Jurnal Suficademic | Artikel No. 05 | Januari 2026
HAJI KORUPTIF
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic
Bismillahirrahmanirrahim.
“Haji koruptif” adalah lawan dari haji mabrur. Ini istilah tentang perilaku dalam berhaji yang mengalami degradasi dari sisi nilai-nilai. Tidak hanya pelaksana haji yang memungkinkan untuk melakukan tindak pidana korupsi. Calon jamaah juga berpotensi untuk berperilaku koruptif.
***
Orang ramai-ramai ingin naik haji, mungkin karena faktor “mampu”, ada uang. Yang berhaji itu memang rata-rata ada uang. Harus ngumpulin uang dulu. Walau banyak juga yang sudah ada uang, tidak mau berhaji. Kenapa? Boleh jadi karena daftar antriannya sangat panjang. Atau mungkin juga tak ada sentuhan hati untuk pergi kesana.
Karena banyak dari kita yang sudah kaya, maka ramai sekali yang naik haji. Karena itu, tanah suci jadi macet. Padat sekali. Terkadang, untuk tawaf pun sudah tidak bisa, “stuck”. Harusnya tidak sampai begitu. Ini bukan sekedar fenomena minat dalam beragama yang meninggi. Tapi juga ada keseimbangan yang terganggu. Ada lapak untuk orang-orang yang lebih berhak, tapi sudah diisi oleh entah siapa-siapa.
Naik haji tidak perlu dipaksa. Tidak naik haji pun tidak apa-apa. Sebab, memberi makan anak yatim di samping rumah, pahalanya juga sama. Sampai begitu agama mengatur, bahwa haji itu tidak ‘penting-penting’ kali. Ada alternatif pahala. Kalau mau cari pahala.
Kenyataannya, ada yang haji sampai berkali-kali. Kalau umrah jangan tanya lagi. Apalagi artis-artis kita. Ada orang yang sudah berumrah sampai tak terhitung lagi berapa kali. Ini sudah termasuk perilaku “koruptif”. Sudah berlebihan sekali. Padahal, Nabi saja entah satu atau dua kali melakukan itu dalam hidupnya.
Kondisi macet saat haji dan umrah juga terjadi karena ibadah ini telah menjadi sektor bisnis terpenting bagi Saudi. Quota jamaah diperbanyak, biar banyak masuk uang. Ini tindakan “koruptif”. Lalu uangnya ikut di invest ke Israel dan Amerika. Saudi tau, jamaah yang hadir kesana bukan selalu karena alasan spiritual. Terkadang murni motif wisata. Makanya, di Mekkah pun sudah mulai dibangun bioskop. Setelah capek tawaf, disediakan ruang untuk sedikit hedon.
Jadi, pelaksanaan haji sudah kacau memang. Padahal, haji dan umrah itu sederhana saja. Kita lakukan kalau ada panggilan. Bukan sekedar ada uang.
Panggilan siapa? Bukan peanggilan biro haji. Juga bukan panggilan Muhammad Ben Salman. Melainkan panggilan Muhammad Rasulullah. Kalau sudah diundang oleh Nabi, uang pun harus kita cari. Harus berangkat. Kalau diundang oleh Nabi, pasti mampu kita kesana. Karena banyak juga yang berangkat bukan karena dia orang kaya. Orang miskin juga ada.
Jadi, berhaji atau berumrah idealnya dilakukan kalau ada panggilan Rasulullah. Kalau tidak ada, tidak usah. Santai saja di kampung. Sambil ngopi-ngopi. Sambil kasih makan anak yatim dan orang miskin di sekitar kita. Sambil bantu-bantu saudara kita yang kena bencana. Jangan sampai lagi banjir, masyarakat lagi butuh bantuan, kita malah menghilang kesana. Apa tidak disuruh push up sama Nabi sampai disana.
Tanah suci macet saat musim haji, itu juga karena banyak “romli” (rombongan liar). Rombongan yang tidak pernah diundang oleh Nabi. Jangankan disambut, mungkin sampai disana kena tampar sama Nabi. “Ngapain kau kesini? Siapa yang undang?”, bentak Nabi. Kira-kira begitu. Kita kesana hadir hanya untuk wisata. Atau semata karena kena rayuan travel umrah dan haji. Karenanya susah mabrur. Malah tambah bingung saat disana. Bahkan, sejak tiba sampai pulang, Kakbah pun tak terlihat oleh mata. Tidak ada rasa. Marah-marah saja.
Jadi, sebelum berhaji, tanya dulu kepada Rasulullah. Boleh atau tidak kita berkunjung ke rumah-Nya. Kalau dibolehkan, pergi. Kalau tidak, jangan. Jadilah jamaah yang menerima undangan resmi dari Nabi. Bukan menjadi jamaah liar. Jika ada panggilan Nabi, prosesnya pasti lapang dan mudah. Dibuka jalan, ditengah kemacetan yang luar biasa. Diberi rasa tenang, di tengah panas yang membara. Perjalanan umrah dan haji memang berada pada tempat yang sama, tapi pada dimensi berbeda.
Haji dan umrah adalah perjalanan untuk “berjumpa”. Kita hadir setelah diundang, ada pesan dari Nabi untuk mengunjunginya. Sehingga tidak diabaikan oleh Nabi saat tiba disana. Itulah perjalanan spiritual. Perjalanan karena rindu kita kepada Nabi. Tapi sebenarnya, Nabi yang rindu dengan kita. Mungkin karena kita terlalu sering bershalawat kepadanya. Nabi mendengar, lalu kita disuruh untuk menghadapnya.
Itulah haji mabrur. Jamaah haji, yang nama-namanya ada dalam “list” undangan Nabi. Jamaah yang ditunggu. Karena itu, jumlahnya tentu tidak banyak. Pasti sedikit.
Karena itu, haji itu idealnya memang tidak sampai membludak. Tidak sampai harus nunggu 10, 20, bahkan 40 tahun untuk bisa berangkat. Kemacetan dan panjangnya “waiting list” ini terjadi karena haji telah berubah menjadi bisnis. Atau telah menjadi ibadah cuci dosa, setelah melakukan banyak sekali penipuan dan korupsi. Lalu berharap menjadi suci ketika pulang dari sana.
Tidak bisa begitu. Berangkat dengan uang haram saja sudah tertolak kehadiran kita. Jamaah harus sudah harus suci sejak di kampung halaman, sebelum hadir untuk menjumpai Allah dan Rasulnya. Karenanya, di era silam, masyarakat terlebih dulu menempuh jalan mujahadah atau tazkiyatun nafs sebelum berangkat haji. Karena Allah dan Rasul hanya menyambut jiwa yang suci. Tanah Suci hanya untuk jiwa yang suci.
Sosok seperti Teungku Abdurrauf bin Ali atau dikenal dengan Syiah Kuala misalnya. Itu terlebih dahulu mensulukkan muridnya sebelum berangkat haji. Lalu beliau bertanya kepada Rasul, siapa diantara muridnya yang boleh berangkat kesana. Orang-orang yang telah disetujui oleh Rasul inilah yang diantar oleh sang Syekh untuk menghadap sang Nabi. Perjalanan orang-orang semacam ini sudah pada level makrifat. Spiritual ketemu spiritual.
Karenanya, saat wukuf di Arafah misalnya, itu mereka betulan “menunggu” hadirnya Allah ta’ala. Mereka menemukan rasa dan makna dalam setiap ritual fisik selama disana. Mereka terkoneksi. Mereka berkomunikasi. Sebab, yang memimpin umrah dan haji mereka, pada hakikatnya adalah Rasulullah sendiri. Mereka merasakan kehadiran Nabi, dan sosok-sosok manusia suci yang situs dan ibadahnya mereka napak tilasi.
Semoga kita semua senantiasa merindukan Rasul. Sehingga mendapat undangan untuk menjadi haji mabrur!
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

