Jurnal Suficademic | Artikel No. 11 | Februari 2026
PUASA, MENAHAN DIRI DARI BERBUAT ‘BAIK’
Oleh Said Muniruddin | Rector | Suficademic
Bismillahirrahmanirrahim.
BULAN puasa adalah bulan “menahan diri”. Menahan diri dari apa?
Ada dua.
Pertama, menahan diri dari berbuat yang jelas-jelas “buruk”. Kedua, menahan diri dari berbuat sesuatu yang kita kira “baik”.
Untuk yang pertama kita sudah paham. Mencuri, memaki, menebar fitnah, berdusta, dan sejenisnya; semuanya buruk. Selama berpuasa, keinginan untuk melakukan itu harus di tahan. Harus dihilangkan.
Yang kedua, puasa adalah juga untuk menahan diri dari berbuat sesuatu yang kita kira “baik”. Contoh: makan, minum, dan tidur; itu baik. Tapi kalau mau lebih baik, Anda tidak boleh makan, minum, dan tidur. Dalam artian; kurangi makan, minum, dan tidur.
Nah! Coba perhatikan. Hal yang selama ini kita anggap “baik” sekalipun, itu sebenarnya tidak baik. Orang menjadi berpenyakit, tok gara-gara makan. Makan yang baik sekalipun, kalau terus menerus, itu menjadi penyakit. Justru dengan puasa, dengan memutus mata rantai itu untuk jangka waktu tertentu, kita jadi sehat.
Kita kira, dengan ngopi dan merokok setiap hari, kita jadi fresh dan sehat. Begitu rutin kita ngopi dan ngerokok, sampai jadi kebiasaan. Terkadang menjadi fanatik. Pada tahap tertentu, Anda bisa sakau gara-gara tidak ngopi atau ngerokok sehari. Itu akibat kebiasaan yang “memberhala”. Konon lagi, asam lambung, jantung dan sebagainya juga bisa muncul karena kita memelihara kebiasaan yang kita bela ini.
Tidak hanya ngopi atau merokok; sering ngomong, sering posting berita di WA, sering membaca, sering berdiskusi, juga tidak baik. Segala sesuatu yang “sering”, lama kelamaan akan “memberhala”. Membentuk “diri” kita. Padahal, itu semua ‘baik’.
Pada level khawash, segala yang kita kira “baik”, ketika itu “memberhala”, semuanya menjadi tidak baik. Apakah Anda mengira, suka berceramah agama, itu baik? Apakah Anda mengira mengajar agama, itu baik? Apakah Anda kira suka posting berita agama, itu baik? Apakah Anda kira suka membaca artikel dan kitab-kitab tentang agama, itu baik?
Tidak!
Justru, seringkali, semua “kebiasaan” itu menjauhkan kita dari Tuhan yang sesungguhnya. Sesuatu yang kita ulang-ulang, itu menjadi pola. Seringkali pola itu tidak membuat kita menjadi lebih baik, atau lebih dekat dengan Tuhan. Justru menjadi sebuah “ego” yang belum tentu mendekatkan kita dengan Tuhan. Menjadi rutinitas tanpa nyawa. Membuat kita semakin terlihat “relijius”, iya! Menjadi “spiritual”, belum tentu!
Karena itulah, dalam tradisi “khawash” (khas para nabi dan sufi), bulan puasa adalah bulan untuk “menghancurkan” semua ego dan pola yang telah terbentuk, yang belum tentu dan bahkan seringkali kali tidak memiliki unsur-unsur ketuhanan. Ramadan adalah bulan untuk mengubah “pattern”, atau kebiasaan. Termasuk kebiasaan-kebiasaan yang kita kira baik. Bulan puasa adalah bulan untuk mendekatkan diri hanya kepada Tuhan. Caranya, dengan menjauh dari segala sesuatu yang bukan Tuhan.
Semua hal baik yang kita sebut di atas, itu bukan -belum tentu- Tuhan. Itu hanya kebiasaan untuk melaksanakan sesuatu yang kita anggap sebagai perintah Tuhan. Belum tentu Tuhannya ada disitu. Belum tentu karena rajin sholat kita ketemu dan menjadi dekat dengan Tuhan. Seringkali kita semakin bersetan. Betapa banyak orang yang semakin korup, zalim dan mungkar. Padahal, ibadahnya terlihat kuat dan rajin.
Ini bukan untuk mengatakan bahwa ibadah seperti sholat harus ditinggalkan. Tidak. Kita hanya membahas, bahwa segala kebiasaan yang tidak mengandung Tuhan harus dihilangkan. Temukan dulu Tuhan. Lalu bawa Dia dalam semua ibadah dan kebiasaan.
Karena itu, seorang nabi seperti Muhammad, sejak muda sudah menggunakan waktu selama bulan Ramadan untuk meninggalkan “dunia”. Ia tinggalkan perdagangan. Ia tinggalkan kantor. Ia tinggalkan anak dan istri. Ia tinggalkan kebiasaan bicara. Ia tinggalkan masyarakatnya. Ia tinggalkan ibadah-ibadah di seputaran Kakbah dan Masjidil Haram. Ia justru pergi menyendiri. Ia masuk ke gua. Melakukan “retret” dalam kegelapan malam.
Ia percaya, Tuhan ada setelah ia meninggalkan itu semua. Setelah meninggalkan bukan hanya hal-hal buruk, tapi juga hal-hal baik yang selama ini telah menjadi kebiasaan. Tuhan ada dalam kemampuan menahan dan mem-fana-kan “diri”. Ketika semua kebiasaan dan kesadaran yang selama ini terbentuk menjadi “hilang”, disitulah momentum “qadar” datang. Quran, Ruh atau malaikat-malaikat Tuhan datang.
Tuhan hanya “Ada”, ketika kita ‘tiada’. Tuhan menjadi “hidup”, ketika kita ‘mati’. Tuhan maujud, ketika kehilangan “diri”. Puasa adalah salah satu cara kita untuk membakar, menahan, bahkan ‘mematikan’ diri. Tuhan hadir bukan hanya ketika kita tidak lagi makan, tidak lagi minum, dan tidak lagi banyak tidur. Tapi Dia juga muncul ketika kita tidak lagi banyak berbicara, melihat dan mendengar terhadap sesuatu. Selain hanya kepada-Nya.
Bulan puasa pada hakikatnya adalah bulan “retreat”. Bulan menyerah. Yaitu, menyerahkan diri hanya kepada-Nya. Anda harus lari dari dunia dan kebiasaan Anda. Lalu masuk ke ruang-ruang “inkubasi”. Seperti dalam rahim ibu. Sebuah ruang primordial. Kawasan sunyi. Dimensi dimana seluruh indera Anda harus terkunci. Ruang dimana hanya ada Anda dan Tuhan saja.
Karena itulah, dalam riwayat disebutkan, Nabi sekalipun tidak banyak muncul ke publik di bulan seperti ini. Hanya beberapa hari saja terlihat di masjid. Ia “mengunci” diri. Berkhalwat. Beriktikaf. Di kamar rumahnya.
Penutup
Apa yang kita bahas di atas adalah “metode khusus” dalam berpuasa, dari banyak metode lainnya. Metode paling sederhana, atau “metode awam” adalah menahan diri dari berbuat buruk. Lalu memperbanyak memperbuat hal-hal yang dianggap baik. Untuk anak-anak ini metode terbaik.
Namun, bagi observer puasa lebih advance, “metode khusus” bisa menjadi pilihan. Dari metode ini kemudian kita paham, kenapa para nabi, ulama dan orang tua kita terdahulu “menghilang” untuk melakukan suluk atau uzlah selama bulan puasa. Ada yang melakukannya selama sebulan penuh. Ada juga yang hanya sepuluh hari saja. Tujuannya untuk “mengunci” diri agar tidak ingat dan tidak melakukan apapun. Termasuk hal-hal yang selama ini dianggap baik.
Suluk adalah perjalanan “retret”, sekaligus “reset”, untuk meninggalkan semua kebiasaan yang telah terbangun selama 11 bulan. Lalu meng-upgrade visi melalui proses menyendiri bersama Tuhan. Kalau dilakukan dengan benar, maka seseorang akan pulang dengan membawa kesadaran baru.
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****
