Jurnal Suficademic | Artikel No.42 | Desember 2025
E=mc², MENJADI ENERGI
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic Supertraining
Bismillahirrahmanirrahim.
TELAH kami jelaskan dalam tulisan terdahulu: “E=mc², Rumus Menuju Tuhan”; manusia esensinya adalah makhluk ruh, kesadaran, atau Energi (E). Yang secara unik menjelma menjadi materi, yang kadar beratnya diukur dalam massa (m). Satu-satunya kekuatan yang diperlukan untuk mengurai kembali konsentrasi massa/materi menjadi Energi adalah cahaya (c). Bukan sekedar cahaya. Tapi yang dibutuhkan adalah “cahaya di atas cahaya” (c²).
Itu rumus fisikanya Einstein, E=mc². Sebuah formula yang mengubah dunia. Sejak ia dan gengnya memperkenalkan fisika kuantum, sains telah bergerak ke arah berbeda. Pandangan terhadap dunia telah menjadi “relatif”. Ada wujud dan realitas lain yang lebih tinggi dari fenomena materi. Dunia kuantum sangat dinamis dan beroperasi dalam bentuk yang tidak terbatas, infinite.
Sebelumnya, sejak awal era pencerahan, saintis Eropa lebih memilih percaya kepada fisika klasik yang memberi fondasi kepada ateisme, dimana atom dipercaya sebagai wujud terkecil dari materi. Tidak ada ruh dan sejenisnya. Segala eksistensi tak lebih dari sekedar fenomena materi. Dengan hadirnya pengetahuan kuantum, sejak awal abad 19 manusia perlahan kembali kepada kesadaran tentang dinamika wujud yang lebih dalam, yang tentu berujung kepada Tuhan. Manusia adalah Energi. Segala sesuatu adalah Energi.
E=mc² dalam Dunia Fisika
Dalam dunia fisika, rumus E=mc² secara sederhana menggambarkan kesetaraan massa dan energi. Sejumlah kecil massa (m) bisa diubah menjadi energi yang sangat besar (E), setelah dikalikan dengan kuadrat kecepatan cahaya (c²). Inilah prinsip dasar dibalik pelepasan energi luar biasa pada reaksi fisi dan fusi nuklir. Prinsip ini digunakan dalam penciptaan bom atom, dimana defek massa (massa yang hilang) berubah menjadi energi ledakan yang sangat dahsyat.
Dalam reaktor nuklir atau bom atom, inti atom berat (seperti Uranium-235) dibelah (fisi) sehingga menghasilkan inti-inti yang lebih kecil. Massa total produk fisi sedikit lebih kecil dari massa aslinya, dan selisih massa ini (disebut defek massa) diubah menjadi energi kinetik dan radiasi, dijelaskan oleh E=mc². Ledakan cahaya yang besar adalah hasil dari proses konversi massa menjadi energi. Pembangkit listrik tenaga nuklir juga lahir dari pelepasan energi dahsyat pada proses fisi (pembelahan atom berat seperti uranium).
Pada kasus lain, di matahari dan bintang misalnya, inti atom ringan (hidrogen) bergabung (fusi) menjadi helium. Lagi-lagi, massa helium lebih kecil dari massa hidrogen awal, dan sisa massanya dilepaskan sebagai energi yang sangat besar, memungkinkan bintang bersinar secara luar biasa. Matahari dan bintang adalah makhluk bersinar, setelah terjadinya proses pelepasan sejumlah massa sehingga menjadi energi cahaya.
E=mc² dalam Dunia Metafisika
Pertanyaannya, bisakah rumus ini berlaku bagi manusia? Bisakah dengan rumus ini manusia menjadi makhluk energi? Jika bisa, bagaimana caranya?
Begini. Dari rumus E=mc² kita mengetahui, massa dan energi adalah dua bentuk dari hal yang sama. Massa bisa menjadi energi. Sebaliknya, energi bisa menjadi massa. Karena c² adalah angka yang sangat besar, maka sedikit saja jumlah massa bisa setara dengan banyak sekali energi.
Jadi, kunci reaksinya ada pada c². Untuk mengubah massa materi menjadi energi, yang diperlukan adalah “kuadrat dari cahaya” (c²). Manusia, walau sekilas terlihat sebagai makhluk materi, namun dengan hadirnya kekuatan c², bisa mengubah sedikit saja dari massa dalam dirinya menjadi energi tidak terhingga. Yang dibutuhkan adalah “reaktor” untuk memungkinkan hal itu terjadi.
“Reaktor” adalah alat yang bisa mengkonversi massa menjadi energi. Seperti dalam dunia fisika nuklir, bentuk dan komponen reaktor bisa sangat beragam. Namun tugasnya sama, “memanaskan” inti atom. Dari proses itulah lahir energi listrik. Atau energi uap dari air.
Dunia sufistik telah lebih dulu mengadopsi cara serupa. Pengubahan massa manusia menjadi energi, juga berawal dari proses “pemanasan”. Diperlukan “reaktor” tertentu untuk mencapai tujuan ini. Secara tradisional, reaktor ini biasanya berbentuk ruang-ruang inkubasi sunyi, yang ada perisai atau pelindungnya (hijab). Bentuknya bisa berupa kamar, gua, kelambu, dan sebagainya. Ruang reaktor semacam ini mampu menghasilkan panas sekaligus punya fungsi sirkulasi sebagai pendingin.
Dari ruang-ruang reaktor inilah muncul sosok-sosok seperti Adam, Ibrahim, Musa, Isa, sampai Muhammad. Ruang-ruang reaktor ini mampu mengubah makhluk materi menjadi makhluk energi. Tentu butuh waktu untuk memanaskan massa yang ada pada wujud basyariah mereka. Bisa 3, 7, 30, sampai 40 hari. Prosesnya terjadi dalam intensitas, frekuensi dan durasi yang berulang-ulang. Diperlukan ruang dan waktu yang kontinyu untuk mengubah sedikit saja dari dimensi material mereka untuk terus menjadi makhluk wahyu atau energi.
Dalam dunia spiritual, para pelaku fisi dan fusi kesadaran ini biasa disebut dengan “salik”. Mereka sangat mengerti rasa “panas” yang lahir dari proses inkubasi dari reaksi nuklir dalam diri. Reaksi “panas” itu biasanya muncul setelah berjam-jam duduk bermeditasi, tanpa bergerak. Proses meditasi harus sangat fokus. Karena itu, gerak dari “neutron” akal harus dilambatkan dengan metode tertentu.
Proses ‘pembakaran dosa’ material yang terhimpun dalam massa harus terjadi secara intensif. Proses ini juga disebut dengan “hisab”. Ada hitungan dan pertanggungjawaban. Ada jumlah zikir yang harus diinternalisasi untuk mencapai kondisi transformasi kesadaran yang sempurna. Biasanya, seluruh tubuh akan ‘terbakar’. Khususnya area kaki. Karena itulah kaki Nabi Saw bengkak dalam ibadah. Bukan karena shalat biasa. Tapi ada sesuatu yang lebih dari itu yang Beliau amalkan.
Pada kasus tertentu, para observer ini akan merasa seolah-olah matahari berada sejengkal di atas kepala. Drama “Padang Mahsyar” terjadi dalam proses kebangkitan ruhani ini. Tanpa sadar, secara perlahan, kalau mereka bertahan dalam mujahadah pengayaan “uranium” spiritual ini, energinya semakin tinggi. Secara simbolik akan mengalami fase penerimaan “kitab” dengan “tangan kanan”. Ada vibrasi yang akan dialami ketika sampai pada titik ini. Tanda energinya sudah jadi.
Ketika massa telah dikonversi menjadi energi, ketika air telah menjadi uap, atau dalam kisah Musa disimbolkan dengan “gunung” yang luluh lebur (QS. Al-‘Araf: 143); terjadilah “sublimasi”. Musa as “pingsan” dan masuk dalam kesadaran baru. Mereka sebenarnya telah berubah menjadi energi. Telah menyatu dengan gelombang alam yang tunggal. Mereka bisa berada “dimana-mana”. Kesadarannya bisa “maha meliputi”. Mereka telah menjadi makhluk cahaya. Secara material wujudnya terlihat ada di bumi. Tapi kesadaran kuantumiknya telah menjadi tidak terbatas. Sudah terhubung dengan Tuhannya. Telah berdimensi ukhrawi.
Variabel Mediasi: “Cahaya di Atas Cahaya” (c²)
Jadi, dalam formula spiritual E=mc² ini, variabel yang paling dibutuhkan untuk mengubah massa menjadi energi adalah “cahaya kuadrat” (c²). C² adalah wasilah atau variabel mediasi, yang menyebabkan hubungan kausal terjadi.
Dalam dunia sufistik, c² ini disebut “Nur Muhammad”, gelombang cahaya yang sangat kuat dan murni. Cahaya yang suci lagi mampu menyucikan. Cahaya yang mampu melebur kesadaran atomik para sufi. Cahaya ini merupakan gelombang ruhani dari mursyid, wali, atau nabi. Seorang murid harus menemukan cahaya yang sangat besar ini untuk melakukan proses fisi (peleburan kesadaran) dan fusi (penggabungan ruhani), yang populer dengan istilah “tazkiyatun nafs”.
Ketika unsur “cahaya diatas cahaya” (c²) ini sudah ada dalam diri, setiap saat mereka dapat mengubah kesadaran materialnya menjadi energi Ilahi. Disaat itu terjadi, miracle atau mukjizat akan aktual.
Kesimpulan
Dunia fisika dan metafisika bekerja dengan cara yang sama, pada level berbeda. Yang mengerti sains, biasanya akan mudah memahami mekanika tasawuf. Karenanya para saintis kuantum banyak yang bertuhan. Saintis Islam di era gemilangnya, umumnya juga sufi. Atau sebaliknya, tasawuf itu ilmu yang sangat saintifik, pada level metafisik. Sebab, apa yang terjadi di dunia eksternal (fenomena) adalah gambaran dari blue print yang ada di dunia internal (noumena). Segala hukum yang berlaku di alam semesta, merupakan pancaran hukum-hukum dari alam energi, alam mitsal, alam a’yan tsabitah, atau alam-alam ketuhanan yang lebih tinggi dari itu.
Dari formula E=mc² ini kita menyadari, dunia dan akhirat itu berada pada ekuasi yang sama. Karena itulah Tuhan sangat dekat. Lebih dekat dari urat leher (QS. Qaf: 16). “Dunia” adalah “akhirat” yang termaterialkan. Massa adalah energi yang terkonsentrasi. Jasad adalah ruh yang mengalami materialisasi. Untuk kembali ke alam “akhirat”, ke “energi murni”, atau ke dimensi “surgawi”; seseorang harus menempuh jalan peleburan (fisi) dan penggabungan (fusi) diri. Namun harus terlebih dahulu menemukan c² sebagai faktor pengali. Lalu masuk dalam ruang “reaktor” untuk merasakan proses transformasi. Itulah jalan ilmiah untuk kembali. Jalan para nabi. Sesederhana itu.
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****


Yo, check out 23win8bet. It has been solid to me. Plus all the games make you feel like you got to be on 23win8bet
Tại 888SLOT , sự minh bạch trong quy trình nạp rút tiền là kim chỉ nam cho mọi hoạt động vận hành của chúng tôi. Quý khách có thể thực hiện giao dịch thông qua đa dạng các phương thức từ ngân hàng nội địa đến các ví điện tử phổ biến nhất hiện nay. TONY12-30
Khám phá thế giới giải trí không giới hạn tại 188v chính thức . Từ slot cổ điển đến video slots hiện đại, tất cả đều có tỷ lệ hoàn trả cực cao. TONY01-12
Heard some buzz about 3kingvn lately. Seems like people are digging it. Thinking of jumping in soon. Anybody else tried it? Let me know! Check it out here: 3kingvn
Right, so 78wib came across my screen today. Took a peek, and it seems pretty straightforward. Might be worth checking out if you’re after something simple and no-frills. Have a look: 78wib
Downloaded the app for 78wim. So far, so good. Loads fast, looks clean, and seems to be doing what it says on the tin. Worth a look, especially on mobile. Go check 78wim: 78wim