“Thuma’ninah”: Cara Agama Meregulasi Jiwa yang Gelisah

Bagikan:

Jurnal Suficademic | Artikel No. 27 | Juni 2026

“THUMA’NINAH”: CARA AGAMA MEREGULASI JIWA YANG GELISAH
Oleh Said Muniruddin | Suficademic Supertrainer

Bismillahirrahmanirrahim.

Pendahuluan

DALAM dunia sufistik, tantangan terberat yang dihadapi para murid yang baru belajar zikir adalah sifat “terburu-buru”. Yaitu tidak tabah. Lalu tergesa-gesa ingin menyelesaikan amalannya.

Pun demikian dengan shalat yang kita kerjakan sehari-hari. Selalu saja kita buru, ingin cepat-cepat selesai. Kita mirip-mirip tidak ingin, atau mungkin tidak tau cara menikmatinya.

Sadar atau tidak, hampir semua sisi kehidupan dan pekerjaan sehari-hari kita eksekusi dengan cara tergesa-gesa atau terburu-buru. Disini Anda harus paham antara “menyegerakan” sesuatu dengan “terburu-buru”.

Menyegerakan sesuatu, itu bagus. Karena begitulah cara kita melawan penyakit suka “menunda-nunda” (procrastination). Dalam hal berbuat kebajikan misalnya, jangan ditunda. Lebih cepat, lebih baik. Kalau lapar, juga jangan ditunda. Segera makan. Jika tidak, lama-lama bisa kena maag kita.

Tapi kalau makan nasi, usahakan digigit dan dicicipi dulu. Agar dapat rasanya. Yang paling kita butuhkan sebenarnya adalah “rasa”. Bukan sekedar “kenyang”. Jangan karena ingin cepat selesai, langsung main telan saja. Tidak bagus untuk kesehatan perut. Bahkan saat minum pun kita ingin mendapatkan “rasanya”. Bukan sekedar meneguk cepat, lalu kehilangan taste-nya. Itu yang kami maksud dengan “tergesa-gesa” (terburu-buru).

Dalam dunia kerohanian, sifat terburu-buru juga menimbulkan penyakit yang sama. Semua ibadah dan pekerjaan yang dilakukan secara tergesa-gesa akan memiliki dampak negatif terhadap jiwa. Sifat “tergesa” adalah gejala hilangnya kesadaran (mindfulness). Bahkan lebih dalam lagi, gejala keterputusan hubungan dengan Tuhan.

Ajala: “The Hurry Sickness”

Dunia psikologi menyebut fenomena ini sebagai “the hurry sickness” (penyakit terburu-buru). Sementara Quran menamainya ‘Ajala. Dalam banyak hal, apakah terkait pekerjaan yang bersifat duniawi, ataupun urusan peribadatan lainnya, manusia selalu tergesa-gesa. Dan ini bisa mencedarai diri kita sendiri:

خُلِقَ الْاِنْسَانُ مِنْ عَجَلٍۗ سَاُورِيْكُمْ اٰيٰتِيْ فَلَا تَسْتَعْجِلُوْنِ

“Manusia diciptakan (bersifat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perlihatkan kepadamu tanda-tanda (azab)-Ku. Maka, janganlah kamu meminta Aku menyegerakannya” (QS. Al-Anbiya: 37)

وَيَدْعُ الْإِنْسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءَهُ بِالْخَيْرِ ۖ وَكَانَ الْإِنْسَانُ عَجُولًا

“Dan manusia berdoa untuk kejahatan sebagaimana ia berdoa untuk kebaikan. Dan manusia itu bersifat tergesa-gesa” (QS. Al-Isra’: 11)

لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ (16) إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ (17) فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ (18) ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ

“Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena tergesa-gesa (ingin menguasai)-nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah penjelasannya” (QS. Al-Qiyamah: 16-19).

Jadi, “hurry sickness” (‘ajala) adalah perilaku ingin cepat-cepat menyelesaikan sesuatu. Karenanya, pikiran jernih tidak hadir dalam proses itu. Akibat tekanan ingin cepat selesai, rasa tenang hilang dari jiwa. Padahal, rasa tenang hanya bisa di dapat ketika seseorang bisa bermain lebih dalam pada bidang pekerjaan itu.

Rasa tergesa-gesa boleh jadi muncul karena tekanan waktu. Tapi sebenarnya, itu terjadi karena sebuah penyakit yang disebut “rasa cemas” (anxiety). Rasa cemas adalah penyakit kejiwaan, “mind disorder”. Tidak singkronnya dimensi fisik dengan rasa. Sehingga membuat seseorang tidak bisa menikmati apa yang sedang terjadi.

Rasa cemas terjadi karena ketidakmampuan kita untuk “terkoneksi” dengan apa yang sedang kita lakukan. Kita tidak “hidup” atau “tidak hadir” dalam apa yang kita kerjakan. Lama kelamaan, jika tidak disembuhkan, sifat tergesa-gesa akan menjadi kebiasaan.

Healing dengan Zikir

Karena itu ada ibadah semacam “tahajud”. Tujuannya untuk menyembuhkan penyakit ini.

Bagi yang mengerti, mereka akan duduk berzikir dan bertawajuh sepanjang 3 jam pada pertengahan akhir malam, sampai azan subuh. Bagi sebagian lainnya, mungkin hanya bangun sebentar. Lalu shalat dua rakaat. Setelah itu akan tergesa-gesa untuk kembali ke ranjang tidurnya.

Seorang Guru Spiritual bisa mengarahkan muridnya untuk duduk berzikir selama 1 jam perhari. Pada kasus tertentu, bisa 3 jam perhari. Bagi para master, bisa 6 jam tanpa henti. Untuk durasi lebih lama, bisa 10, 30, sampai 40 hari secara kontinyu.

Ada yang berhasil melakukannya, sehingga menjadi kebiasaan baru. Ada yang masih terus mencoba. Ada pula yang gagal. Semua tergantung determinasi dan konsistensi si murid dalam menyembuhkan “hurry sickness”. Sebuah penyakit yang dimiliki oleh hampir semua orang di muka bumi.

“Zikir”. Kata-kata ini terkesan indah dan terbayang mudah untuk dikerjakan. Kenyataannya, aduhai berat. Karena itu Anda bisa melihat bagaimana orang-orang seketika pergi dari masjid setelah shalat. Tak ada yang mampu berzikir secara serius.

Kalau pun ada, mungkin hanya paket hemat: “Subhanallah, Alhamdulillah, Lailaha illalah, Allahu Akbar”. Itupun masing-masing hanya 33 kali. Hanya dengan basa-basi yang tidak sampai 5 menit, selesai. Tak ada yang sanggup duduk secara khusyuk dalam waktu lebih lama.

Zikir itu berat. Lawannya satu: diri kita sendiri. Tepatnya, ketergesaan dalam diri kita sendiri. Kita sering tergesa-gesa ingin segera keluar dari ruang ibadah. Walaupun juga tidak jelas apa yang mau kita kerjakan di luar sana setelah itu.

Orang yang tergesa-gesa akan mengalami kekosongan jiwa. Was-was (anxiety). Tidak “hudhur”. Ia tidak mampu hadir secara penuh pada waktu dan tempat dimana ia berada. Pikiran dan perasaannya gentayangan kemana-mana. Karenanya ia merasa jauh dari Tuhan. Sehingga hidupnya tidak tenang. Tidak bahagia. Padahal yang paling dicari adalah Tuhan dan ketenangan.

Mencapai “Jiwa yang Tenang”

Yang kita cari dalam semua pekerjaan adalah “Tuhan”. Dan Tuhan tidak sulit untuk dicari. Bahkan kita tidak perlu mencari Tuhan. Sebab, Tuhanlah yang mencari kita. Kalau kita penuhi syaratnya.

Dalam Al-Fajr 27-30 disebutkan, Tuhan mencari “jiwa yang tenang”. Dia hanya memanggil jiwa yang tenang. Maka, jika ingin bertemu Tuhan, atau ingin bersanad ruhani dengan “hamba-hamba” Tuhan (jamaah orang shaleh seperti nabi dan para wali), serta ingin merasakan dimensi surgawi sejak hidup di dunia, kuncinya satu: jiwa harus tenang. Jika ini terjadi, dimensi ketuhanan secara otomatis akan teraktivasi:

يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفْسُ ٱلْمُطْمَئِنَّةُ. ٱرْجِعِىٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً. فَٱدْخُلِى فِى عِبَٰدِى. وَٱدْخُلِى جَنَّتِى.

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku. masuklah ke dalam surga-Ku (QS. Al-Fajr: 27-30)

Obat Pertama: “Sabar”

Karena itu, obat “generik” pertama yang disarankan untuk mengobati penyakit tergesa-gesa (hurry sickness) adalah “sabar”. Bersabarlah dalam berjihad. Bangun kesadaran. Tetap siaga. Bertahanlah. Jangan terburu-buru. Bahkan dalam Aali Imran 200, kata “sabar” diulang dua kali. Dalam tarikat tertentu, ini menjadi pedoman dalam berzikir secara sungguh-sungguh:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اصْبِرُوْا وَصَابِرُوْا وَرَابِطُوْاۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga di perbatasan (negerimu), dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung (QS. Aali Imran: 200)

Dalam ayat lain ditegaskan, dimensi surgawi hanya bisa diraih oleh orang-orang yang berjihad dengan penuh kesabaran. Jihad itu banyak jenisnya. Semua bidang pekerjaan yang dijalani secara sungguh-sungguh dan mendalam, alias penuh kesabaran dan tidak tergesa-gesa, adalah jihad:

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ جَٰهَدُوا۟ مِنكُمْ وَيَعْلَمَ ٱلصَّٰبِرِينَ

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar (QS. Aali Imran: 142)

Obat Kedua: “Thuma’ninah”

Obat kedua yang bersifat lebih “spesifik” untuk mengobati rasa tergesa-gesa adalah: “thuma’ninah”. Thuma’ninah adalah terminologi praktikal khususnya dalam ibadah shalat. Salah satu yang menyebabkan rukun shalat menjadi sah adalah karena adanya thuma’ninah.

Shalat secara lahiriah adalah sebuah bentuk ibadah yang terdiri dari gerakan dan bacaan, yang diawali dari niat dan berakhir dengan salam. Detilnya tersusun dari 13 tindakan: niat, berdiri, takbiratul ihram, membaca Al-Fatihah, rukuk, iktidal, sujud, duduk di antara dua sujud, duduk tasyahud akhir, membaca tasyahud akhir, membaca shalawat, salam, dan tertib.

Dan thuma’ninah adalah sesuatu yang menurut para ulama mesti ada. Khususnya pada item seperti rukuk, iktidal, sujud, dan duduk antara dua sujud. Bahkan, untuk mencapai sholat yang berdimensi hakikat, thuma’ninah total diperlukan pada semua rukun shalat.

“Thuma’ninah” artinya sikap tenang atau berdiam sejenak dalam setiap gerakan salat, di mana semua anggota tubuh berhenti dan berada pada posisi sempurna sebelum melanjutkan ke gerakan berikutnya. Ini merupakan rukun salat yang wajib dilakukan agar ibadah sah.

Secara syariat begitu, “thuma’ninah” bertujuan meregulasi agar gerak tidak tergesa-gesa. Ada jeda (pause). Ada diam sejenak. Ada wukuf. Ada istirahat. Ada ruang kosong diantara setiap gerakan.

Thuma’ninah sama akar katanya dengan “muthmainnah”. Tujuannya sama-sama untuk melahirkan sikap tenang. Lewat pembentukan sikap lahiriah yang tenang, diharapkan lahir jiwa yang tenang. Sebab, sikap terburu-buru hanya melahirkan jiwa yang gelisah. Atau sebaliknya, jiwa yang gelisah juga dapat melahirkan gerak yang tergesa-gesa. Alhasil, ketenangan semakin tidak ada.

Jadi; sholat, zikir, serta ibadah dan aneka muamalah lainnya adalah bentuk-bentuk jihad yang harus dilakukan dengan penuh kesabaran. Harus ada wukufnya. Harus ada diamnya. Ada jeda qalbu di setiap gerak maupun bacaannya. Ada ketenangannya.

“Thuma’ninah” adalah metode praktis untuk mencapai jiwa yang tenang. Dalam sains moderen, jiwa yang tenang ditandai dengan turunnya gelombang otak dari Beta (14-40 Hz), ke Alfa (8-13 Hz), dan syukur jika bisa mencapai level Theta (4-7 Hz).

Shalat pada level Beta (14-40 Hz) misalnya, itu ditandai oleh pikiran kritis, curiga, was-was, tegang, analitis, aktifitas mental dan kognisinya tinggi, pikiran menerawang kemana-mana. Pada kondisi ini, kita sulit menemukan ketenangan. Tidak khusyuk. Nafas pasti pendek dan terburu-buru. Karena itu, sholat pada level ini cenderung dilakukan secara tergesa.

Untuk mencapai jiwa yang tenang, gerak shalat harus diperlambat. Dalam artian, tidak terburu-buru. Ada jeda. Ada wukuf. Dalam setiap ruang gerak dan bacaan dihadirkan “Wajah” Tuhannya. Itulah thuma’ninah. Sehingga, bisa dirasakan apa yang dibaca. Muncul visual spiritualnya. Hadir hati dan terhubung ke frekuensi Tuhan.

Lewat regulasi sufistik semacam ini, ketegangan gelombang otak bisa direduksi sampai ke level “relaksasi” (Alfa, 8-13 Hz). Bahkan bisa jauh lebih dalam ke level visual “transendental” (Theta, 4-7 Hz). Nafas pun mulai terasa dalam dan panjang. Itulah level khusyuk. Batin terasa tenang. Gelombang spiritual bisa terhubung dengan Tuhan. Doa-doa menjadi terkabulkan.

Bagi mereka yang sudah mahir dalam metode “thuma’ninah”, jiwanya akan sampai ke level muthmainnah. Pada kondisi ini, gelombang spiritual menjadi sangat sensitif. Muraqabahnya hidup. Mereka bisa ‘merasakan’, ‘mendengar’, dan ‘melihat’ Tuhan dalam shalatnya. Itulah “ihsan”. Secara hakikat, ada mata batin yang terbuka ketika seseorang berada pada kondisi “trance” semacam ini.

Dalil “Shalat adalah mikrajnya kaum mukmin” hanya bisa dicapai dan dibuktikan kebenarannya pada level praktik dan pengalaman semacam itu. Tentu perlu latihan berulang-ulang. Terkadang harus bersedia mengikuti langkah yang ditempuh para nabi. Perlu kesabaran dalam khalwat, suluk, uzlah, atau iktikaf pada durasi yang panjang. Dengan cara ini seseorang dapat meregulasi algoritma jiwanya agar kembali berada pada karakter yang tenang (muthmainnah).

Kalau sekedar merasa tenang atau berpura-pura tenang, siapapun bisa. Tapi lewat rasa tenang lalu seseorang bisa terbuka akses dengan Tuhan, itu ada metodenya. Para nabi dan penerusnya telah membuktikan itu.

Kesimpulan

“Hurry sickness” (‘ajala) adalah penyakit yang diderita oleh hampir semua. Manusia selalu tergesa-gesa dalam bertindak. Dan itu adalah pancaran penyakit anxiety (was-was) yang dideritanya. Karena itu mereka selalu kehilangan ruang untuk merasakan kehadiran Tuhan.

Sebaiknya kita tidak tergesa-gesa. Tidak tergesa-gesa bukan berarti harus menunda-nunda. Sesuatu yang baik tentu harus dilakukan secara segera. Namun ada ruang yang cukup bagi kita untuk menumbuhkan rasa. Paling tidak ada sedikit ruang thuma’ninah, ruang tenang, ruang kosong, ruang reflektif, ruang jeda, ruang bernafas, ruang hati, atau ruang sabar untuk menyaksikan kehadiran-Nya. Karena Tuhan berkata, dia hanya hadir bersama orang-orang yang bersabar. “… innallaha ma’ash shabirin” (QS. Al-Baqarah: 153).

Terakhir, “thuma’ninah” bukanlah ilmu yang eksklusif dalam praktik shalat atau zikir saja. Melainkan juga untuk diterapkan dalam semua sektor kehidupan. Sehingga lahir jiwa yang tenang, dan hadir Tuhan dalam berbagai bidang yang kita tekuni.

Allahumma shalli’ ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

SAID MUNIRUDDIN adalah supertrainer pada program “Quranic Life Tranformation” di The Suficademic Supertraining 🔥🔥

Bagikan:

864 thoughts on ““Thuma’ninah”: Cara Agama Meregulasi Jiwa yang Gelisah

  1. Worth pointing out that the post avoided the temptation to summarise everything at the end, and a look at secureonlinepurchasehub continued that confident closing approach, content that trusts readers to retain the substance without being reminded of it at the end is content that respects the reader and this site practices that respect.

  2. Adding this to my list of go to references for the topic, and a stop at bestvaluemarketonline confirmed the rest of the site deserves the same, definitely the kind of resource that earns its place rather than getting forgotten the moment the next interesting article shows up in my feed somewhere else on the web.

  3. Thank you for the genuine effort here, it shows in every paragraph and not just the headline, and after my visit to corporateunitysolutions I was sure this site cares about getting things right rather than chasing clicks, which is the main reason I will come back later this week to read more.

  4. Just enjoyed the experience without needing to think about why, and a look at trustedmarketalliances kept that effortless feeling going, sometimes the best content is invisible in the sense that you forget you are reading until you reach the end and realise time has passed without you noticing it pass naturally.

  5. A piece that reads as if the writer trusted readers to fill in obvious gaps, and a look at findyournextdirection continued that respectful approach, content that does not over explain what the reader can infer is content that respects intelligence and this site has clearly chosen to write to capable readers rather than to the lowest common denominator.

  6. Decided to read more before commenting and the more I read the more I wanted to say something, and a stop at longtermpartnershipnetwork pushed that impulse further, when content provokes the urge to participate rather than just consume it is doing something quite specific and worth recognising clearly when it happens during reading.

  7. Reading this back to back with a similar piece elsewhere made the quality difference obvious, and a stop at professionalrelationshiphub only widened the gap, comparing content side by side is a useful exercise and the gap between this site and average competitors in the space is large enough to be noticeable from the first paragraph.

  8. Came away with some new perspectives I had not considered before, and after securebusinessbonding those ideas felt more complete, the kind of content that stays with you a little while after reading rather than slipping out the moment you switch tabs and move on with your day to whatever comes next.

  9. Quiet confidence runs through the whole post, no need to shout to make the points stick, and a stop at clickforstrategicthinking carried that same restrained voice forward, content that respects the reader by trusting its own substance rather than dressing it up in theatrical language is what I look for online and rarely actually find these days.

  10. Worth recognising the absence of the usual blog tropes here, and a look at corporatepartnershipnetwork continued that fresh quality, sites that avoid the standard moves of the medium read as more original even when the content is on familiar topics and this one has clearly chosen its own path through the conventional terrain skilfully.

  11. Now adding this to a list of sites I want to see flourish, and a stop at securestrategicalliances reinforced that wish, the few sites I actively root for are sites that produce the kind of work I want more of in the world and this one has joined that small list based on what I have read so far.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kajian Lainnya

SAID MUNIRUDDIN adalah seorang akademisi, penulis, pembicara dan trainer topik leadership, spiritual dan pengembangan diri.