Jurnal Suficademic | Artikel No.01 | Januari 2026
DATANG SALAH, TIDAK DATANG LEBIH SALAH
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic
Bismillahirrahmanirrahim.
PRABOWO mengeluh, masyarakat begitu nyinyir dengan pejabat pemerintah. “Datang salah, gak datang dicari kesalahan”. Itu beliau sampaikan saat rapat koordinasi pembangunan hunian bagi korban terdampak bencana di Aceh Tamiang (Kamis, 1/1/2026).
Namun demikian, presiden kita juga masih berpikir positif. Semua kritik itu harus diambil sebagai peringatan bagi semua jajarannya.
Menurut saya, posisi pemerintah memang lagi “serba salah”. Alias “wajib salah”. Dimata masyarakat, posisi pemerintah memang tak ada lagi benarnya. Apapun yang dilakukan pasti salah. Jelek semua.
Kalau kita kaji-kaji, tidak salah juga masyarakat dalam menilai pemerintah. Sebab, sudah 80 tahun pemerintah bekerja. Tapi korupsi anggaran semakin merajalela. Pendapatan dari sumber daya alam tak tau mengalir kemana. Deforestasi makin nyata. Banjir tidak hanya membawa air, tapi juga lumpur dan kayunya. Beban rakyat semakin menggila. Penanganan tanggap darurat tak secepat yang dikira.
Jadi, memang sulit bagi rakyat untuk memahami dimana letak benar dari pemerintah kita. Sebab, hadir atau tidak hadir para pejabatnya, masalah sering tidak selesai. Kalaupun selesai, itu butuh waktu lama. Itupun kalau selesai. Terkadang masalahnya selesai sendiri, bukan karena diselesaikan oleh negara. Tidak jarang, negara hadir justru membawa masalah bagi masyarakatnya. Konon lagi, pejabat negara hanya hadir untuk kepentingannya sendiri, bukan untuk warganya.
Dalam kasus banjir Sumatera, pejabat berdatangan ke lokasi bencana. Setelah hampir sebulan, keadaannya masih begitu-begitu saja. Responnya lambat. Laporan ke presiden mungkin banyak bodongnya. Malah pernyataan-pernyataan pejabat sangat menyakiti hati masyarakat. Namun belakangan sudah mulai diubah pola komunikasinya.
Jangan samakan kasus pemerintah dengan kisah Lukmanul Hakim. Lukman adalah orang bijak. Apapun yang ia lakukan, juga selalu salah dimata orang. Dalam kasus Lukman, yang salah itu para menilai.
Dalam kasus pemerintah, curiga kita, memang pemerintah kita punca masalahnya. Jadi, harus diterima kalau disalahkan. Memang begitulah persepsi masyarakat terhadap negara. Persepsi tentu terbangun dari apa yang dilihat dan dirasa. Masyarakat tidak bohong. Mereka hanya mengutarakan isi hatinya. Kalau pun ada yang serius mengkritik, jangan diteror. Suara rakyat, suara Tuhan. Jadi, Tuhan memang lagi melihat kerja pemerintah sedang tak ada benarnya. Mau datang, salah. Sebab dilapangan hanya pencitraan saja. Tidak datang juga salah. Sebab, memang tidak peduli.
Suatu saat percayalah, pemimpin kita akan menjadi “maksum”, tanpa dosa. Disaat itu akan muncul persepsi berbeda dari masyarakat: “datang benar, gak datang juga benar”. Itu hanya akan terjadi, ketika trust telah diperbaiki.
Karena itu, tidak perlu sorotan kamera atau publikasi. Tak perlu pasang baliho dimana-mana untuk memberi tau bahwa Anda peduli. Tak perlu posting video setiap hari untuk menunjukkan sidak dimana-mana. Diam aja. Maksudnya, diam-diam bekerja. Tentu beda dengan diam-diam, nyolong uang negara. Di akhir periode, dirinya kaya. Rakyatnya tidak.
Yang diharapkan adalah “positive silence”. Dalam diam menciptakan perubahan. Kalau perubahan terjadi begitu cepat dan kesejahteraan benar dirasakan ada, masyarakat pasti akan menilai kinerja pemerintah dalam angka sempurna. Pada posisi seperti ini, sebuah tindakan yang benar dari presiden akan dipuja-puja. Salah sekalipun, pasti akan dibela. Dibela oleh seluruh masyarakat, bukan oleh buzzer atau juru bicara.
Sukses terus untuk pak Presiden dan para menterinya. Untuk para gubernur dan bupati di daerah bencana. Selalu ada waktu untuk mengambil hati dan mengubah persepsi rakyat. Ubah niat. Berikan sedikit fokus ke Tuhan. Jangan terlalu banyak berdagang dengan anggaran kemanusiaan. Perbaiki akhlak dan kinerja, citra Anda akan bagus semua.
Saran kami untuk tahun bencana: “stay silent, keep working!”. Action speaks louder than words. Sebab sudah kita lihat, hampir semua komentar pejabat paska bencana, itu menjadi bencana baru bagi publik Indonesia!
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

