
Diutus Sesuai “Bahasa” Kaumnya
Oleh Said Idris Athari Muniruddin I Rector I The Zawiyah for Spiritual Leadership
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Rasulullah SAW tidak hadir dengan penampilan berbeda dari kaumnya. Kalau kaumnya itu berjubah dan berjenggot, nabi juga begitu. Selama masyarakatnya hidup dalam standar penampilan yang etis, nabi juga mengikutinya. Itu makna khusus dari: “diutus sesuai bahasa kaumnya”. Selain juga secara verbal diutus untuk mereka yang berdialek Arab.
Jadi, salah satu definisi sunnah adalah “adaptif dengan bahasa-bahasa nonverbal masyarakatnya”. Karena itulah beliau tidak terlihat norak, sehingga menyatu di tengah pengikut. Saya kira, para pendakwah juga harus begitu. Meniru nabi dengan cara hadir ke tengah umat sesuai penampilan konstituennya.
Agak aneh saja, kalau di Indonesia kita ramai-ramai bersurban dan berjubah untuk menampilkan diri sebagai pendakwah. Tidak salah sih, apalagi kalau pernak-pernik itu dipakai oleh kami-kami yang keturunan Arab. Karena itulah dresscode asli warisan indatu. Cuma secara hakikat, kita sudah gagal menyesuaikan diri dengan wisdom lokal. Apalagi kalau anda-anda bukan orang Arab, agak lucu juga dengan kostum itu.
Tapi mungkin karena begitu cinta sama penampilan nabi, mau gimana lagi. Fashion artis saja kita tiru-tiru, masak gaya berbaju nabi tidak. Apalagi kalau saya perhatikan, penampilan kearab-araban itu keren juga. Indah memang. Bisa membuat kita lebih cantik, ganteng dan berwibawa. Ya sudah, lanjut saja. Bek karu-karu!
Pakaian, sejauh menutupi aurat dan melindungi tubuh; itu sudah menyenangkan Allah. Islam bukan agama kolot. Sesekali tampil dengan unsur estetika yang mencuri mata, juga ada tidak ada masalah. Lihat konteks ibadah dan sosialnya. Yang utama bukan citra berbau riya, melainkan jiwa taqwa dibalik busana: “.. Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan, dan pakaian takwa itulah yang paling baik” (QS. Al-‘Araf: 26).
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****
____________________
powered by PEMUDA SUFI:
Bahagia, Kaya dan Terpelajar.

Ingatlah ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan al-Quran, lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (bangsa jin) untuk memberi peringatan. (QS. Al-Ahqaf: 29)
Bangsa jin adalah manusia-manusia jin.
Di zaman rasulallah di tanah arab juga banyak manusia-manusia jin ,sampai saat ini mereka beranak pinak dan menguasai tanah arab,jadi tidak usah heran apabila tafsiran-tafsiran itu kebanyakan pemikiran dari kaum manusia jin ini.
ustadz sayyid habib yahya
Porn movies in appleton wiErotic massage full serviceSelma hayek
desperado sexVintage sidchromeSleep anal asultGirls nude dancersFree sex in slidell
laWork home sex jobsTeen lesbian cheerleaders xnxx Handicam fairies at the bottom of theGay ball squeezeLatina thumbs freeMiss india canada
bikiniTongue fetish videoMassage sex happy endingSouth dakota strip
bar https://core.xxxkernel.com/ Machine sex literoticaAmy ruzsa nudeThe functions
of the male breastThick brown stringy vaginal dischargeElly
tran ha nakedFree pics of drug addict pornYoung sexy
toons models xnxx Nothing bikinisCan you find websites
for free strip tease photographs?Xxx tube newsAtlanta escort review boardsCandid
tight assSwingers clubs washington d cNaked sri lankinMileycyrus nude shotsFree teenage sex picture galleriesWild tit tubeThreesomes with porn star