Takut Mati

Bagikan:

Jurnal Suficademic | Artikel No. 20 | Mei 2026

Takut Mati
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic

Bismillahirrahmanirrahim.

Pendahuluan

Salah satu hal yang paling ditakuti manusia adalah “kematian”. Dalam dunia psikiatrik, kondisi ini dikenal dengan thanatophobia. Tidak hanya kematian, bahkan membicarakan kematian itu sendiri termasuk hal yang sangat menakutkan.

Orang beragama pun banyak yang takut mati. Khususnya ketika merasa dosanya banyak sekali. Atau karena rasa cinta dunianya tinggi sekali. Mereka punya memori bawah sadar untuk tidak ingin berpisah dengan kekuasaan, kemewahan, atau rasa nyaman yang telah dimiliki. Konon lagi, tak ada yang tau apa yang akan terjadi setelah mati.

Kalau Anda melihat orang yang terlalu sibuk, itu terkadang bukan karena ia rajin dan produktif. Bisa jadi itu hanya usaha untuk mengalihkan perhatiannya dari mengingat kematian.

Apalagi bagi mereka yang tidak percaya kepada adanya kehidupan setelah mati, the fear of death pasti selalu menghantui. Karena itulah, thanatophobia termasuk salah satu dari 10 rasa was-was atau phobia terbesar yang diderita manusia di muka bumi.

Sufisme dan Kematian Diri

Fenomena ini telah lama menjadi fokus kaum sufi. Sufisme hadir untuk mengobati rasa was-was atau takut terhadap kematian. Obat yang ditawarkan: “Muutu qabla an tamuutu”. Matilah sebelum kamu mati.

Salah satu teknik untuk menyembuhkan rasa takut adalah dengan melakukan apa yang ditakuti. Ada orang yang takut bicara, ya disuruh bicara saja. Ada orang yang takut gelap, ya diarahkan saja untuk berjalan dalam gelap. Ketika ia sudah melalui itu, ketakutannya berlahan akan hilang.

Kami sering melatih public speaking untuk staf dan mahasiswa. Berbicara di depan umum termasuk hal yang juga sangat ditakuti. Tapi, setelah dimotivasi dan diajari berbicara dengan metode tertentu, peserta menjadi berani. Sebagian justru menemukan bakat baru di bidang itu. Public speaking yang sebelumnya menjadi momok menakutkan, bisa berubah menjadi comfort zone baru. Kuncinya, fasilitasi mereka untuk masuk dalam proses itu.

Sama. Agar tidak takut mati, ya ‘mati’ saja. Kalau sudah ‘mati’, ya tidak takut mati lagi. Sebab, hal yang ditakuti sudah dialami. Ternyata, ‘mati’ itu asik sekali.

Sufisme adalah metode spiritual-psikologis untuk menjalani ‘kematian’ -atau ‘bunuh diri’. Kematian yang ditempuh adalah kematian maknawi, kematian kehendak atau kematian iradi (ego). Bukan kematian jasadi (biologis).

Banyak berhala psikologis yang harus ‘dibunuh’ jika seseorang ingin menjalani hidup yang penuh rasa bahagia:

وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهٖ يٰقَوْمِ اِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ اَنْفُسَكُمْ بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ فَتُوْبُوْٓا اِلٰى بَارِىِٕكُمْ فَاقْتُلُوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ عِنْدَ بَارِىِٕكُمْۗ فَتَابَ عَلَيْكُمْۗ اِنَّهٗ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

(Ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Wahai kaumku, sesungguhnya kamu telah menzalimi dirimu sendiri dengan menjadikan (patung) anak sapi (sebagai sembahan). Oleh karena itu, bertobatlah kepada Penciptamu dan bunuhlah dirimu. Itu lebih baik bagimu dalam pandangan Penciptamu. Dia akan menerima tobatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang (QS. Al-Baqarah: 54)

Kenapa Orang Takut Mati?

Jawabannya, karena yang hidup dalam dirinya hanya “ego”. Ego adalah kesadaran tentang “dirinya”. Hanya tentang dirinya. Tidak ada kesadaran tentang Tuhannya. Ego ini memang membuat manusia punya banyak keinginan dan bisa diajak untuk mencapai kemajuan. Tapi ia lupa dan tidak bisa merasakan Tuhan.

Karena itulah, manusia Barat itu orangnya cerdas-cerdas. Tapi takut mati. Otaknya penuh terisi. Tapi jiwanya kosong.

Bukan cuma di Barat, di tempat kita juga begitu. Hasil riset kementerian kesehatan menyebutkan, cukup banyak rakyat Indonesia yang menderita penyakit “was-was”. Mungkin semuanya. Levelnya saja beda-beda. Dalam sufisme, penyakit yuwaswisu fii shuduurin-naas ini didiagnosis berakar pada rasa teralienasi dari Tuhan.

Seseorang akan takut mati karena merasa jiwanya belum bersama Tuhan. Yang disebut mati, itu sebenarnya adalah “hidup bersama Tuhan”. Bukankah kalau ingin ‘ketemu’ Tuhan harus mati dulu?

Iya, kalau ingin ketemu Tuhan, mati dulu. Tapi tidak harus dengan betulan mati. Yang ‘dimatikan’ (dikendalikan) hanya ego. Lalu dihidupkan sebuah kesadaran ruhaniah lain yang mampu mengenal dan merasakan gelombang Tuhan.

Ketika gelombang ini hidup, orang tidak takut mati lagi. Sebab, mati atau tidak mati, baginya sama saja: sudah bersama Tuhan. Yang hidup dalam dirinya hanya kesadaran ketuhanan.

Jadi, yang disebut “mati” itu adalah “perpindahan kesadaran”. Dari kesadaran ‘aku’ (ego) ke ‘Aku’ (Ilahi). Dari “Aku berpikir maka aku ada” ke “Dialah yang berpikir dalam aku”.

Itulah mental orang-orang yang sudah ‘mati’. Ia merasa dirinya sudah tidak ada. Sudah fana. Yang ada hanya Tuhan. “La maujuda illallah”. Yang aktual hanya kekuatan Tuhan. “La haula wala quwwata illa billah”. Ini kalimat-kalimat yang muncul dari orang yang sudah ‘mati’.

Tidak berarti dengan merasa ‘mati’ lalu hidupnya menjadi apatis. Sebab, setelah mengalami ‘kematian’ maknawi ini, seseorang justru telah hidup bersama Tuhan -Yang Maha Hidup. Karenanya, mereka pasti menjadi lebih aktif, lebih aware dan lebih produktif. Sebab, Tuhan telah hadir dalam dirinya.

Fenomena mukjizat atau karamah yang dimiliki para nabi atau sufi, itu bentuk energi yang lahir dari ‘kematian diri’ (ego). Ketika kesadaran ketuhanan dapat diaktivasi, merasa dirinya sudah tidak ada, disitulah divine power mulai bekerja. Mereka justru menjadi semakin “hidup”.

Memang, semua orang beragama -orang Islam misalnya, itu beriman atau percaya kepada Tuhan. Tapi belum tentu hidup kekuatan mukjizat atau karamahnya. Sebab, keyakinan kepada Tuhan hanya eksis dalam pikiran kognitif sadarnya. Sedangkan mukjizat dan karamah adalah sebuah bentuk kesadaran ketuhanan yang bersumber dari kekuatan alam bawah dan atas sadar.

Untuk sampai pada level ini, seseorang harus menempuh jalan ‘kematian’. Kesadarannya harus dipindahkan. Conscious mind-nya harus ‘dimatikan’. Lalu mulai menjalani proses tapping untuk masuk ke alam ruhani (subconscious and supra-conscious mind).

Ada dosen pembimbing, psikolog atau fasilitator untuk menjalani proses ‘kematian’ ini. Dalam sufi disebut “mursyid”. Mereka menggunakan metode taubat, zikir, suluk, tawajuh, puasa, dan lainnya untuk bisa masuk jauh ke jantung kesadaran Tuhan.

Manusia Paling Berani

Para nabi atau sufi adalah orang-orang paling berani. Mereka sudah bersama Tuhan sejak di dunia. Mereka tidak menunggu mati untuk ketemu Tuhan. Sejak hidup di dunia mereka sudah makrifat. Sudah mengenal, atau sudah berjumpa Tuhan.

Karena itulah; para nabi, sufi atau wali-wali Allah tidak lagi punya penyakit “was-was”. Mereka tidak lagi punya rasa takut atau phobia. Khususnya “thanatophobia”. La takhaf wa la tahzan. Untuk apa takut mati. Mereka sudah ‘mati’. Jiwanya sudah kembali, sudah hidup bersama Tuhannya. Tuhanlah yang bekerja melalui mereka. Karena itulah mereka dipilih Tuhan untuk menjadi wakil-Nya, manjadi wali atau pemimpin bagi umat manusia:

اَلَآ اِنَّ اَوْلِيَاۤءَ اللّٰهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَۚ

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya (bagi) para wali Allah itu tidak ada rasa takut yang menimpa mereka dan mereka pun tidak bersedih” (QS. Yunus: 62)

Karena tidak punya rasa takut untuk mati, maka sejak dulu kita temukan para pejuang kemerdekaan banyak berasal dari kaum sufi. Seluruh dunia Islam begitu. Sekarang pun, kalau kita lihat Iran yang begitu berani menghadapi Israel dan Amerika, juga karena menganut ideologi Irfan atau sufisme semacam ini. Namanya ideologi “kesyahidan”. Seluruh ide, pandangan, dan kesadaran mereka hanya tertuju dan telah dipindahkan kepada Tuhan.

Sangat berbeda dengan belahan dunia Arab lain, mereka sangat menghindari kematian. Berapapun biaya akan dikeluarkan asal bisa selamat dan tidak dibunuh mati. Alhasil sudah sama-sama kita lihat. Yang takut mati semakin terjajah. Yang tidak takut mati semakin “hidup” dan bahkan telah berubah menjadi imperium baru.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

Bagikan:

976 thoughts on “Takut Mati

  1. A well calibrated piece that knew its scope and stayed inside it, and a look at dewchip maintained the same scope discipline, scope creep is one of the failure modes of long blog posts and this site has clearly invested in the editorial discipline to prevent it which shows up in tightly contained pieces.

  2. Reading this in pieces over a coffee break and finding it consistently rewarding, and a stop at jalaxis extended that into related material I will return to later, the kind of site that fits naturally into small reading windows without requiring a long uninterrupted block is genuinely useful for how I actually browse.

  3. Reading this in segments because the day was busy, and the post survived the fragmented attention well, and a stop at lakepeach held up similarly under interrupted reading, content that can withstand modern distracted reading patterns rather than requiring a perfect block of focused time is increasingly the kind I prefer.

  4. Started imagining how I would explain the topic to someone else after reading, and a look at lushmarble gave me more material for that imagined explanation, content that improves my own ability to discuss a topic is content that has actually transferred knowledge rather than just decorating my screen for a few minutes.

  5. Now feeling slightly more committed to my own careful reading practices having read this, and a stop at macrolush reinforced that commitment, content that models the kind of attention it deserves is content that calibrates the reader and this site has clearly raised my own bar for what to bring to good writing today.

  6. Once you start reading carefully here it is hard to go back to lower quality alternatives, and a stop at unitybondcollective reinforced that ratchet effect, the way good content raises standards is real over time and this site has clearly contributed to raising my expectations for what is possible in writing on the topic generally.

  7. Refreshing tone compared to the dry corporate posts on similar topics, and a stop at unityharbor carried that personality through nicely, you can tell when a real person is behind the writing versus a content team chasing metrics and this site definitely falls into the former category clearly across what I have seen.

  8. During the time spent here I noticed the absence of the usual distractions, and a stop at trustcraft extended that distraction free experience, content that does not fight my attention with pop ups and modals and aggressive prompts is content that respects me and this site has clearly chosen the respectful approach throughout.

  9. Came away feeling slightly smarter than I was when I started, that is a real win, and a stop at unitycrest added a bit more to that, the rare site that actually transfers some of its knowledge to the reader in a way that sticks rather than just creating an illusion of learning briefly.

  10. Top quality material, deserves more attention than it probably gets, and a look at actionwithstructure reflected the same effort across the site, a hidden gem in the modern web where most attention goes to whoever shouts loudest rather than whoever actually delivers the best content for their readers without much marketing fanfare.

  11. Took a screenshot of one section to come back to later, and a stop at buildgrowthsystems prompted another saved tab, the urge to capture and revisit specific pieces of content is something I rarely feel but when I do it tells me the work is worth more than the average passing read for sure.

  12. Solid endorsement from me, the writing earns it, and a look at trustcontinuum continues to earn it across the broader site too, the kind of operation that maintains quality across many pages rather than just one viral post is a sign of serious commitment and that is what I see here clearly across what I read.

  13. Honest assessment is that this is one of the better short reads I have had this week, and a look at executeprogress reinforced that, the bar for short content is low because most of it sacrifices substance for brevity but this site manages both at once which is harder than it sounds for most writers attempting it.

  14. My usual pattern is to skim and bounce but this site has reset that pattern temporarily, and a stop at actionmapsuccess maintained the slower reading mode, content that changes how I read is content with structural influence and this site has clearly nudged my reading behaviour toward something better at least for the duration of these visits.

  15. Found this really helpful, the explanations are simple but they actually answer the questions a normal reader would have, and after I followed capitalbondhub I had a clearer sense of the topic, no extra fluff just useful points laid out in a sensible order that made the time worth it.

  16. Honest reaction is that this is the kind of writing I would defend in a conversation about good blog content, and a look at strategyforwardpath reinforced that, the rare site whose work I would actively recommend rather than just tolerate is the kind I want to support through return visits regularly.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Manajemen "Qaddamat Lighad": Menjadi Manusia Visioner dan Beretika

Mon May 11 , 2026
Jurnal

Kajian Lainnya

SAID MUNIRUDDIN adalah seorang akademisi, penulis, pembicara dan trainer topik leadership, spiritual dan pengembangan diri.