Jurnal Suficademic | Artikel No.44 | Desember 2025
DAN HANYA KEPADA TUHANMU BERHARAPLAH!
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic
Bismillahirrahmanirrahim.
Pendahuluan
ADA pesan begini. Jika lelah berharap kepada manusia, kembalilah kepada Tuhan. “Dan kepada Tuhanmu Berharaplah” (QS. Asy-Syarh: 8). Namun, apakah dengan berharap pada Tuhan, pertolongan datang dengan mudah? Atau justru lebih sulit? Banyak juga kita lihat orang-orang yang mengalami stress, gara-gara berharap pada Tuhan. Lalu bagaimana seharusnya?
Dimulai dengan “Kelapangan Dada”
Benar. Pertolongan Tuhan akan datang dengan mudah. Dengan syarat: kita disayang Tuhan. Kita mampu melobi Tuhan. Kita bersedia diterima oleh Tuhan. Kita mengenal dan dikenal Tuhan. Sama juga dengan hubungan kita sesama manusia. Kalau kita dekat dengan seseorang, bantuan akan mudah kita terima.
Hidup itu banyak sekali tanggungjawab dan beban. Karena itulah, dari awal ayat surah Asy-Syarh ini sudah menjelaskan tentang “beban”, atau tantangan yang dihadapi Nabi. Nabi tak mampu memikul tugas dengan punggungnya sendiri. Ia butuh pertolongan. Maka sebaik-baik pertolongan datangnya dari Allah.
Namun ada syarat untuk sebuah pertolongan Tuhan bisa datang. Syarat utamanya adalah “kelapangan dada”. Itu disebutkan di ayat pertama:
اَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَۙ
Bukankah Kami telah melapangkan dadamu (Qs. Asy-Syarh: 1)
“Kelapangan dada”, itu kuncinya. “Dada” adalah kumpulan titik qalbu. Pusat-pusat lathaif. Titik konsentrasi kesucian. Koordinat kehanifan. Tempat bersemayamnya Tuhan. Dalam dunia tasawuf dijelaskan, dimensi rahasia ini tersembunyi mulai dari ujung dada kiri, sampai ke ujung dada kanan.
Di sejumlah titik spiritual inilah dosa terkumpul. Dosa adalah perilaku yang berlawanan dengan kehendak jiwa. Setiap tindakan yang dilakukan oleh pikiran, lidah, tangan, atau kaki; semua tersimpan di berbagai folder alam bawah sadar. Dosa-dosa yang kita lakukan, itu tidak langsung hilang. Melainkan terekam dalam berbagai file memori yang ada di “dada”.
Karena itulah, dada sering digambarkan menjadi “sesak”, kalau sudah kebanyakan dosa. Hidup jadi berat. Banyak masalah. Susah. Stres. Gelisah. Was-was. Semua penyakit fisik dan musibah mencuat ketika “beban” duniawi meninggi. Karena itu, kalau dada telah “lapang”, “beban” yang memberatkan “punggung” seketika hilang. Itu pesan di ayat kedua dan ketiga:
وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَۙ O الَّذِيْٓ اَنْقَضَ ظَهْرَكَۙ
Meringankan beban darimu. Yang memberatkan punggungmu (QS. Asy-Syarh: 2-3)
Jadi, selama pusat-pusat ruhani ini penuh kefasikan, Tuhan tidak akan datang. Sepanjang hidup pun kita panggil-panggil Tuhan, kalau stations atau maqam tempat Dia bersemayam tidak dibersihkan, Dia enggan datang.
Jadi tidak heran, meskipun beragama dan rajin beribadah, masalah kita banyak sekali. Beban hidup terasa semakin tinggi. Ribut di sana-sini. Bencana datang silih berganti. Sebab, hati kita tidak bisa menjadi wadah bagi kehadiran-Nya. Tuhan itu “Cahaya” (Nur). Kalau Dia hadir, “gelap” (dhulumat) akan hilang seketika. Kalau hidup terasa susah, berarti kita sedang jauh dengan Tuhan. Hati kita sedang kotor.
Surat Asy-Syarh ini dalam dunia sufistik menjadi salah satu patron untuk metode penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). Ada sejumlah aktifitas dalam proses taubat yang mengaplikasikan ayat ini. Pada level suluk (khalwat) selanjutnya, seperti yang dijalani nabi di gua Hirak, ada metode zikir lebih advance yang diterapkan untuk menetralisir memori-memori negatif yang melekat pada titik-titik subconscious di bagian dada. Perlu waktu berjam, berhari, bahkan berminggu untuk men-“delete” sampah-sampah ini.
Ketika proses ini telah dilakukan, biasanya melalui bimbingan seorang Guru, Jibril atau Khizir; baru kemudian jiwa menjadi tersucikan. Barulah kita “dikenal” oleh Tuhan. Dari proses ini pula kita biasanya akan “mengenal” Tuhan. Itu yang disebut “makrifat”.
Makrifat adalah hadirnya (Cahaya) Tuhan dalam dada. Kalau Dia telah hadir, tentu kita akan mengenalnya. Dia juga mengenal kita. Pada tahap ini bukan hanya kita yang “menyebut-nyebut” nama-Nya. Dia juga “menyebut-nyebut” nama kita. Saling menzikirkan. Kau ingat Aku, Kuingat engkau (QS. Al-Baqarah: 152).
Maka pada level makrifah inilah terjadi seperti yang dijelaskan pada ayat selanjutnya Asy-Syarh 4, derajat kita dinaikkan. Nama kita juga selalu disebut Tuhan:
وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَۗ
Dan meninggikan (derajat)-mu (dengan selalu) menyebut-nyebut (nama)-mu (QS. Asy-Syarh: 4)
Ayat-ayat selanjutnya menjelaskan bahwa orang-orang arif semacam ini mulai menyadari bahwa pada setiap kesulitan ada kemudahan. Seperti dua sisi dari sebuah koin. Dia juga menangkap kehadiran Tuhan pada setiap kejadian.
Bagi orang biasa, bencana atau musibah bisa bernilai “azab”. Menyakitkan. Tapi bagi orang arif, sebuah kejadian akan dilihat sebagai “ujian” kenaikan kelas. Dia menemukan kenikmatan Tuhan dibalik beratnya kejadian. Bersama api yang membakar, ada rasa dingin yang datang (pelajaran dari Ibrahim as). Bersama kejaran Fir’aun, ada lautan terbelah yang membawa keselamatan (pelajaran dari Musa as). Bersama dengki dan aniaya yang kita terima dari saudara-saudara kita, ada jabatan besar yang menunggu di depan mata (pelajaran Yusuf as). Bersama dengan proses ditelan oleh ikan, kita akan mendarat sebagai pemenang (pelajaran Yunus as). Semua nabi membawa pelajaran serupa.
Orang-orang semacam ini selalu ingin masuk dalam medan jihad yang menantang. Karena ia tau, Tuhan hadir untuk menaikkan derajat dan kebahagiaannya hanya lewat cobaan. “Beserta kesulitan ada kemudahan”. Tak ada kesulitan, tak ada kemudahan. Ia yakin akan formula ini. Sampai-sampai ayatnya diulangi dua kali:
فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ O اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۗ
Maka, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan (QS. Asy-Syarh: 5-6)
Pada ayat selanjutnya dikatakan:
فَاِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْۙ
Apabila engkau telah selesai (dengan suatu kebajikan), teruslah bekerja keras (untuk kebajikan yang lain (QS. Asy-Syarh: 7)
Dari ayat ini kita menyadari bahwa Islam bukanlah mazhab “fatalis”. Islam bukan agama statis, yang sibuk berdoa dan hanya duduk berharap pada datangnya keajaiban. Islam adalah agama dinamis, mazhab progresif. Agama pekerja. Umatnya diharuskan bergerak pada “jalan-jalan” (syariat dan tarikat) yang telah kita pilih. Sebab, dari kerja keraslah kesuksesan dan kebahagiaan diperoleh. Tuhan hadir lewat berbagai tantangan. Karena itu, tidak ada istilah “libur” secara total. Apalagi lalai. Kerja, zikir dan ibadah itu harus berkelanjutan. Never surrender!
Penutup
Setelah terus dan terus bekerja, tanpa henti, baru kemudian keseluruhan surah Asy-Syarh ditutup dan diresume secara apik dengan ayat terakhir:
وَاِلٰى رَبِّكَ فَارْغَبْ
Dan hanya kepada Tuhanmu berharaplah! (QS. Asy-Syarh: 8)
Bunyi ayatnya sangat “fatalis”. Berharap kok HANYA pada Tuhan. Seperti orang putus asa. Padahal tidak. Dimensinya sangat “motivatif”. Sangat spiritualis. Sebab, pasrah dan berharap HANYA kepada Tuhan, itu terjadi berbarengan dengan proses taubat dan kerja yang tak pernah berhenti. Berharap pada Tuhan hanya cocok dilakukan oleh orang-orang yang rajin dan tidak pernah putus asa. Mukjizat terjadi pada kelompok level ini.
The Suficademic Supertraining sering mengoptimalkan metode pemahaman yang reflektif dan progresif terhadap surah ke 94 dalam Quran ini, dalam berbagai sesi training pengembangan diri. Sehingga peserta menyadari dan memiliki kemampuan untuk menerapkan ayat-ayat semacam ini dalam pencapaian tujuan pribadi dan organisasi.
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****


Ok, 99okbet seems like something that could be good. Going try it out to see what the buzz is. Good selections of games and hopefully and a good payout. 99okbet