga. Artinya, uang membuat seseorang jauh dari Tuhannya. Uang adalah elemen yang dianggap berseberangan, sesuatu yang eksklusif atau berlawanan dengan Tuhan. Orang-orang ini membenci kekayaan. Sering benci sama orang kaya. Bahkan menolak untuk kaya. Ia sulit membayangkan untuk punya banyak uang.

Cara pandang dikotomis ini merembet kemana-mana. Mereka memisahkan ilmu dalam kategori “dunia” dan “akhirat”. Mereka melihat pasar sebagai “dunia”, dan masjid sebagai “akhirat”. Pesantren dipahami sebagai “akhirat”, dan universitas sebagai “dunia”. Orang alim di dayah disebut “ulama”. Sedangkan orang alim di kampus cukup dinamai “ilmuan” saja. Baca “kitab” di klaim untuk akhirat. Sedangkan membuat “rudal” dipahami sebagai pekerjaan duniawi.

Umat Islam termasuk yang cukup menderita dengan worldview semacam ini. Sebuah cara pandang yang telah memiskinkan umatnya dalam waktu cukup lama. Sebuah perspektif pemikiran yang telah menseparasi umat dari spirit mengejar uang, karena dianggap menjauh dari Tuhan. Atau mematahkan semangat umat untuk mendekat pada Tuhan karena dianggap bakalan tidak bisa punya banyak uang.

Tanpa sadar, kita sebenarnya sedang terperangkap pada mazhab “politeisme”. Percaya pada banyak “tuhan”. Cara pikir dikotomis-separatis seperti ini membuat kita percaya pada adanya kemajemukan dimensi. Kita disuruh percaya bahwa dunia itu bukan akhirat, dan akhirat bukan dunia. Disinilah “split personality” bermula.

Padahal, Islam mengajarkan cara pandang “tauhid”. Segalanya Ahad. Tunggal. Esa. Dunia adalah akhirat. Akhirat adalah dunia. Dalam makna lebih esoteris, Tuhan adalah uang. Uang adalah Tuhan. Pahami ini dalam makna esensialnya. Bahwa semuanya adalah Energi, dari yang Maha Tunggal.

Kita belum sampai pada kesadaran Tauhid kalau masih berpikir terpilah. Kita baru bertauhid ketika telah sampai pada kesadaran yang transenden, sekaligus imanen, bahwa segalanya bersumber pada Tuhan. Tak terpisah dari Tuhan. Segalanya adalah pancaran Tuhan. Segalanya adalah cahaya Tuhan. Tidak ada yang mandiri dalam wujud, melainkan berwujud karena adanya Wujud Tuhan. Dia adalah Wujud dalam segala yang zahir dan yang batin. Tidak ada jarak antara dunia dan akhirat, antara yang nyata dan yang gaib. Semuanya terhubung. Semuanya satu, dalam wujud gelombang dan penampakan yang beragam.

Dunia adalah tempat kita menemukan Tuhan. Sebab, disitulah akhiratnya. Tuhan adalah dimensi gaib, wujud akhirat yang bersemayam dalam elemen dunia. Ada Tuhan dalam semua esensi material. Ada Tuhan dalam jabatan. Ada Tuhan dalam uang. Ada Tuhan dalam segala penampakan.

Jika pandangan yang integratif ini dimiliki, umat Islam akan menjadi “Sulaiman”; hamba Allah, raja yang kaya raya. Akan jadi “Muhammad”; nabi, pebisnis dan penguasa. Ketika melihat uang, ia hanya melihat Tuhan. Ketika melihat Tuhan, ia menemukan aneka kekayaan. Ia merasakan Tuhan dalam segala yang ada. Dalam kesadaran tauhid yang maha meliputi ini, tidak ada yang memperbudaknya, kecuali Tuhan itu sendiri.

Inilah alasan kenapa Yahudi masih kaya raya. Sebab, di mata uang dolar mereka ada simbolisme Tuhannya. “In God we Trust”. Bagi mereka, agama adalah kekayaan. Agama adalah kesejahteraan. Hanya saja, cara-cara untuk memperoleh uang sering dilakukan dengan cara-cara kesetanan (manipulatif, koruptif, dan eksploitatif).

Mata uang dinar dalam dunia Islam, ketika masih pada era jayanya juga begitu, sering dibubuhi Nama Tuhan. Mereka masih mampu melihat Tuhan dalam sekeping uang. Ada Tuhan dalam segala unsur kebendaan. Emas atau uang adalah dimensi “Al-Ghaniy” dari Tuhan.

Itulah “wujudisme ekonomi”. Sebuah totalitas pandangan tentang Tuhan dan uang. Sebuah perspektif ketuhanan yang membumi. Tuhan yang menjadi akar dari kekayaan duniawi. Tuhan yang energinya hadir dalam segala wujud materi. Bagi orang semacam ini, mengejar uang sama dengan mengejar Tuhan. Mengejar Tuhan juga bermakna mengejar uang. Bagi mereka, ke masjid dan ke ladang, sama saja. Sebab, Tuhan ada dimana-mana. Hanya pendekatan yang ditempuh sedikit berbeda. Mereka ke masjid untuk menangkap Tuhan dalam wujud lebih intuitif. Di pasar, mereka menangkap Tuhan lewat gelombang-gelombang yang lebih interaktif dan pragmatis. Karena itulah, semakin kaya, semakin spiritualis mereka. Semakin dermawan sikapnya. Semakin bagus akhlaknya. Semakin sehat orangnya.

Sebaliknya, tanpa memahami prinsip-prinsip tauhid, tanpa kesadaran yang integratif semacam ini, kita sulit menemukan Dia dalam segala pencapaian. Di masjid pun tak pernah bertemu Tuhan. Apalagi di pasar malam. Dalam shalat tak melihat Tuhan, apalagi pada selembar uang. Tanpa kesadaran tauhid, segala amal dan ibadah menjadi murni “duniawi”. Semakin kaya, semakin buruk perilakunya. Semakin riya. Semakin was-was dia. Sebab hampa, sekuler, profane, atau kosong dari Tuhannya.

Wujudisme ekonomi bukan bermakna menuhankan uang. Wujudisme ekonomi adalah kemampuan untuk memahami bahwa Tuhan adalah sumber kekayaan. Wujudisme ekonomi adalah kemampuan merasakan kehadiran Tuhan dalam segala wujud sumberdaya duniawi. Hanya dengan cara itu kita bersemangat mengejar dunia, karena di dalamnya ada uang sekaligus vibrasi Tuhannya.

Tuhan tidak terpisah dengan asma-Nya. Tuhan tidak terpisah dengan sifat-Nya. Tuhan tidak terpisah dengan af’al-Nya. Tuhan tidak terpisah dengan karya-Nya. Tuhan tidak terpisah dengan segala yang Ada. Dia meliputi segalanya. Dia adalah dalam segala sumberdaya. Bahkan dalam uang sekalipun, bagi yang bisa menemukannya.

Sebab, sangat kasihan sekali, kita hidup mirip-mirip hanya untuk mencari uang. Tapi dalam proses itu, kita tidak menemukan Tuhan. Apalagi ketika Tuhannya tidak ada pada uang.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

Bagikan:

2 thoughts on ““Wujudisme Ekonomi”: Menyingkap Relasi Tuhan dengan Uang

  1. Casino slot365 cũng chính là điểm đến không thể bỏ lỡ cho những ai có niềm đam mê đặc biệt với các sòng bạc online. Thương hiệu cung cấp đầy đủ tựa game đẳng cấp mang đậm phong cách Châu Âu gồm cả Baccarat, Dragon Tiger, Xì Dách, Tài Xỉu,… Đảm bảo không thành viên nào sẽ cảm thấy nhàm chán khi tham gia giải trí, chắc chắn chúng tôi sẽ khiến bạn có giây phút cá cược đầy hứng khởi không thể quên. TONY01-12

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

E=mc², Menjadi Energi

Sat Dec 27 , 2025
Jurnal

Kajian Lainnya

SAID MUNIRUDDIN adalah seorang akademisi, penulis, pembicara dan trainer topik leadership, spiritual dan pengembangan diri.