Islam Aceh: Fenomena Syariat tanpa Makrifat

Bagikan:

Jurnal Suficademic | Artikel No.29 | Oktober 2025

ISLAM ACEH: FENOMENA SYARIAT TANPA MAKRIFAT
Oleh Said Muniruddin | Rector Suficademic

Bismillahirrahmanirrahim.

Patuh tidak berarti dekat

SYARIAT tidak membawa manusia dekat dengan Tuhan. Yang membawa manusia dekat kepada Tuhan adalah tarikat. Bukan bermaksud menegasikan syariat. Tapi begitulah adanya.

Kan sudah jelas, tujuan atau maqashid syariah adalah untuk “memproteksi”, “menjaga” atau “memelihara” manusia dengan berbagai kepentingan duniawinya. Bukan untuk “membawa” manusia dekat (taqarrub) kepada Tuhan. Tujuan syariat ada 5: menjaga agama, menjaga jiwa, menjaga akal, menjaga keturunan, dan menjaga harta.

Syariat itu hukum, “law and order”. Hukum untuk menjaga atau mengatur ketertiban. Patuh pada aturan lalu lintas misalnya, itu syariat. Penting sekali itu. Tapi, walaupun 1000 tahun patuh pada aturan lalu lintas, tidak serta merta membuat kita dekat dan dikenal oleh presiden yang jauh di Jakarta sana. Sekalipun 1000 tahun kita melaksanakan apel Senin pagi, teken absen setiap hari, tidak berarti kita langsung dekat dengan presiden. Mungkin dikenal pun tidak.

Tapi setidaknya, negara yang dipimpin presiden secara keseluruhan menjadi tertib dan aman karena kita patuh pada aturan lalu lintasnya. Kalau sudah tertib dan nyaman, manusia sendiri juga enak hidupnya. Begitu pula dengan rajin apel Senin, setidaknya kita telah meluapkan rasa cinta kepada presiden dan negara dengan melaksanakan tupoksi sebagai warga negara.

Itulah tujuan syariat. Bukan untuk dekat dengan Tuhan. Tapi untuk patuh pada rule of the game-Nya, sehingga tidak mengalami chaos dan hidup tertib di alam ciptaan-Nya.

Dengan patuh pada hukum-hukum peribadatan, juga tidak serta merta membawa kita dekat atau taqarrub dengan Tuhan. Patuh pada aturan agama hanya konsekwensi kita sebagai manusia beragama. Sholat misalnya. Ada yang sudah 40 tahun lebih melaksanakannya. Tapi tidak serta merta membawa pelakunya dekat dengan Tuhan. Bahkan ada yang semakin jauh dengan Tuhan. Tapi setidaknya, secara lahiriah, ia sudah tertib dalam beragama.

Pun dengan selalu makan halal dan tidak memungut riba, tidak membuat kita otomatis dekat dengan Tuhan. Mau 1000 tahun pun kita tidak makan haram, tidak membuat kita serta merta dekat dengan Tuhan. Paling tidak, dengan melakukan itu, hidup kita dan orang-orang disekitar kita terproteksi dari sebuah tindakan atau perilaku buruk. Itulah tujuan syariat.

Jadi, syariat itu penting. Penting sekali. Yaitu untuk memperlihatkan bahwa kita patuh pada hukum. Apalagi kalau prinsip-prinsip hukumnya di ambil dari pesan-pesan Tuhan. Dengan beribadah dan melaksanakan kewajiban tertentu, itu pertanda kita telah patuh pada keinginan Tuhan. Tuhan menginginkan sistem keteraturan, atau law and order di alam semesta. Tapi sekali lagi, dengan “patuh”, tidak berarti “dekat” dengan Tuhan.

Syariat sebagai alat kontrol

Syariat itu pada dasarnya ditujukan untuk personal manusia. Tapi bisa diterjemahkan lebih lanjut dan diformilkan dalam struktur hukum negara. Jika itu terjadi, ia berubah menjadi alat kekuasaan untuk mengontrol massa. Negara tentu akan kacau kalau rakyatnya bandel. Di daerah-daerah yang punya memori relijius, rakyatnya bisa ditertibkan lewat isu-isu agama.

Di negara-negara Islam tertentu, syariat menjadi alat kekuasaan yang sangat efektif. Kalau mencuri, bisa langsung dipotong tangan. Di cambuk dan sebagainya. Bagus juga. Tapi, perilaku busuk raja-rajanya biasanya tak tersentuh oleh hukum-hukum semacam itu. Rakyat diawasi gerak-geriknya. Sedangkan pemimpinnya bebas foya-foya. Ini jenis penerapan syariat oleh institusi yang tidak ada makrifatnya. Tajam kebawah. Tumpul ke atas.

Di kampung-kampung juga begitu. Ada hukum dan tradisi lokal. Biasanya diambil dari adat dan kearifan leluhur. Itu syariat juga. Aturan juga. Tapi berbasis hikmah dan kebiasaan. Tujuannya sama. Untuk menjaga ketertiban dan keharmonisan. Agar manusia dan lingkungan menjadi lestari. Tujuannya juga untuk menghargai alam dan Tuhan.

Di negara maju juga begitu. Sistem aturannya bagus sekali. Bahkan lebih bagus dari kita. Patuh sekali masyarakatnya. Rapi sekali. Peduli sekali. Disiplin dan bersih sekali. Sangat islami. Itu syariat juga. Syariat artinya aturan atau hukum. Walau pemikiran hukum fikih kenegaraannya mereka gali dari nalar dan logika. Namun tujuannya sama; menjaga, memproteksi, melindungi, dan menciptakan ketertiban bagi semua.

Tapi tetap saja, walau patuh sekali pada hukum-hukum yang ada, tidak serta merta membawa seseorang “dekat” dengan Tuhan. Tuhan pun tidak pernah hadir kehadapan kita lewat kepatuhan formal semacam itu. Saya tidak tau, siapa diantara kita yang setelah 40 tahun tidak pernah tinggal sholat, puasa, zakat dan haji; kini telah menjadi dekat dan akrab dengan Tuhan. Curiga saya, tidak ada. Memang tidak mungkin. Pun di negara maju, siapa yang sudah menjadi dekat dengan Tuhan gara-gara hidup tertib? Mungkin dengan Tuhan pun tidak peduli mereka.

Tapi setidaknya, dengan patuh pada aturan, masyarakat menjadi tertib dan aman. Setidaknya secara rasional pun kita sadar sadar, hidup tanpa eksploitasi itu baik untuk semua. Pun dengan rajin ibadah secara formal, membuat jiwa kita lebih tentram. Karena merasa telah bertuhan. Ada ruang kosong yang terisi karena kepatuhan. Walau Tuhan sendiri tak pernah hadir untuk menampakkan wajah-Nya kepada kita.

Dua jalan kesempurnaan, syariat dan tarikat

Jadi, syariat itu memang diperlukan untuk membawa manusia keluar dari kondisi bar-bar. Bukan untuk dekat dengan Tuhan. Dengan tidak lagi bar-bar (tidak lagi suka membunuh, mabuk, makan bangkai, mencuri, berzina, dsb) dunia yang kita tinggali menjadi lebih nyaman.

Karena itu, isu syariat sebenarnya lebih menggema pada masyarakat jahiliah, yang aturan hukumnya tidak jelas. Islam turun untuk membawa manusia keluar dari era semacam itu. Wujud jahilianisme bisa saja hadir di sepanjang zaman. Karena itu, syariat tetap diperlukan. Karena syariat itu adalah bahasa lain dari supremasi dan keadilan hukum.

Ketika Islam menyebar pesat melampaui Arab, kebutuhan terhadap syariat juga tinggi. Masyarakat yang baru memeluk Islam memerlukan aturan hukum yang jelas terkait tata cara berislam. Sehingga lahir aneka pemikiran terkait fikih.

Seiring perkembangan peradaban dan kemajuan, kebutuhan akan etika juga mencuat. Disitulah tasawuf mengisi jiwa. Jika syariat bertugas menertibkan massa, tasawuf berperan untuk mengelevasi jiwa. Karenanya, pada masyarakat yang semakin maju, isu etika dan seni biasanya lebih dominan.

Karena itulah, banyak ahli syariat yang kemudian juga menjadi ahli sufi. Setelah mandek di level akal filosofis, mereka menempuh jalan lebih lanjut untuk sampai ke dimensi ihsan.

Ibrahim as adalah cerita sempurna tentang ini. Ia lahir dan besar di wilayah Mesopotamia, sebuah pusat peradaban dunia. Ia pemikir. Ia percaya bahwa Tuhan itu ada. Ia teolog. Ahli tauhid. Tapi ia tidak berhenti disitu. Ibrahim menempuh jalan sehingga menjadi makrifat. Ia berjumpa dengan Wajah Tuhannya. Inni wajjahtu wajhiya lilladzi fatarassamawati wal ardh. Kisah Musa as yang berguru dengan Khizir juga sama. Musa as lahir dan besar di Mesir, salah satu pusat peracaban paling kuno di dunia. Ia menyempurnakan ilmu-ilmu syariat dengan mendalami hikmah dan makrifat melalui bimbingan seorang guru.

Metode Keislaman: metode “patuh” (syariat) dan metode “dekat” (tarekat)

Jadi, dalam berislam, ada yang namanya; pertama, “patuh pada aturan” (syariat). Kedua, “dekat dengan pemilik aturan” (taqarrub). Keduanya hal berbeda. Keduanya ditempuh lewat metode berbeda.

Untuk dekat dengan presiden misalnya; tidak bisa dengan cara patuh berlalu lintas, rutin teken absen pagi petang, atau selalu ikut upacara setiap Senin pagi. Itu semua hanya bentuk-bentuk ibadah sebagai konsekwensi kita menjadi PNS. Ada hukuman kalau kita tidak tunduk pada mekanisme itu. Baik di dunia ataupun akhirat. Bukan karena gara-gara rajin melakukan itu kita langsung dekat dengan presiden.

Untuk “taqarrub” dengan presiden, atau Tuhan, ada ilmu lainnya. Ada metodenya juga. Yaitu metode “lobby”. Metode “direct communication”. Metode “melacak” dimana Dia berada. Metode untuk terkoneksi dengan “ajudan-Nya”. Cara “bertemu”. Cara “menyeru”. Cara “menyebut Nama”. Cara “mendekat”. Cara “menatap”. Cara “berbisik”. Cara “merendah”. Cara “mendengar”. Cara “duduk” yang baik dihadapannya. Bahkan cara “menyogok-Nya”.

Ini semua sudah masuk kategori seni kelas tinggi. Seni lobi dan negosiasi. Seni halus dalam beragama. Dalam tasawuf disebut “ihsan”. Jadi jangan heran jika di kantor ada teman Anda yang lebih dekat dengan pimpinan. Padahal Anda merasa lebih patuh pada undang-undang daripada dia. Tapi teman Anda lebih tau seni berkomunikasi dengan pimpinan.

Kita tidak menafikan, butuh mujahadah untuk menjalankan syariat. Untuk taat berlalu lintas, apel pagi, teken absen dan sebagainya; butuh energi. Untuk sholat, puasa, zakat, dan haji perlu tenaga ekstra. Tapi untuk bisa dekat, dikenal, terhubung, akrab, atau terkoneksi dengan presiden -atau dengan Tuhan, itu mujahadahnya lebih berat lagi. Butuh skill, seni bujuk rayu, kecerdasan emosi dan kesabaran tingkat tinggi.

Ada teknik khusus untuk bisa dekat dan dikenal oleh Tuhan (makrifat). Termasuk cara bagaimana duduk di depan rumah-Nya selama 40 hari tanpa berpindah, sambil terus memanggil nama-Nya. Sampai si presiden atau Tuhan, bersedia membuka pintu istana-Nya. Sampai diajak makan bersama-Nya. Sampai Dia bersedia memberi nomor WA, sehingga Anda bisa berbicara, berbisik-bisik setiap saat dengan-Nya. Itu yang kami sebut sebagai “dekat”.

Mengisi syariat dengan makrifat

Jadi, syariat itu apa sih sebenarnya?

“Syariat” itu sesungguhnya adalah ekspresi kedekatan kita dengan Tuhan. Ketika sudah dekat, baru kita bisa menegakkan syariat-Nya. Syariat harus ditegakkan dengan Cinta. Harus ada cintanya dulu, agar syariatnya punya “rasa”. Kalau tidak, syariat itu menjadi ‘daging mentah’ untuk di kunyah. Tidak ada enaknya. Kalaupun kita kerjakan, mungkin karena takut setelah mendengar ustad berceramah tentang azab neraka.

Syariat tegak setelah kita mengenal-Nya. Syariat terlaksana secara kaffah kalau seseorang sudah memakrifati-Nya. Jika tidak, syariat itu semata-mata hanya beban, hukuman dan kewajiban saja. Tak ada bahagianya. Tak ada indahnya. Tak hadir hatinya. Tak ada Tuhannya.

Sholat misalnya, itu secara lahiriah adalah syariat. Kapan itu sempurna ditegakkan? Yaitu setelah berjumpa dengan Tuhan. Setelah hati menjadi hidup. Setelah subconscious mind kita tercerahkan. Setelah menempuh tarikatullah. Setelah melakukan perjalanan, mikraj menuju Allah. Tanpa khusyuk (makrifatullah), sholat tidak akan sempurna.

Nabi Muhammad SAW membawa program sholat ke tengah masyarakat setelah pulang berjumpa Tuhan. Nabi Musa as juga diperintahkan menegakkan syariat sholat setelah menemui Tuhan di lembah “Thuwa”. Sholat ia kerjakan sebagai jalan untuk kembali “mengingat-Nya”. Karena itu sholat para nabi menjadi khusyuk. Innani Anallah, la ilaha illa ana, fa’budni. Aqimish shalata lizikri. Mereka kenal Tuhannya. Kisah Musa as mensucikan diri, mendatangi Tuhan, lalu menegakkan syariat sholat pada dimensi melihat Tuhan; dapat dibaca dalam surah Thaha 9-14.

Setelah berjumpa dan dekat dengan Tuhan, barulah semua perintah syariat menjadi penuh kesadaran untuk ditegakkan. Jauh sejak muda, sebelum mempopulerkan aneka bentuk ibadah dan syariat epada umatnya, Muhammad sudah menempuh jalan untuk dekat dengan Tuhan. Salah satunya dengan metode berkhalwat di ruang sunyi. Ini metode tazkiyatun nafs. Metode untuk menjadi akrab dan terkoneksi.

Syariat mengubah ‘binatang’ menjadi manusia, tarikat mengubah manusia menjadi ‘malaikat’

Cara beragama kita sekarang sudah terbalik. Kita disuruh memperkuat syariat. Tanpa pernah masuk ke wilayah keakraban dengan Tuhan (makrifat). Syariatnya kuat. Tarikatnya hilang. Karena itulah, Islam kehilangan rasa. Kehilangan etika. Kehilangan adab. Kaku. Keras. Kasar. Ekstrim. Luarnya Islam. Dalamnya kafir. Akhirnya ramai-ramai menjual agama. Korup.

Fenomena ini juga terjadi di tengah Bani Israil. Isa as turun ke tengah mereka untuk membereskan itu. Walaupun pada akhirnya Isa as sendiri yang ‘dibereskan’ oleh kaumnya. Dimanapun Yahudi hadir, rusak semua sistemnya. Padahal mereka sangat taat beragama. Sangat keras syariatnya. Tapi tak ada “rasa” keterhubungan dengan Tuhannya. Tak hadir nabinya. Akhirnya mereka hanya sekedar menjadi ahli kitab saja. Kognisinya bagus. Afeksinya tumpul. Mereka paling kuat menjual agama untuk urusan bisnis dan politiknya.

Muhammad SAW hadir untuk kembali menjembatani itu. Selama 12 tahun di Mekkah ia memperkuat jihad dalam aspek tauhid dan makrifah. Sampai terbuka pintu langit. Sampai terkoneksi jiwa para jamaah dengan Tuhan mereka. Baru kemudian pada 10 tahun periode Madinah, rasa keterhubungan dengan Tuhan diaplikasikan lebih lanjut dalam aneka bentuk syariat, tata kelola personal dan kenegaraan.

Kita tidak akan kaffah berislam, jika langsung lompat ke periode Madinah. Setidaknya, pada saat bersamaan, perkuat juga makrifat kita. Dapatkan vibrasi ketuhanannya, agar syariat menjadi kuat. Hidupkan juga mesin spiritualnya, agar semua gerak ibadah berdimensi ketuhanan. Jangan menghukum pancung agama di level syariat. Seolah-olah, dengan bersyariat, sempurna beragama. Syariat hanya hukum dasar untuk mentransform ‘binatang’ menjadi makhluk berakal yang disebut manusia. Ada jalan lebih lanjut, yang mengubah manusia menjadi ‘malaikat’. Sehingga menjadi dekat dengan Tuhan. Jalan itu bernama “tarikat”.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

Bagikan:

6 thoughts on “Islam Aceh: Fenomena Syariat tanpa Makrifat

  1. Jilicrown22? Heard some buzz about it, decided to give it a shot. Layout’s clean, and they got some cool promos going on. Deposited and played for a couple of hours with no probs. Solid experience so far! Find it at jilicrown22.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Dari Aceh ke Istora, "When Nancy Meets Farhana"

Wed Nov 5 , 2025
Jurnal

Kajian Lainnya

SAID MUNIRUDDIN adalah seorang akademisi, penulis, pembicara dan trainer topik leadership, spiritual dan pengembangan diri.