TARIK, JANGAN DIKEJAR

Bagikan:

Jurnal Suficademic | Artikel No.1 | Januari 2025

TARIK, JANGAN DIKEJAR
Oleh Said Muniruddin Assegaf

Bismillahirrahmanirrahim.

Di malam tahun baru 2025 saya sempat duduk termenung. Saya melakukan refleksi tentang apa-apa yang pernah saya kerjakan. Saya mencoba mengamati, kenapa ada hal-hal yang sukses tanpa terduga. Sebaliknya, ada hal yang gagal padahal sudah mati-matian kita berusaha.

Tiba-tiba ingatan saya teringat kepada “Bintang ‘Arasy”. Sebuah buku setebal 485 halaman, yang saya tulis selama setahun. Buku ini dilaunching Prof Mahfud MD pada 18 Maret 2014 di Banda Aceh.

Sudah lebih dari 10 tahun lalu. Tapi buku ini masih sangat diminati oleh kader-kader HMI diseluruh Indonesia. Ini semacam bacaan wajib dalam perkaderan. Setiap training LK-II atau LK-III, Anda masih bisa menemukan buku ini terletak di meja peserta. Isinya menjadi salah satu referensi dalam berdiskusi.

Saya merenung. Kenapa buku ini menjadi sangat populer dikalangan mahasiswa Islam. Bahkan, setelah buku ini rilis saya menjadi sering diundang untuk memberi materi kemana-mana. Sampai ke Ambon. Kok bisa demikian?

Jawabannya saya temukan.

Begini. Ini termasuk buku yang saya tulis mirip-mirip tanpa motif apapun. Tanpa pamrih. Murni sekedar ingin berbagi pengetahuan. Tanpa ingin dikenal dan sebagainya. Bahkan niatnya agar bisa menghilang dari keramaian HMI.

Ceritanya begini. Suatu ketika saya diminta memberi materi terkait Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) untuk Intermediate Training tingkat nasional Himpunan Mahasiswa Islam. Acaranya diselenggarakan oleh HMI Cabang Sigli, Aceh.

Saya teringat, acaranya sampai ditambah satu hari. Gara-gara pada awalnya saya tidak bisa hadir. Karena ada riset di pedalaman Aceh Tengah dan Bener Meriah. Karena permintaan adik-adik HMI, saya percepat proses penelitian. Saya meluncur ke Sigli.

Materi saya berikan dari pagi sampai sore. Karena begitu permintaannya. Papan tulis sudah hitam, penuh dengan tulisan, coretan dan skema-skema pemikiran keislaman. Sampai-sampai peserta kebingungan, bagaimana cara mencatatnya.

Sampai kemudian, tiba-tiba, seorang peserta dari Batam bertanya: “Kanda, apa ada catatan terkait ini? Kami sudah tidak tau lagi cara mencatatnya”.

Disitulah saya tertegun. Iya juga. Kita sering berbicara dan berdiskusi banyak hal. Berhari, bermalam-malam. Lalu menguap begitu saja. Tidak ada tulisan untuk me-record pengetahuan. Padahal, peradaban dibangun dari pencerahan demi pencerahan. Dari tulisan demi tulisan.

Itulah problem kita. Banyak dari kita yang cerdas. Bacaannya luas. Analisisnya tajam. Tapi pengetahuan dan pemikirannya tidak terdokumentasi. Budaya menulis tidak ada. Padahal itu penting untuk disimak dan sempurnakan oleh generasi selanjutnya.

Paska acara, mulailah saya menulis. Karena itu janji untuk peserta. Sedikit demi sedikit. Awalnya saya tidak berniat menulis satu buku. Hanya satu tema saja, yang sekarang menjadi Bab 4 dalam Bintang ‘Arasy. Tapi Bab 4 ini tidak bisa dipahami kalau beberapa tema lainnya tidak diketahui. Akhirnya lahirlah 3 bab pendahuluan. Pun Bab 4 ini sangat teoritis. Perlu aspek yang lebih operasional. Maka muncullah 3 bab lagi setelahnya. Total ada 7 bab. Semuanya terkait tema-tema besar dalam leadership dan HMI. Mainstreamnya gnostik, atau sufistik.

Tanpa terasa, saya habiskan 1 tahun untuk menuangkan ide. Saya menulisnya 1 atau 2 jam setiap sore, setelah selesai urusan akademik di kampus. Banyak hal aneh yang saya alami selama menuliskan itu. Seperti ada “guidance” apa yang harus ditulis. Sayapun baru sadar sudah menulis sebanyak 700an halaman, setelah setahun. Karena ketebalan, font saya kecilkan. Paragraf juga saya rapatkan. Akhirnya menjadi sekitar 400an halaman.

Buku itu saya tulis karena niat ingin “pensiun” dari HMI. Maksudnya, saya ingin berhenti dari seorang instruktur. Buku ini saya niatkan sebagai representasi kalau saya berhalangan menjadi pemateri, cukup dibaca buku ini. Buku ini benar-benar saya tulis dengan tujuan ingin “menarik diri” dari HMI. Ingin fokus pada bidang pengabdian lainnya.

Ternyata, tanpa saya duga, ternyata itulah awal saya mulai kembali aktif di HMI. Gagal pensiun. Disisi lain, setelah saya pikir-pikir, disitulah letak “power” sesungguhnya dari buku tersebut. Kesimpulannya, Anda tidak akan sukses kalau suka “mengejar” hal yang Anda inginkan. Jangan habiskan waktu untuk mengejar sesuatu. Yang Anda kejar pasti akan lari. Ibarat seorang gadis. Semakin Anda kejar, semakin lari dia.

Sebaliknya, “tariklah” apa yang Anda inginkan. Caranya, buat diri Anda pantas untuk dicari. Untuk didekati. Buat diri Anda layak untuk disukai. Berikan sesuatu. Berbagi. Perbaiki, percantik diri. Lihatlah hasilnya. Segala sesuatu akan menghampiri Anda.

Apa yang saya sampaikan ini sebenarnya sudah cukup populer dikenal dengan “Law of Attraction”. Do not chase, but attract things. Jangan kejar, tapi tariklah sesuatu. Jadilah magnet yang punya kemampuan untuk mendekatkan hal-hal baik bagi diri Anda. Dan tidak ada magnet yang lebih kuat, selain unsur-unsur berdimensi Ilahi. Dekatkan diri kepada Allah, agar energi-Nya hadir dalam diri Anda. Ketika “daya magnetis” ketuhanan menempel pada diri Anda, maka segala sesuatu akan bergerak menuju diri Anda. Hilangkan motif-motif rendah. Pasrahkan. Berbuat baiklah. Ikhlaskan. Fanakan diri. Biarkan Dia yang bekerja. Biarkan Dia yang menarik segala sesuatu untuk Anda.

Karena itu, sebaik-baik resolusi untuk tahun 2025 adalah mendekatkan diri kepada Allah. Bukan dalam makna “fatalis”. Tapi dengan terus aktif bermimpi, membangun visi dan bekerja dengan sebaik-baiknya, untuk-Nya. Berorganisasilah untuk-Nya. Berpolitiklah untuk-Nya. Berbisnislah untuk-Nya.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

SAID MUNIRUDDIN | The Suficademic
“Publication, Training & Spirituality”
_______
Web: 
sayyidmuniruddin.com
Facebook: facebook.com/Habib.Munir/
IG: instagram.com/saidmuniruddin/
TikTok: tiktok.com/@saidmuniruddin
YouTube: youtube.com/c/SaidMuniruddin
Join Grup WA: The Suficademic-1
Join Grup WA: The Suficademic-2

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

ILMU MANIFESTASI: TAKHALLI, TAHALLI, TAJALLI

Thu Jan 2 , 2025
Jurnal

Kajian Lainnya

SAID MUNIRUDDIN adalah seorang akademisi, penulis, pembicara dan trainer topik leadership, spiritual dan pengembangan diri.