Musik dan Tari, Dari Sufi ke Wahabi

Bagikan:

Jurnal Suficademic | Artikel No.28 | Oktober 2025

MUSIK DAN TARI, DARI SUFI KE WAHABI
Oleh Said Muniruddin | Rector the Suficademic

Bismillahirrahmanirrahim.

MUSIK itu bagi jiwa, ibarat makanan dan minuman bagi tubuh. Sebuah kebutuhan. Tugas kita mencari makanan dan minuman yang sehat bagi jasad. Juga menemukan nada-nada yang tepat untuk kesehatan jiwa.

Makanan dan makanan tidak ada yang haram. Kecuali sudah dioplos. Sudah mengandung sesuatu yang berbahaya. Mie goreng. Terbuat dari tepung gandum. Bagus. Enak. Sehat. Mengenyangkan. Tapi, ketika sudah diberi borax, haram jadinya. Berbahaya bagi kesehatan. Kopi juga begitu. Halal. Tapi, kalau sudah terlalu banyak diberi ekstrak kimiawi, bisa kembung perut para peminumnya. Haram jadinya.

Musik juga begitu. Sesuatu yang alami. Sesuatu yang lahir dari rasa. Sebuah asupan untuk otak kanan Anda. Tidak haram. Kecuali dicampur dengan tarian telanjang di tempat terbuka. Itu baru lain cerita. Itupun gak haram juga sebenarnya. Kalau dilakukan di kamar, hanya berdua dengan pasangan Anda.

Kalau nonton di tempat terbuka, ada aturan dan keadabannya juga. Sambil lompat-lompat tak mengapa. Justru tambah sehat kita. Ikutan nyanyi, juga ok. Bisa melepaskan emosi dari jiwa. Sehat. Seni tradisional juga seperti itu. Banyak yang menampilkan gerak, teriak dan sebagainya. Dalam komposisi nada. Ditonton. Bahkan diteriaki.

Bernyanyi itu sama sakralnya dengan mengaji. Selama ada pesan suci. Ada puji. Ada semangat. Ada petuah. Ada petunjuk dalam syair dan irama. Bahkan tanpa lirik dan nyanyian sekalian pun, kalau nadanya bagus, juga membawa pesan-pesan yang tinggi.

Secara emosional, manusia adalah makhluk musik. Kesadarannya tersusun dalam bentuk notasi. “Your soul is made up of music”, menurut string theory. Manusia pada level kuanta, pada level sub partikel atomik tersusun dari gelombang dawai dalam wujud cahaya. Manusia pada wujud esensialnya adalah cahaya yang tersusun dalam bentuk nada-nada.

Karena itulah, gelombang musik yang tepat bisa membuat anda tenang, bergerak, juga ekstatik. Tergantung musik yang Anda mainkan. Sebab, ia menyentuh kesadaran terdalam dari diri. Dalam berperang sekalipun ada seni musiknya. Untuk membakar semangat.

Karena itu, bangsa beradab itu kuat dalam seni musik. Islam juga mencuat setelah maju dalam bidang musik. “Guitar” dalam bahasa Inggris, diambil dari kata “guitarra” dalam bahasa spanyol. Itu berasal dari bahasa arab Andalusia, “qitara”. Sains musik diperkenalkan oleh Islam kepada Eropa.

Di Aceh, bangsa Gayo mungkin termasuk yang kaya dengan seni musik juga tari. Mereka bangsa tua. Lebih tua dari Aceh pesisir. Ketika di Aceh lain musik dan lagu agak sensitif untuk dikonserkan; di Gayo, anak-anak mudanya bebas memainkan itu di cafee-cafeenya.

Bangsa maju biasanya kaya dengan seni dan musik. Sebaliknya, bangsa depresi, ekstrimis dan kasar; itu biasanya anti musik. Wilayah paling banyak orang gila biasanya anti musik. Suka curiga dengan musik. Ketakutan dengan musik. Mungkin lebih takut mendengar suara musik dari pada suara bom.

Kita mungkin akan terkejut kalau sempat melihat para habib kharismatik Yaman menari-nari bersama pemuda mereka dalam acara-acara keagamaan. Rileks sekali hidupnya. Ulama menari, apalagi menonton orang menyanyi, mungkin aib bagi kita. Tapi itu kemuliaan bagi mereka. Kata menteri agama, dari sebuah riwayat, Nabi pernah menikmati dan mengundang pemain musik saat hari raya.

Kelompok relijius yang paling suka musik mungkin termasuk sufi. Tarian Darwish misalnya, sudah begitu mendunia. Belakang sudah ikut serta bergabung kaum Wahabi. Wahabisme pernah berpuluh tahun mengharamkan musik dan tarian. Mereka juga punya berjilid-jilid pengetahuan tentang keharaman musik dan tari. Tapi kini entah dimana fatwa dan kitab-kitab itu disimpan.

Kita harus melihat realitas baru dalam dunia seni. Sufi sudah lama mabuk dengan musik dan tari. Sudah lama bersyair, bernyanyi. Uniknya, wahabi Saudi pun mulai beribadah dengan cara yang sama. Dua Mazhab berbeda ini sudah mulai beririsan pola hidupnya. Bahkan dalam hal menari dan bernyanyi, Wahabi sudah lebih berani dari sufi. Yang lain tunggu apa lagi?

Setiap tahun Saudi punya festival yang mengundang para musisi dan rapper dunia. Joget-joget di lapangan terbuka. Baru tahun 2024 silam, dalam konser “Riyadh Season”, Jeniper Lopez menari dan bernyanyi di atas replika Kakbah dengan baju tipis dan celana dalam saja. Dalam urusan musik dan tari, kaum sufi sudah dikalahkan oleh saudara-saudara kita yang wahabi.

Saya tidak tau, apa lagu-lagu Slank dengan iramanya tidak cocok buat pengembangan jiwa. Tapi tentu saya kurang setuju kalau lagu “Bila Izrail datang memanggil, sekujur tubuh kan kedinginan”; terus didendangkan. Mungkin lagu dan irama semacam itu cocok untuk Aceh periode konflik. Dimana memori rakyatnya dekat dengan kematian. Jenis lagu dan instrumen musik perlu terus dikembangkan. Tentu yang memberi inspirasi, yang memberi sentuhan positif bagi jiwa.

Tugas kita bukan mengharamkan musik. Tapi terus mengembangkan sains musikalisasi. Ulama dan ilmuan muslim seperti Al-Farabi (872-951 M) sudah menulis kitab “Al-Musiqa Al-Kabir” (kitab induk tentang musik). Kita perlu meneruskan tradisi ini pada level lebih lanjut. Agar musik dapat dipahami sebagai bahasa ritmis lain dari pesan-pesan Tuhan. Kalau kita tidak suka musik juga tidak apa-apa. Diam saja. Mungkin itu bukan bakat dan bagian dari kecerdasan Anda. Jangan karena tidak suka terhadap sesuatu, lalu kita haramkan itu.

Sebagai penutup, kami ingin menyampaikan. Orang Aceh tidak anti konser. Sudah sejak lama kita punya rapai, saman, aneka syair, lagu, tarian, bahkan sandiwara; yang dipertontonkan secara terbuka. Semua itu konser. Kalau ada yang mengharamkan konser, mungkin perlu dikaji kembali. Kenapa tiba-tiba jadi begitu. Jangan-jangan bagian dari skenario untuk mengembalikan Aceh ke era prasejarah. Pegiat seni punya juga bisnis yang harus kita dukung. Jangan dihalangi. Itu pintu rejeki mereka.

Kalaupun ada konser yang gagal, kita jangan selalu melihat itu karena ancaman masyarakat. Masyarakat Aceh masyarakat seni. Coba lihat. Kalau ada konser, meledak penontonnya. Terkadang bisnis konser gagal karena ada yang tidak terikut sertakan dalam pembagian laba. Curiga saya, begitu.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

Bagikan:

4 thoughts on “Musik dan Tari, Dari Sufi ke Wahabi

  1. Alright, mate! Checked out kjcrr88 and things were pretty smooth. Navigation’s a breeze. Could use a few more bonus options, but overall, not bad at all. Give it a burl yourself – you might be surprised! Check ’em out here: kjcrr88

Leave a Reply to dgclublottery Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Islam Aceh: Fenomena Syariat tanpa Makrifat

Fri Oct 31 , 2025
Jurnal

Kajian Lainnya

SAID MUNIRUDDIN adalah seorang akademisi, penulis, pembicara dan trainer topik leadership, spiritual dan pengembangan diri.