79 Tahun HMI: Pelajaran dari Pedofilia Epstein dan Okultisme Elit Global

Bagikan:

Jurnal Suficademic | Artikel No. 08 | Januari 2026

79 TAHUN HMI: PELAJARAN DARI PEDOFILIA EPSTEIN DAN OKULTISME ELIT GLOBAL
Oleh Said Muniruddin | Dosen FEB USK | Presidium KAHMI Aceh | Penulis Bintang ‘Arasy

Bismillahirrahmanirrahim.

Pendahuluan

Pada usianya yang ke 79, HMI dihadapkan pada satu isu global.

Kapal induk USS Abraham Lincoln, 6 kapal perang dan 3 kapal perusak; sudah standby di teluk Persia. Termasuk gugus kapal selam dan puluhan pesawat tempur F35. Radar, amunisi pencegat rudal, dan peralatan tempur lainnya siang malam dikirim oleh negara-negara sekutu untuk memperkuat pertahanan kota-kota Israel. Tujuannya satu: persiapan untuk kembali menyerang Iran!

Sampai 5 Februari 2026, ketegangan terus memuncak. Tapi belum terdengar ledakan. Kecuali satu drone pengintai Iran yang terus mengutit Abraham Lincoln, ditembak pesawat tempur AS. Negara-negara Arab kali ini sangat khawatir. Karena perang bukan hanya secara terbatas akan terjadi antara Iran dengan Israel yang di back up Amerika. Tapi akan membakar seluruh kawasan.

Iran kali ini berjanji. Rudal-rudal canggihnya tidak hanya akan menenggelamkan kapal bertenaga nuklir AS beserta 3000an marinir yang bersembunyi di dalamnya. Tapi juga akan melumat habis 19 pangkalan militer AS yang tersebar di Timur Tengah. Semua koboi Amerika akan dipulangkan sebagai mayat.

Kelompok-kelompok proksi Iran seperti Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, dan Hasad Syakbi di Irak juga sudah melakukan konsolidasi, menandatangani kontrak kesyahidan, bahkan membubuhinya dengan stempel darah. Mereka telah berbai’at untuk ikut bersama Iran membakar seluruh negara di kawasan Arab yang diketahui memfasilitasi AS dan Israel.

Donald Trump sebenarnya tidak begitu menginginkan perang. Tapi hidungnya sudah dicucuk zionis. Netanyahu tidak tahan lagi berperang sendirian. Sudah hampir tiga tahun, Gaza tidak bisa diselesaikan. Hamas tidak hancur. Kejahatan genosida bablas terkuat ke mata dunia. Israel terisolir. Imej yang telah puluhan tahun dibangun, hancur oleh “Badai Al-aqsha”.

Oleh Pengadilan Kriminal Internasional (ICC), Netanyahu ditetapkan sebagai “penjahat perang”. Pada 21 November 2024, surat perintah penangkapan terhadapnya resmi dikeluarkan. Netanyahu jadi buronan. Tidak ingin terlihat jahat sendirian, ia ingin semua terlibat dalam perang. Lawannya Iran. Iran telah hadir untuk memperkuat faksi-faksi perlawanan di kawasan. Gara-gara Republik Islam Iran, cita-cita pembentukan “Israel Raya” untuk menguasai hampir seluruh tanah dan sumberdaya alam Arab, menjadi terkendala.

Jadi, semakin lama Trump menunda perang dengan Iran, semakin banyak file Epstein yang dibuka. Terakhir, pada 2 Februari 2026, ada 3 juta halaman yang kembali diekspose departemen kehakiman AS (Department of Justice/DOJ). Dokumen itu ikut merilis kebobrokan Trump. Didalamnya ada bukti email, rekaman komunikasi, foto, dan video bagaimana Trump berpesta, memperkosa, dan menyiksa anak-anak dibawah umur di pulau “pedofil” Epstein.

Bukan hanya pejabat dan tokoh Barat yang menjadi pelanggan ribuan anak ‘peliharaan’ Epstein; termasuk yang dibeli dari Turki, Ceko, dan beberapa negara Asia lainnya. Di dalamnya ada nama MBS putra mahkota Saudi. Nama keluarga “Al-Thani” penguasa Qatar juga muncul 297 kali dalam berkas menjijikkan itu. Wajah Muhammad bin Zayed emir UEA, yang sedang dicium dua perempuan muda, juga muncul vulgar di dalamnya. Rekaman skandal semacam ini telah membuat penguasa-penguasa Arab menjadi tidak berdaya. Lalu tunduk patuh pada kepentingan zionis di wilayahnya.

Siapa Jeffrey Epstein?

Jeffrey Edward Epstein adalah seorang yahudi Amerika kelahiran Brooklyn, New York tahun 1953. Awalnya berkarir sebagai guru fisika dan matematika. Kemudian menjadi pemain saham. Terakhir, ia menjadi agen Mossad. Ia ditugaskan mengelola perempuan-perempuan muda serta anak-anak dibawah umur untuk dijajakan ke tamu-tamu ternama dunia. Target mereka adalah kepala pemerintahan, raja, emir, politisi, bangsawan, artis, banker, dan orang-orang berpengaruh lainnya.

Dibantu oleh istrinya, Ghislaine Maxwell, pusat operasinya ada di Little Saints James di sebuah pulau pribadi di United State Virgin Island. Seluruh pulau dipasangi kamera rahasia. Mereka merekam semua gerak tamu dan pejabat, pesta seks, penganiayaan, pembunuhan, dan ritual-ritual penyembahan setan lainnya. Semua tamu yang terekam menjadi “aset” bagi Israel.

Karena itulah, hampir tidak ada politisi, emir, presiden, dan pejabat dunia yang tidak menurut pada keinginan Israel. Sebab, semua rekaman kejahatan mereka sudah ada di tangan. Termasuk Trump. Jika berani menolak keinginan Israel, satu persatu kasusnya dibongkar. Bukan cuma Trump, beberapa presiden AS terdahulu juga ada dalam berkas Epstein, seperti Bill Clinton dan George Bush.

Tahun 2005, pertama kali Epstein diperiksa atas kasus kejahatan seks terhadap anak-anak. Kasus demi kasus terungkap. Baru tahun 2008 ia divonis. Namun hanya 13 bulan, dan juga mendapat izin untuk keluar bekerja. Tahun 2019 ia kembali ditangkap atas berbagai kasus perdagangan seks anak.

Saat proses persidangan inilah, Epstein mati di sel penjaranya, di ruang Special House Unit (SHU) di Metropolitan Correctional Center, New York pada 10 Agustus 2019. Kematiannya disetting seperti bunuh diri. Menurut tim investigasi, rekaman utuh CCTV gantung diri-nya ‘dipotong’. Sehingga tidak tau, siapa dan bagaimana ia mati. Diduga, yang bunuh adalah Mossad sendiri. Begitu cara kerja intelijen. Mereka akan mengeliminasi agennya sendiri, ketika sudah berbahaya dan tidak diperlukan lagi. Sebab, terlalu banyak informasi yang terbongkar ke publik jika si agen tertangkap dan berbicara.

Namun, beberapa teori konspirasi lainnya justru mengatakan dia tidak mati di penjara. Kematiannya hanya skenario. Ia sudah diamankan ke Israel. Ia masih dijaga dan menjadi aset yang belum habis masa pakai. Isu kematian hanya sebagai pengalih untuk menutup semua kasusnya. Istrinya Maxwell menjadi tumbal. Pengadilan memutuskan bahwa ia bersalah dan dihukum 20 tahun penjara.

Dalam perang 12 hari melawan Iran yang meletus pada 13 Juni 2025, Trump awalnya juga tidak mau berperang. Tapi, setelah sedikit arsip kasus pedofilnya dibongkar, langsung pada 22 Juni 2025 ia memerintahkan pesawat siluman B-2 Amerika mengebom tiga fasilitas nuklir Iran. Sesuai permintaan Israel. Hasil akhir dari perang sudah kita lihat, infrastruktur Israel luluh lantak oleh hujan rudal dari Iran. Upaya untuk kembali menggulingkan Ayatullah dengan menunggangi protes rakyat Iran yang dimulai pada 28 Desember 2025 juga kembali pupus.

Trump, sebagaimana presiden Amerika lainnya, adalah “alat” lobi zionis. Trump saat ini sudah seperti Fir’aun yang mau tenggelam di laut merah. Menolak mundur dari keinginan zionis tidak bisa, maju juga kejepit. Dia tentu tidak mau tenggelam sendiri. Dia ajak sejumlah presiden yang masih segan dengan dia, untuk melayani lembaga perdamaian Board of Peace (BoP). Termasuk Presiden kita. Tujuannya tentu untuk melayani kepentingan Zionis dalam mengambil tanah Palestina. Lalu Presiden mencoba meyakinkan ulama dan ormas Islam lainnya. Lalu Ormas dan ulama ini berusaha meyakinkan jamaahnya. Begitulah cara multilevel marketing zionis, masuk sampai ke level-level kampung di seluruh dunia. Habis kita. Semoga Presiden kita selalu dalam lindungan Allah SWT.

Okultisme Elit Global

Yang lebih mengejutkan lagi, ternyata; Trump, elit dunia dan politisi ini bukan hanya pelaku pedofilia. Tapi juga penyembahan iblis “Baal”. Arsip Epstein turut membongkar keterlibatan para selebriti dan penguasa dunia dalam ritual-ritual okultisme yang bahkan secara sadis mengorbankan anak-anak.

Dalam penyelidikan kasus Epstein, terungkap bahwa George Bush telah melakukan pelecehan terhadap seorang korban anak laki-laki dan melakukan ritual pengorbanan dengan memotong kedua kaki korban menggunakan pedang. Pada kasus lainnya, para politisi global ini juga pengkonsumsi daging manusia, khususnya anak-anak.

Terkait ini, “Kaum Zionis melakukan dosa-dosa paling keji untuk mendekati setan dan jin. Dalam dokumen yang diterbitkan terkait Epstein, mayat bayi disimpan di lemari es bersama dengan daging ayam dan dikonsumsi!”, sebut Profesor Raifi Pur, dalam tweetnya. Putin pada tahun 2024 mengatakan: “Elit Barat telah selama berabad-abad terbiasa mengisi perut mereka dengan daging manusia, namun pesta bagi para pemburu darah ini akan segera berakhir.”

Bisa Anda bayangkan, ternyata, ritual penyembahan setan dan pengorbanan anak-anak masih dipraktikkan secara nyata, sunyi-sunyi tapi terbuka, di tengah komunitas elit dunia. Kita pikir, ini sudah selesai sejak Ibrahim as mengorbankan kibasnya. Kita pikir, kasus-kasus ini hanya terjadi terakhir kali di kalangan elit jahiliah Mekkah ketika mengorbankan anak-anak perempuan mereka.

Ini menjadi menjadi pelajaran bagi kita, ternyata penyembahan jin, iblis dan setan abadi sepanjang masa. Dan itu bukan dilakukan oleh kelompok kampungan, tradisional, dan terbelakang. Tapi oleh elit global dan para pengikutnya. Oleh orang-orang kaya, banker, politisi, saintis, artis, dan lainnya. Mereka percaya, ada kekuatan mistis, ada kesadaran magis yang hadir ketika mereka melakukan ritus-ritus primitif semacam itu. Ternyata, para elit yang kita duga sangat rasional cara berpikirnya; percaya pada hal-hal berbau pagan semacam itu.

Perang Melawan Iran

Uniknya, jaringan pedofil dan penyembah setan ini, lewat isu kemanusiaan kemudian berkumpul dan berkoalisi untuk menjatuhkan Imam Ali Khamenei, pemimpin spiritual Iran. Tapi tidak pernah berhasil. Khamenei mungkin satu-satunya pemimpin dunia yang masih tersisa, yang tidak “omon-omon”. Tidak munafik orangnya. Masih sinkron antara apa yang ia pikir, ucapkan, rasakan, dan lakukan. Salah satu cita-citanya adalah membebaskan Alquds, yang pernah menjadi sentra kenabian itu, agar tidak menjadi pusat penyembahan setan terbesar di dunia.

Apa penyebab negara seperti Iran masih bertahan dari gempuran koalisi penyembah setan?

Paling tidak, ada dua kekuatan yang mereka punya.

Pertama, pemimpinnya bertauhid. Imannya kuat. Fokus mereka adalah Tuhan. Bahkan mereka menganggap negeri yang dipimpinnya itu titipan dari imam atau orang-orang shalih dari masa depan. Sejak revolusi tahun 1979, nama pemimpin Iran tidak bisa dimasukkan dalam daftar jaringan bisnis kelompok penyembah setan. Pemimpin Iran tidak ada dalam list pelanggan Epstein. Nafsu mereka lumayan terkontrol. Mungkin mereka menolak untuk bejat. Dan sebenarnya, itulah penyebab Yusuf as naik derajat menjadi “pemimpin besar”. Nafsu terhadap perempuan adalah jebakan terbesar bagi calon pemimpin. Kalau ini bisa dikendalikan, Anda menang. Anda akan berada diluar jangkauan iblis. Ini modal bagi masa depan.

Kedua, Iran kuat secara sains. Tidak cukup dengan tauhid dan iman. Tidak memadai dengan pengajian-pengajian. Seorang pemimpin atau negara Islam harus kuat secara teknologi, agar disegani. Jika Iran tidak punya rudal dan kecerdasan militer lainnya, mungkin sudah sejak dulu dilumat zionis yang dibantu setan-setan pendukungnya.

Pelajaran Bagi HMI

Inilah pelajaran “leadership” bagi organisasi pembinaan mahasiswa seperti HMI, pada usianya yang ke 79. Pelajaran ini juga dapat diambil oleh organisasi pemuda dan kemasyarakatan lainnya di Republik ini. Ringkasnya begini.

Pertama, dunia masih seperti yang disebutkan dalam Al-Quran: dikuasai setan. Penyembahan setan, itu terjadi sepanjang masa. Banyak elit penguasa, pebisnis dan selebriti memperoleh kekuatannya dari sisi gelap iluminati semacam ini.

Kedua, nafsu, ketika tidak terkendali akan dimanfaatkan oleh setan. Anda akan dijebak sehingga menjadi pengikut setianya. Menjadi leader, seperti disebutkan dalam NDP HMI, adalah menjadi pribadi-pribadi yang “ideologis”, “kamil”, atau “hanif”, yang hatinya terpaut pada kesadaran fitrah saja. Selebihnya, yang keluar dari pakem ini akan binasa.

Ketiga, tugas “true leader” adalah mengenali setan. Lalu bersumpah dan berjuang untuk melawannya. Perjuangan harus dilakukan dengan organisasi, barisan, dan strategi yang rapi. Di atas itu semua, penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dalam wujud sains teknologi menjadi sebuah keharusan. Sebab, setan sangat takut dengan rudal, dengan “hujan api” yang jatuh dari langit, dengan “batu-batu” yang dilempar Ibrahim, dengan serangan “burung Ababil”.

Penutup

Dari isu global di atas kita belajar. Masa depan adalah milik kaum yang memiliki kekuatan “spiritual” (keislaman) dan “sains” (keindonesiaan). Selebihnya, akan terjerumus menjadi pengikut setan. Semoga kader-kader HMI memahami tentang dua hal ini di usianya yang ke 79. Dulu, di tahun 1968 Cak Nur berkeliling sejumlah negara untuk memahami nilai dan gerakan keislaman yang sedang berkembang, sebelum pada tahun 1971 lahir dokumen “sakral” bernama NDP HMI. Kita sekarang juga harus begitu. Mesti memahami perkembangan global untuk mengupdate nilai dan spirit keislaman.

Terakhir, tak kalah penting, seperti dibahas dalam NDP Bab 6, kader HMI perlu membenah ritual ibadah sholatnya, agar ruhaninya benar-benar melakukan “mikraj”, dan terhubung dengan Tuhan. Sebab, sholat pun bisa berubah menjadi instrumen penyembahan setan, ketika khusyuk tidak didapatkan. Sholat yang tidak khusyuk akan membawa jiwa dan pikiran kita ke berbagai lapisan alam yang penuh dengan setan.

Karena itulah banyak dari kita yang rajin melakukan shalat, tapi masih korup. Moralnya bangkrut. Perilakunya munkar. Sebab, tanpa sadar, yang kita sembah dalam ibadah bukan Allah. Melainkan setan. Tanpa sholat yang benar, perilaku keorganisasian dan pemerintahan akan lebih banyak terinspirasi oleh bisikan setan, daripada ilham dari sisi Tuhan. Sehingga jiwa leadership yang adil dan sosial tidak pernah terwujud.

Selamat Milad HMI, 5 Februari 1947-2026. Yakin usaha sampai!

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kajian Lainnya

SAID MUNIRUDDIN adalah seorang akademisi, penulis, pembicara dan trainer topik leadership, spiritual dan pengembangan diri.