Jurnal Suficademic | Artikel No.30 | Agustus 2026
Kisah Transformasi Adam as dalam Kerangka RTS Imam Ali bin Abi Thalib kwh: Sebuah Landasan Psikopedagogis Pendidikan Islam
Oleh Said Muniruddin | Dosen Universitas Syiah Kuala| Rector the Suficademic Supertraining
Bismillahirrahmanirrahim.
A. PENDAHULUAN
Landasan psikopedagogis merupakan integrasi antara psikologi perkembangan—yang mengkaji perkembangan kejiwaan dan proses belajar manusia—dengan pedagogi, yaitu seni dan ilmu mengajar. Kerangka ini memastikan bahwa metode pengajaran, kurikulum, dan sistem asesmen dirancang secara selaras dengan tahap perkembangan kognitif, afektif, dan sosial murid, sehingga proses pembelajaran berlangsung secara optimal, bermakna, dan berorientasi pada pengembangan potensi secara holistik.
Aspek psikopedagogis menekankan pentingnya pemahaman mendalam terhadap tahapan perkembangan murid. Setiap individu memiliki keunikan, kapasitas, dan kecepatan belajar yang berbeda pada rentang usia tertentu, serta gaya belajar, motivasi, dan dinamika emosi yang khas. Oleh karena itu, pembelajaran harus bersifat konstruktif dan berpusat pada murid (student-centered learning), dengan pendekatan yang adaptif terhadap kebutuhan dan karakteristik perkembangan mereka.
B. KONSEP TIGA TAHAP PENDIDIKAN: FORMULA KLASIK DAN RELEVANSI KONTEMPORER
Kisah Nabi Adam ‘alaihissalām seperti yang telah diurai pada bagian sebelumnya, selain sarat dengan pesan-pesan filosofis, juga memberikan isyarat penting mengenai aspek-aspek psikopedagogis dalam desain pembelajaran. Dari narasi Adam, dapat ditelusuri tiga fase utama edukasi yang melahirkan wujud manusia yang sempurna (insān kāmil). Pandangan psikopedagogis mengenai “tiga tahapan pendidikan” ini cukup populer dan sering dinisbatkan kepada Sayyidina ‘Ali bin Abi Thālib raḍiyallāhu ‘anhu.
Menurut konsepsi ini, pendidikan anak melalui tiga tahap yang disingkat dengan formula RTS (Raja-Tawanan-Sahabat), dengan rincian sebagai berikut:
| Filosofi Psikopedagogis Pendidikan Diniyah: Pendekatan R-T-S | |||
| Tahap | Rentang Usia | Metafora | Karakteristik Pendidikan |
| Pertama | 0–7 tahun | Raja [Ratu] | Pembangunan imajinasi, kasih sayang, dan fondasi emosional positif |
| Kedua | 7–14 tahun | Tawanan | Pembentukan kedisiplinan, adab, dan pengenalan aturan |
| Ketiga | 14–21 tahun | Sahabat | Pengembangan koneksi spiritual, dialog setara, dan pendalaman makna hidup |
Signifikansi pola pendidikan dalam tiga tahapan ini terkonfirmasi oleh berbagai literatur modern, khususnya dalam bidang psikologi perkembangan, neuroscience, dan pendidikan karakter (Astuti, 2026; Apriyani, 2024; Khakim & Hidayah, 2023; Munawaroh & Husa, 2025; Nur Ilmiah dkk, 2023; Khotimah, 2022; Jasmanita, 2019). Konsep ini selaras dengan teori perkembangan anak yang dirumuskan oleh Jean Piaget (1972), yang mengakui adanya fase-fase pertumbuhan kognitif dan psikologis yang bersifat bertahap. Meskipun orang tua dan pendidik mungkin tidak secara formal menyadari kerangka kerja spesifik ini, banyak di antara mereka yang secara intuitif telah menerapkan prinsip-prinsip tersebut secara turun-temurun. Konsep tiga tahap ini dipandang sebagai pedoman berharga untuk pola pendidikan karakter yang holistik, terutama di era kontemporer, karena pada tiga fase inilah kecerdasan intelektual (IQ), emosional (EQ), dan spiritual (SQ) seorang anak dapat dioptimalkan secara terpadu.
C. ANALISIS TAHAPAN PERKEMBANGAN PENDIDIKAN
FASE PERTAMA: Anak sebagai Raja — Membangun Imajinasi dan Fondasi Afektif (Usia 0–7 Tahun)
a. Urgensi Pembentukan Rekaman Positif
Apabila pada periode ini gagal diciptakan rekaman pengalaman yang baik bagi anak, maka perkembangan psikologisnya di masa depan berpotensi mengalami gangguan. Penelitian menunjukkan bahwa banyak individu yang hingga usia dewasa masih bergulat dengan perasaan putus asa, minder, cemas, was-was, sedih, benci, pemarah, sinis, hasad, angkuh, dan perilaku destruktif lainnya. David R. Hawkins (1994) mengklasifikasikan kondisi-kondisi ini sebagai forces—bentuk energi yang sangat rendah dan bersifat destruktif. Akar dari kondisi tersebut seringkali dapat ditelusuri pada luka batin, pengalaman traumatis, doktrin negatif, atau pola pengasuhan yang tidak tepat pada usia-usia awal perkembangan.
b. Prinsip Pendidikan pada Fase Raja
Usia 0–7 tahun merupakan periode paling krusial untuk membangun imajinasi positif. Pada fase ini, anak-anak harus diperlakukan secara nyaman dan penuh kasih sayang—layaknya seorang raja yang dilayani, dipuji, diapresiasi, dipeluk, dicium, disayang, dan dijunjung tinggi. Mereka perlu diberikan pengalaman-pengalaman positif yang memperkaya alam bawah sadarnya. Secara pedagogis, pada usia ini, pembebanan kognitif yang berlebihan—seperti pengenalan konsep halal-haram, dosa-pahala, atau surga-neraka secara dogmatis—perlu dihindari, karena anak masih berada dalam “alam surgawi” di mana segala sesuatu dipersepsikan sebagai kebaikan dan kebenaran.
c. Implikasi Metodologis
Periode ini merupakan fase pertama kehidupan Adam (dapat dianalogikan sebagai “Adam 1.0”), di mana segala sesuatu bersifat positif dan tanpa restriksi yang berarti. Tugas pendidik dan orang tua adalah menyediakan lingkungan yang aman dan kondusif, serta mengawasi tanpa memberikan tekanan psikologis. Anak pada fase ini tidak boleh dibentak, dimaki, dimarahi, dicerca, ditakuti, dicubit, atau dipukul. Fokus pendidikan diarahkan pada pengembangan otak kanan—otak kreatif dan emotif—serta perekaman “rasa” positif yang akan berbuah ketika mereka dewasa.
Pada fase ini pula, anak-anak diperkenalkan dengan nama-nama Tuhan, kebesaran Tuhan, dan kebaikan Tuhan, sehingga fondasi akidah dan tauhid tertanam dengan baik dalam alam kesadaran mereka. Inilah bentuk kurikulum yang secara umum diterapkan pada jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Kanak-Kanak (TK), dengan pendekatan yang bersifat fun, menyenangkan, dan berbasis pengalaman.
Pada rentang usia 0–7 tahun, seorang anak masih berada dalam periode fitrah atau kesucian awal. Kehidupan psikisnya masih didominasi oleh alam bawah sadar (subconscious mind), tempat tersimpan seluruh rekaman pengalaman awal sebagai manusia. Pada periode ini, aspek kognitif rasional belum berkembang secara signifikan; yang paling aktif adalah gelombang bawah sadar, yang menjadi fondasi bagi pembentukan kepribadian.
FASE KEDUA: Anak sebagai Tawanan — Membangun Kedisiplinan dan Adab (Usia 7–14 Tahun)
a. Transisi dari Kebebasan ke Restriksi
Fase kedua ini merupakan periode “Adam 2.0”, di mana anak mulai memasuki dunia dengan batasan-batasan. Meskipun kebebasan masih diberikan secara luas, restriksi mulai diperkenalkan secara bertahap. Konsep baik-buruk, benar-salah, halal-haram mulai diperjelas. Area bermain dan bertindak mulai dipagari oleh aturan-aturan yang bersifat mendidik. Pendidikan syariah dan adab harus mulai diperkuat secara sistematis.
b. Pengembangan Kesadaran dan Kedisiplinan
Pada usia ini, anak-anak dididik untuk bersikap secara sadar (conscious mind). Mereka mulai ditertibkan dalam berbagai aspek kehidupan—di meja makan, di kamar tidur, di kamar mandi, di ruang belajar, dan lain sebagainya. Manajemen waktu (time management) mulai diperkenalkan, demikian pula dengan kebersihan, kerapian, serta cara menghormati orang tua, guru, dan teman sebaya. Fokus pendidikan pada periode 7–14 tahun mulai menyasar otak kiri—otak logis dan analitis—melalui aktivasi kemampuan kognitif dan berpikir kritis-kreatif.
c. Kedisiplinan sebagai Prasyarat Pencapaian Tujuan
Sebuah visi, seindah apa pun, tidak akan tercapai tanpa diiringi oleh tanggung jawab, keberanian, kemauan, kedisiplinan, dan tindakan-tindakan logis yang konsisten. Menurut Hawkins (2014), ini merupakan bentuk-bentuk power awal yang diperlukan untuk mencapai kemajuan. Karena itulah, dalam sirah kenabian, kita melihat bagaimana Nabi Muhammad saw pada usia 7–14 tahun didisiplinkan melalui aktivitas menggembala kambing dan tugas-tugas lain yang membentuk karakter tanggung jawab.
Disiplin bukanlah hukuman, melainkan bentuk self-control dalam pencapaian tujuan (goal-oriented self-regulation). Pada rentang usia ini—yang bersesuaian dengan jenjang pendidikan dasar (SD/MI) dan menengah pertama (SMP/MTs)—sifat malas, suka menunda, dan perilaku prokrastinasi lainnya mulai dikikis. Bahkan, dalam konteks ibadah, kelalaian menjalankan shalat dapat dikenakan sanksi edukatif—namun dalam kadar yang proporsional sebagai peringatan (warning) tanpa menimbulkan luka batin baru. Hal ini merefleksikan pola pendidikan Adam, di mana pelanggaran terhadap larangan Tuhan berimplikasi pada “pelemparan” atau pengasingan ke bumi sebagai konsekuensi logis dari tindakan.
d. Implikasi Kurikuler
Pada fase ini, pendidikan diniyah diarahkan pada penguatan disiplin ibadah (syariah), pengenalan aturan-aturan keagamaan secara lebih terstruktur, serta pembiasaan adab dalam kehidupan harian. Metode pembiasaan (habituation), keteladanan (uswah), dan penguatan positif (positive reinforcement) menjadi pendekatan yang relevan.
FASE KETIGA: Anak sebagai Sahabat — Membangun Koneksi Spiritual (Usia 14–21 Tahun)
a. Puncak Perkembangan Kognitif dan Afektif
Apabila dua fase pertama berjalan dengan baik, maka otak kanan (kreatif-emosional) dan otak kiri (logis-analitis) anak akan berkembang secara seimbang dan sempurna. Pada usia sekitar 14 tahun—yang bersesuaian dengan masa baligh dan pubertas—individu telah mencapai kematangan akal dan emosi, sehingga petunjuk agama serta berbagai ilmu pengetahuan dapat diserap secara optimal. Pada titik ini, individu secara sepintas telah siap untuk “mengembara” di muka bumi dengan bekal pengetahuan dan kesadaran yang memadai.
b. Pendidikan Spiritual: Menuju Manusia Sempurna
Namun, tujuan akhir pendidikan manusia bukanlah sekadar penguasaan dunia material. Adam pada hakikatnya berasal dari Tuhan dan kepada-Nya ia harus kembali. Oleh karena itu, tahap terakhir dalam pendidikan adalah proses bagaimana seseorang dapat kembali menjadi “sahabat” Tuhan—terkoneksi, terhubung, dan terintegrasi dalam asma-asma Allah. Adam membuktikan bahwa setelah menemukan wasīlah (perantara), ia dapat kembali melebur dalam wujud ruhani terawal dan menjadi tajallī (citra) Allah. Derajatnya bahkan melampaui malaikat, sehingga seluruh malaikat bersujud kepadanya. Inilah gambaran derajat manusia ketika mampu menjadi insān kāmil—manusia sempurna yang berakhlak dan berkarakter.
c. Kurikulum Kenabian dan Aktivasi “Otak Ketuhanan”
Pendidikan pada usia 14–21 tahun memasuki ranah prophetic education—pendidikan khas kenabian—dengan fokus pada pendalaman spiritual. Usia 14 tahun adalah usia akil baligh, sebuah kematangan bagi seorang anak untuk mulai mendalami hakikat-hakikat kehidupan. Pada fase ini, anak harus diperlakukan sebagai “sahabat”, karena ilmu-ilmu hakiki (ma’rifah) hanya dapat ditransfer secara bertahap kepada mereka yang dianggap dapat menyimpan rahasia dan amanah.
Secara normatif, anak pada usia 14–21 tahun mulai memasuki masa remaja dengan emosi yang semakin matang dan akal yang telah berkembang. Seorang pendidik atau orang tua dapat menjadikan mereka sebagai mitra diskusi untuk urusan-urusan yang lebih produktif dan strategis. Lebih dari itu, secara spiritual, mereka perlu diperkenalkan dengan berbagai jalan dan metode untuk menuju Tuhan—untuk menjadi khalīlullāh, sahabat-Nya.
Pada fase ini, diperlukan aktivasi jenis kecerdasan yang tidak terletak di otak, melainkan di “hati” (qalb). Kecerdasan akal (IQ) dan kecerdasan emosi (EQ) saja tidak cukup; jika ruh atau kecerdasan spiritual (SQ) tidak aktif, seseorang akan “tersesat” di dunia. Puncak tujuan manusia adalah kembali pada keterkoneksian dengan kesadaran ketuhanan. Tanpa dimensi spiritual, individu akan mengalami kekosongan eksistensial, kelelahan batin, dan kehilangan arah hidup.
d. Tauladan dari Sirah Kenabian
Dalam sirah, kita melihat bagaimana Nabi Muhammad pada usia remaja mulai menjalani kehidupan spiritual yang intensif. Pada usia 12 tahun, dalam perjalanan dagang menuju Syam bersama pamannya Abu Thalib, beliau bertemu dengan seorang spiritualis bernama Buhaira—seorang ulama pewaris ketauhidan dan amalan-amalan Nabi Isa ‘alaihissalām. Ini merupakan bentuk “perjumpaan spiritual” yang meneguhkan kenabian Muhammad. Kehidupan beliau pada masa remaja hingga dewasa bukan hanya sebagai pedagang, tetapi juga sebagai “murid” yang rutin melakukan meditasi dan kontemplasi di tempat-tempat sunyi, termasuk Gua Hira. Beliau terus berlatih dan meningkatkan kesadaran spiritualnya, hingga energinya terhubung dengan alam malakut dan merasakan high level of energy dalam bentuk cinta, kedamaian, dan pencerahan (love, joy, peace, and enlightened)—yang oleh Hawkins (2014) digambarkan sebagai bentuk power tertinggi.
Dengan keteladanan ini, tidak hanya pikiran conscious dan subconscious yang harus dihidupkan, melainkan juga vibrasi ruh (superconscious mind) yang aktif. Kecerdasan inilah yang menjadikan seseorang manusia yang sempurna (insān kāmil). Meskipun diangkat menjadi rasul pada usia 40 tahun, kemuliaan dan kekeramatan Muhammad telah sangat tinggi sejak usia muda. Artinya, sejak usia baligh hingga masa dewasa awal, anak-anak sudah dapat diperkenalkan dengan kedalaman dimensi zikir dan spiritualitas sebagai bentuk kesadaran (mindfulness) yang menyempurnakan kecerdasan intelektual dan emosional yang telah terbangun pada fase-fase sebelumnya.
D. RELEVANSI
1. Profil Murid dan Fase Perkembangan
Pendidikan diniyah di Kota Banda Aceh terfokus pada murid pada jenjang pendidikan dasar (SD/MI) dan menengah pertama (SMP/MTs). Merujuk pada konsep psikopedagogis formula “3×7 tahun” di atas, murid pada rentang usia tersebut (sekitar 7–14 tahun) berada pada fase kedua dari perkembangan kesadaran, yaitu fase “Adam 2.0”.
Fase ini ditandai oleh sejumlah perkembangan psikologis yang signifikan, antara lain: mulai berkembangnya otak kiri (fungsi kritis, analitis, dan logis); mulai terbukanya ruang ekspresi dan kebebasan yang lebih luas, mulai terbentuknya kesadaran moral dan pemahaman akan aturan; dan meningkatnya kapasitas untuk menerima instruksi, hafalan, dan pembelajaran terstruktur.
2. Implikasi Kurikuler dan Metodologis
Rentang usia 7–14 tahun menjadi titik krusial bagi pengembangan intelektual (ilmu pengetahuan) dan pembentukan kedisiplinan (adab). Karena itu, pendidikan diniyah pada jenjang ini memerlukan penekanan dan metode pengajaran yang sesuai dengan fase perkembangan otak dan kesadaran jiwa (mindfulness) murid.
Beberapa implikasi praktisnya adalah:
| Aspek | Implikasi bagi Pendidikan Diniyah |
| Kurikulum | Penguatan muatan syariah (fikih) dan akhlak secara terstruktur, dengan porsi yang semakin meningkat seiring bertambahnya usia. |
| Metode | Penerapan metode pembiasaan (habituation), keteladanan (uswah), dan penguatan positif, serta mulai diperkenalkannya metode diskusi dan tanya jawab untuk mengasah kemampuan berpikir kritis. |
| Disiplin | Penegakan aturan dan kedisiplinan secara konsisten dan proporsional, dengan pendekatan edukatif yang tidak melukai psikis anak. |
| Hafalan | Pemberian target hafalan Al-Qur’an dan doa-doa harian secara bertahap, sesuai dengan kapasitas kognitif yang mulai berkembang. |
| Adab | Pembiasaan adab Islami dalam keseharian, baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat, sebagai fondasi karakter. |
| Evaluasi | Penggunaan asesmen yang tidak hanya mengukur aspek kognitif, tetapi juga afektif (sikap) dan psikomotorik (keterampilan ibadah). |
3. Transisi ke Fase Ketiga
Meskipun pendidikan diniyah secara formal hanya mencakup jenjang SD dan SMP, pemahaman tentang fase ketiga (14–21 tahun) tetap penting sebagai orientasi jangka panjang. Murid yang telah menyelesaikan pendidikan diniyah diharapkan memasuki fase “sahabat” dengan bekal kedisiplinan dan kecintaan terhadap Al-Qur’an yang memadai, sehingga mereka siap untuk mendalami dimensi spiritual dan intelektual pada jenjang pendidikan selanjutnya.
E. PENUTUP: RELEVANSI KONSEPSI RTS BAGI PENDIDIKAN DINIYAH KOTA BANDA ACEH
Pendidikan Diniyah Kota Banda Aceh, dengan fokus pada murid jenjang pendidikan dasar (SD/MI dan SMP/MTs), berada pada fase kedua dari formula psikopedagogis 3×7 tahun. Fase ini ditandai dengan mulai berkembangnya kemampuan kognitif dan kesadaran moral, sehingga menjadi titik krusial bagi pengembangan intelektual dan pembentukan kedisiplinan. Dengan demikian, pendidikan diniyah pada fase ini harus menekankan pada penguatan akidah (tauhid), syariah (fikih/pembiasan ibadah), akhlak (tasawuf), serta penguatan kompetensi Qurani (membaca, menghafal, dan memahami) melalui metode yang sesuai dengan tahap perkembangan psikologis murid. Pendidikan diniyah juga berfokus pada fase pembentukan kedisiplinan (adab) dalam menggali dan menerapkan ilmu, dengan orientasi akhir melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga kokoh secara spiritual, matang secara emosional, dan produktif secara sosial—sebagaimana diamanatkan dalam visi “Terwujudnya Generasi Pendidikan Dasar Kota Banda Aceh yang Berkarakter Qurani.”*****
