Jurnal Suficademic | Artikel No. 26 | 1 Juni 2026
PRABOWO!
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic
Bismillahirrahmanirrahim.
“Prabowo!”, terdengar teriakan barista di sebuah cafee. Teriakan itu tidak hanya sekali. Tapi berkali-kali.
“Prabowo!”. Mungkin itu teriakan ke lima kali.
Pengunjung yang sedang antri terkejut. Kok bisa Prabowo pesan kopi disini. Lebih aneh lagi, Prabowonya tidak muncul-muncul.
Tiba-tiba. Seorang perempuan muda yang sedang duduk di depan saya, memberi isyarat. Ia melambaikan tangan ke wajah saya. Dari gerak mulutnya terdengar ia berkata: “Pak, nama bapak dipanggil”.
Saya ingat, gadis ini ikut antri bareng saya saat tadi memesan kopi. Makanya ia memanggil saya. Ia tau, si barista sedang memanggil saya.
Rupanya pesanan saya sudah siap. Saya tidak mendengar. Karena kedua telinga saya tersumpal headset. Saya sedang mendengar audio book. Sebuah hobi kalau saya sedang sendirian.
Dengan langkah tegap dan penuh percaya diri saya bangun dan menuju kasir. Lalu berkata, “Iya, benar. Saya Prabowo!”.
Kasir berkata, “Pak Prabowo, ini pesanan bapak sudah siap”. Dia menyerahkan satu paket kopi dan kue dengan nama pemesan: Prabowo.
“Baik, terima kasih”, saya sebagai Prabowo tegas menjawab.
Sekitar 10 pengunjung yang sedang antri tertegun. Mungkin dari tadi penasaran. Sekaligus heran. Kok wajah Prabowo sudah berubah. Berubah menjadi lebih ganteng. Lebih mancung. Lebih Aceh. Lebih Arab.
***
Saudara-saudara sekalian. Prabowo itu banyak. Bukan hanya Prabowo Subianto, presiden Anda.
Saya juga Prabowo. Sebuah nama yang sering saya gunakan saat memesan makanan.
“Maaf, atas nama siapa?”, biasanya di resto dan cafe, Anda akan ditanya seperti itu setelah memesan sesuatu. Tentu saya menjawab: “atas nama Prabowo”.
Anda tak harus menyebut nama asli. Itu hanya syarat informal administratif saja. Yang penting Anda ingat nama tersebut. Jangan sampai lupa saat dipanggil.
***
Begitulah. Anda tidak harus menjadi Presiden. Tapi bisa menjadi Presiden. Hanya dengan memilih sama nama dengan Presiden. Khusus saat memesan minuman atau makanan.
Sesekali Anda harus bisa merasakan, bagaimana kalau seseorang memanggil Anda dalam nama Presiden. Lalu Anda berdiri dan berjalan sebagai Prabowo. Disitulah rasa percaya diri, sekaligus vibrasi sebagai seorang Presiden bisa Anda rasa.
***
Sebenarnya, ketika orang tua memberi Anda nama “Muhammad” -misalnya, tujuannya agar Anda merasa diri seperti Nabi Muhammad.
Bayangkan, nama “suci” Muhammad disebut di era moderen. Lalu Anda bangkit sebagai ‘pengganti’, ‘pewaris’, ‘penerus’, atau represetasinya. Anda harus bangga dengan nama itu. Anda harus merasakan diri bahwa Anda adalah “Muhammad” sosok yang agung itu.
Nama itu doa, agar Anda menjadi seperti orang yang dinamai. Agar Anda punya koneksi dengan si pemilik nama. Karena itulah, dalam tradisi lokal keislaman, orang tua kita dulu memberi nama anaknya dengan nama para nabi. Mereka berharap, anaknya punya rasa confidence untuk berlagak dan berkarakter menjadi ‘nabi’, yang namanya melekat pada wujud anaknya.
Kenyataannya, kita sering lupa dengan nama kita. Lupa dengan nama yang kita bawa. Sehingga hilang rasa percaya diri. Hilang karakter baiknya.
Nama itu doa. Kalau kita bisa merasakan makna, spirit dari wujud, atau ruh orang yang kita bawa dalam nama kita.
“Prabowo”, begitu panggilan barista. Lalu saya bangun dengan percaya diri. Seolah-olah mereka sedang memanggil presiden mereka. Dan itu adalah saya.
Dan siapapun presiden setelah ini, itu juga nama saya setiap memesan sesuatu. Ingat ya, itu nama “kunyah” (panggilan) saya, hanya saat memesan sesuatu di cafe atau resto. Tujuannya satu, biar sesekali saya terkoneksi dengan setiap presiden di negara ini. Biar saya juga tau, bagaimana rasanya kalau saya jadi seorang presiden.
Leadership is confidence. Leadership is connection. Leadership is visualization. Leadership is sometimes all about imitation.
Nama adalah doa. Nama adalah cinta. Nama adalah asosiasi. Nama adalah imajinasi. Hanya lewat nama, kita menjadi berbeda.
The Suficademic Supertraining mengajari anak-anak Anda bagaimana cara percaya diri lewat nama. Lewat asosiasi. Lewat imajinasi. Lewat visualisasi. Lewat keyakinan dan hubungan.
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****
