SELVi: SEBUAH MODEL MOTIVASI DALAM KEPEMIMPINAN BISNIS
Oleh Said Muniruddin
Bismillahirrahmanirrahim.
Pendahuluan
SELVi adalah singkatan dari “Spirituo-Socio Entrepreneurial Leadership Vision”. SELVi merupakan model yang awalnya kami kembangkan di The Suficademic Supertraining untuk menggabungkan topik bisnis dan leadership. Melalui sebuah metode yang unik, kami mengintegrasikan dimensi kepemimpinan spiritual dan sosial dalam strategi perumusan visi bisnis. SELVi adalah metode training motivasi kewirausahaan yang terpusat pada kesadaran spiritual dan sosial.
Berkolaborasi dengan AMANAH, metode ini kami perkenalkan kepada peserta Future Leaders Bootcamp pada Sabtu 11 April 2026. Training perdana AMANAH ini berlangsung selama 1 hari. Fokus latihan hanya pada teknik menyusun “visi” bisnis dan kepemimpinan. Pelatihan diikuti oleh 26 pemuda dari berbagai kabupaten/kota di Aceh. Kegiatan dilaksanakan di gedung pusat organisasi tersebut, yang berlokasi di Ladong, Aceh Besar. Berdiri di atas area seluas 5 hektar, gedung megah tersebut diresmikan oleh Presiden Jokowi pada 15 Oktober 2024 silam.
Diketuai oleh Dr. Syaifullah Muhammad, dibantu oleh seorang direktur yang memiliki jiwa sosial entrepreneurship terbaiknya -DR. Safwan, AMANAH Aceh sedang melakukan restart. Salah satu tujuan kehadiran lembaga ini adalah untuk mengembangkan kepemimpinan dan kreatifitas pemuda Aceh, dalam slogan yang menjadi kepanjangan dari AMANAH itu sendiri: “Aneuk Muda Aceh Unggul dan Hebat”.
SELVi, Menggabungkan “Profit” dengan “Prophet”
Banyak model pengembangan ide bisnis yang secara umum terfokus hanya pada aspek “profit” dari bisnis. Terkadang tidak ada keterkoneksian sama sekali dengan dimensi “profetik” dari sebuah usaha. Akibatnya, banyak bisnis tumbuh tanpa dampak sosial yang signifikan. Pemiliknya boleh jadi semakin maju dan kaya. Tapi masyarakatnya tertinggal, terabaikan sedemikian rupa. Belum lagi kondisi lingkungan yang terganggu atas kehadiran sebuah entitas usaha. Mindset sosial dari bisnis haru ada.
Demikian juga dengan rasa keterhubungan si pemilik usaha dengan Tuhannya. Terkadang tidak ada. Hampa. Banyak bisnis yang justru pada ujungnya membawa penyakit bagi ownernya. Sebab, rasa ketuhanan tidak hadir dalam setiap tindakan berusaha. Tidak ada sense ‘Muhammad’-nya. Tidak ada kontrak yang dibangun dengan Tuhan ketika ia merancang ide usaha. Sehingga ‘kesetanan’ saat bekerja. Hilang etikanya. Lupa bayar zakat dan sebagainya. Mindset spiritual dari busines juga penting sekali.
Metode SELVi hadir salah satunya untuk mengisi dimensi “spiritual-sosial” yang selama ini terasa kosong dalam ajaran bisnis konvensional. Selain mensimulasikan teknik-teknik praktis dalam memformulasikan ide-ide bisnis, peserta terlebih dahulu diaktivisi kesadaran alam spiritual-sosialnya terkait usaha. Dengan demikian, sejak awal -lewat simulasi tertentu- mereka telah aware bahwa “pemilik utama” dari bisnisnya adalah Tuhan.
Disaat yang sama -melalui simulasi lainnya- juga terbangun relasi emosi yang kuat antara mereka dengan masyarakat yang menjadi beneficiary, stakeholder atau customer dari produk/jasa bisnisnya. Bisnis ini hadir untuk membantu, untuk berbuat kebaikan, untuk memperbaiki kondisi tertentu dari masyarakatnya. Ada “strong why”, ada alasan yang kuat baik pada level spiirtual maupun sosial, kenapa bisnis ini harus ada. Inilah yang kami maksud dengan “Spirituo-Socio” Entrepreneurial Leadership Vision.
SELVi, Fokus pada Pengembangan Visi/Ide Usaha
Fokus dari training motivasi bisnis dengan metode SELVi ini adalah merancang “visi” wirausaha dan kepemimpinan yang berkesadaran spiritual (spiritually motivated), berdampak secara sosial (socially impactful), serta punya keahlian manajerial yang handal (management skills). Metode SELVi adalah metode “berbisnis dengan Tuhan”, yang dilakukan di tengah konteks sosial, dengan visi dan kecakapan manajerial yang profesional. Dua konteks, spiritual dan sosial, sangat tepat untuk menjadi alternatif berpikir para pemuda yang ingin mengembangkan jiwa wirausaha, termasuk di Aceh.
SELVi, Tujuh Sesi Materi
Ada tujuh sesi yang dirancang untuk penyampaian materi penyusunan ide bisnis dengan metode SELVi:
- Assessing Entrepreneurship Mindset
- Defining Life Goal
- Understanding Divine Mandate
- Building Self and Social Awareness
- Formulating Business Vision
- Postering Vision
- Vision Affirmation
Sesi awal, “Assessing Entrepreneurship Mindset”. Melalui metode tertentu, kami melakukan asesmen awal untuk melihat kekuatan pikiran, kejiwaan atau entrepreneurship mindset dari masing peserta. Sehingga diketahui seberapa besar jiwa bisnis mereka. Dari hasil asesmen, peserta menjadi sadar akan kelebihan dan kelemahannya. Sehingga menyadari apa saja limiting beliefs, habits, dan life style yang mesti diperbaiki dalam rangka membangun spirit leadership dan entrepreneurship.
Sesi kedua, “Defining Life Goal”. Banyak orang yang sudah gagal sejak awal karena tidak tau mau melangkah kemana. Mereka tidak tau mau menjadi apa, berkontribusi dimana, dan sebagainya. Imej mental atau “roadmap” masa depan harus dimiliki oleh setiap anak muda. Dengan adanya peta awal ini, setidaknya seseorang tidak merasa gelap saat melihat kemana harus menuju, serta sumberdaya apa yang dibutuhkan untuk mencapai itu.
Sesi ketiga, “Understanding Divine Mandate”. Kehampaan perjalanan di dunia ini, dalam profesi apapun, baik sebagai pemimpin, pengusaha, politisi, dokter, pengacara, guru, dan sebagainya; terjadi ketika tidak adanya “visi ketuhanan” yang mendasari semua pekerjaan itu. Menemukan “the big why” atau “the ultimate why” menjadi faktor krusial untuk memberi arti terhadap sebuah visi busines dan leadership. Peserta diajak untuk menemukan itu!
Sesi keempat, “Building Self and Social Awareness”. Ini tahap mengenal diri dan mengenal lingkungan tempat Anda hidup. Pada level self-awareness, peserta diajak untuk mengenal “kekuatan diri” (strengths). Lalu pada saat yang sama dibimbing untuk memahami kondisi atau tantangan spesifik sektoral yang menjadi interest masing-masing (politik, hukum, ekonomi, sosial, pendidikan, kesehatan, dan sebagainya). Berbagai problem ekonomi-sosial ini dapat ditemukan di negara, provinsi, kabupaten, atau desa para peserta tinggal. Mereka diajak untuk melihat ini sebagai “kesempatan” (opportunity) untuk memanfaatkan personal strengths guna melahirkan ide-ide social business dalam rangka memperbaiki berbagai kondisi sosial tersebut.
Sesi kelima, “Formulating Business Vision”. Dari proses mengenal kekuatan diri dan kesempatan mengabdi, lahir beberapa alternatif ide social business. Peserta diajak memilih mana yang paling potensial dan paling berdampak untuk ditindak lanjuti. Maka lahirlah business proposition, ide gerakan, produk, atau jasa yang ingin mereka inplementasikan dalam hidupnya; guna menyelesaikan social and economic problems tertentu. Pada level ini peserta diajarkan pemahaman terkait market segmentation dan market size, agar mereka memahami segmen dan besaran penerima manfaat dari program busines masing-masing.
Sesi keenam, “Postering Vision”. Semua visi bisnis dan kepemimpiaan yang telah dirancang, harus ditulis. Harus digambar. Ide bisnis yang awalnya bersifat abstrak perlu di konkritkan dalam bentuk vision board, dream board, poster, atau media lainnya. Peserta diajarkan untuk melek teknologi seperti Canva. Disini dibutuhkan keahlian digital untuk mendisain visi dan narasi terkait social business-nya. Poster akan menjadi produk untuk eksibisi, minimal bagi diri sendiri, agar dapat terus dilihat dan dibaca.
Sesi ketujuh, “Affirming Vision”. Titik final paling krusial dari proses pelatihan business motivation dengan metode SELVi ini adalah bagaimana cara membawa dan melaporkan kepada Tuhan, semua ide besar bisnis yang telah dihasilkan dari tahapan sebelumnya. Disini peserta diajarkan cara berdoa melalui teknik-teknik muthmainnah (relaksasi) pada frekuensi spiritual tertentu. Ide-ide bisnis dibawa ke alam bawah sadar melalui teknik-teknis meditatif-sufistik. Peserta dibimbing untuk membangun kesadaran bisnis yang mengakar di alam kejiwaan. Artinya, ide atau visi bisnis tidak semata untuk diucapkan oleh lidah, atau hanya tertuang di kertas. Tapi juga dibenarkan oleh hati (tertanam di alam bawah sadar). Dengan demikian, visi bisnis punya vibrasi yang dapat menggerakkan anggota tubuh pada tahap aksi atau implementasi. Inilah yang kami sebut sebagai proses “imanisasi” ide bisnis dalam metode SELVi.
Jika training berlangsung selama dua atau tiga hari, maka peserta dapat dibimbing pada tahapan penyusunan proposal bisnis lebih lanjut, juga lebih detil. Sehingga lahir satu peta yang praktis dan utuh terkait aspek-aspek manajerial dari kewirausahan sosial. Ini meliputi: manajemen organisasi (aspek legal dan struktur), manajemen operasi (aspek teknis dan teknologis/produksi), manajemen sumberdaya manusia (aspek personalia dan pengawasan), dan manajemen keuangan (aspek investasi dan akuntansi).
Kesimpulan
Training motivasi bisnis metode SELVi menggabungkan 4 bentuk kecerdasan yang paling dibutuhkan manusia: spiritual (SQ), sosial (AQ), emosional (EQ), dan intelektual (IQ). Perpaduan berbagai tipe kecerdasan ini kemudian disimulasikan lewat aneka metode seperti ceramah, curah pendapat, presentasi, diskusi, refleksi, bermain peran, studi kasus, latihan, penugasan, pretest, dan posttest). Dengan kedalaman dan kekayaan metodenya, training SELVi menjadi salah satu alternatif dalam mendidik jiwa wirasusaha muda yang bersifat holistik dan berkesadaran.
Istilah SELVi bermiripan dengan Selfie dalam dunia media sosial. Selfie atau swafoto adalah tindakan memotret diri sendiri menggunakan kamera depan ponsel, kamera digital, atau cermin, yang sering kali dibagikan di media sosial. Aktivitas ini bertujuan untuk dokumentasi pribadi, ekspresi diri, atau berbagi momen, dan kini menjadi bagian dari budaya digital.
Dengan sedikit pergeseran kata, kami menggunakan istilah SELVi, untuk menggambarkan hal serupa. SELVi dalam konteks business motivation adalah juga sebuah aktifitas yang bersifat creative and fun. Training SELVi lewat berbagai asesmennya bertujuan untuk ‘memotret’, ‘memvideokan’, ‘merecord’, melakukan penilaian atau muhasabah diri. Pada tahap awal, ini adalah metode untuk “mengenal Diri” (mengenal Tuhan dan mengenal potensi diri). Tahap selanjutnya adalah bagaimana kita ‘memposting’ wujud diri kita ke tengah konteks sosial, lewat berbagai aksi kepemimpinan dan kesempatan berkreasi. SELVi adalah metode untuk memotret atau “mengenal diri” untuk “membangun negeri”.
BACA JUGA: Future Leaders Bootcamp, AMANAH Dorong Anak Muda Aceh Jadi Pemimpin Bisnis
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali muhammad.*****
___________________
SAID MUNIRUDDIN adalah Rector the Suficademic Supertraining, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala, Trainer AMANAH Aceh, penulis produktif spiritual-sufistik Indonesia, pembicara topik-topik leadership, trainer bisnis dan pengembangan diri.
