“One Piece”, Cara Barat Mengejar Mimpi

Bagikan:

Jurnal Suficademic | Artikel No. 25 | Mei 2026

“ONE PIECE”, CARA BARAT MENGEJAR MIMPI
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic

Bismillahirrahmanirrahim.

“One Piece”, Dunia Barat dan Mimpi

KALAU ingin tau makna “mengejar mimpi” dalam perspektif Barat, tonton “One Piece”. Dalam versi Live-Action di Netflix, film ini sudah tayang dua season. Dengan total sementara 16 episode. Masing season ada 8 episode.

Film yang aslinya diangkat dari serial manga Jepang ini mengisahkan sosok pemuda “karet” Monkey D. Luffy. Sejak kecil ia hanya punya satu cita-cita: menjadi raja bajak laut!

Sekeras apapun dididik oleh kakeknya untuk tidak menjadi perompak, cita-citanya tak tergoyahkan. Walau berkarakter sebagai orang baik, ia tetap ingin menjadi raja bajak laut!

Tujuannya satu. Luffy terinspirasi untuk mendapatkan “One Piece”, harta karun peninggalan Gol D.Rogers si raja bajak laut legendaris. Harta ini tersembunyi di Grand Line. Sebuah wilayah di ujung dunia. Siapapun yang ingin sampai kesana, nyawa taruhannya.

Dari satu episode ke episode lainnya, hanya satu aura yang ditebarkan D. Luffy, si bajak laut “bertopi jerami”. Siapapun yang ia jumpai, pesannya selalu sama: kejar mimpimu. Bangun ambisimu. Jangan pernah menyerah. Tinggalkan kampungmu. Terus berlayar. Carilah kebebasan. Kamu pasti bisa. Siapapun yang ia temui, anak kecil ini selalu membangun afirmasi sambil memperkenalkan diri: “Aku Monkey D. Luffy, calon raja bajak laut!”.

Alhasil. Dalam timnya bergabung Roronoa Zoro, seorang pembunuh bajak laut yang bercita-cita menjadi pendekar pedang terhebat di dunia. Ada Nami, navigator kapal yang bermimpi ingin menggambar peta dunia. Ada Usopp, penembak jitu yang berhasrat ingin berkeliling dunia. Ada Sanji, tukang masak yang berharap menjadi koki terbaik sejagat. Ada Tony Tony Chopper, dokter pemalu dan penakut yang ingin menjadi pemberani dengan berpetualang melampaui batas asalnya.

Monkey D. Luffy adalah seorang motivator handal. Mirip sekali dengan trainer dalam training-training motivasi kita. Kerjanya mendorong orang untuk mengejar cita-cita. Kadang-kadang dilakukan lewat sugesti. Sesekali melalui kata-kata bijak. Lain waktu dengan yel-yel bertenaga: “Gomu-Gomu!”, teriak Luffy.

Film ini menjadi semakin menarik, karena dunia “One Piece” dihuni oleh bajak laut yang saling berkompetisi. Sebagian besar berkarakter penjahat. Sebagian lain digambarkan sebagai bandit yang baik. Termasuk tim bajak laut D. Luffy.

Karena itu, bendera tengkorak One Piece sempat dilarang beredar di Indonesia. Negara kita dipersepsikan oleh para netizen sebagai dunia para perompak. Republik ini disindir berisi kumpulan bandit yang sedang berkompetisi untuk mengejar sumberdaya alam. Dunia ini, isinya perompak.

Akhirnya, pemuda seperti D. Luffy juga mengibarkan benderanya sendiri. Mereka menyebut dirinya sebagai perompak yang baik, yang punya mimpi sendiri, yang hidup di tengah perampok dan preman-preman jahat lainnya. Para perompak jahat berusaha menyingkirkan tim D. Luffy, kumpulan anak muda yang peduli.

Film ini unik. Sebab, Anda akan mengetahui bahwa para penjahat, bandit, dan perompak-perompak itu ternyata kumpulan orang-orang yang memiliki cita-cita yang kuat. Punya mimpi yang tinggi. Punya keinginan besar. Mereka bersedia membayar nyawa untuk meraih semua asa. Mereka akan membunuh siapapun yang ingin merebut apa yang ingin mereka miliki.

Setelah menonton film ini, kita jadi sadar. Ternyata dunia ini diisi oleh para perampok semacam ini. Aparat penegak hukum sekalipun, sesekali, bahkan seringkali berkolaborasi dengan mereka dalam mencapai tujuan. Kony, sahabat D. Luffy yang idealis, yang bermimpi menjadi angkatan laut yang bertugas menangkap bajak laut, juga terkejut ketika menghadapi kenyataan bahwa pimpinan marinirnya juga ada ‘main’ dengan mafia bajak laut.

Setelah menonton film ini pula, kita menjadi malu sendiri. Sebab, kita yang menjalani hidup sebagai orang-orang baik (sebutlah begitu), justru hidup tanpa cita-cita. Sepanjang hari kita terus ngopi dari satu warung ke warung lain. Bicara tanpa ujung. Melamun tanpa tujuan. Sementara orang-orang jahat, sudah lama menyusun siasat untuk meraih kuasa. Jadi wajar terjadi kondisi, seperti bunyi pepatah Aceh: “buya krueng teudong-dong, buya tamong meuraseuki”.

Setelah menonton film ini kita jadi sadar, betapa banyak orang terdidik yang lahir dari sekolah dan kampus-kampus. Tapi jadi pengangguran yang tidak punya visi. Betapa banyak orang beragama yang lahir dari lembaga-lembaga keagamaan. Tapi sibuk mutar kesana kemari, tanpa mimpi.

Film ini mengajari kita satu hal: belajarlah dari para bandit. Bahkan bandit pun punya cita-cita. Misalnya, untuk merampok dunia. Bahkan untuk menjadi bandit sekalipun, itu harus dimulai dengan cita-cita. Susah lho jadi bandit. Butuh energi besar untuk jadi bandit. Jadi, kalau Anda menemukan para bandit, hormati mereka. Itu kumpulan orang yang telah mempertaruhkan nyawanya untuk sebuah posisi. Mungkin tujuannya jahat. Tapi paling tidak mereka sudah mampu membangun tujuan dan memperjuangkan itu. Bahkan dengan taruhan akan ditangkap bahkan ditembak polisi!

Film ini seolah-olah mengajarkan, kalau Anda tidak punya cita-cita untuk menjadi sukses sebagai orang baik, jadi bandit boleh juga. Yang penting punya cita-cita. Begitu pentingnya sebuah cita-cita. Dalam hal ini Anda boleh belajar dari iblis. Iblis itu sudah bingung. Tak tau lagi bagaimana cara jadi makhluk baik. Akhirnya minta izin Tuhan untuk jadi jahat. Disini Anda akan paham, iblis termasuk makhluk yang “purposeful”. Hidupnya bertujuan. Makanya powerful sekali dia.

Kenyataannya, itulah bentuk visi, mimpi, atau cita-cita dalam perspektif “barat”. Barat tidak selalu bermakna Eropa dan sekitarnya. Barat juga bermakna cara berpikir dengan “otak kiri”. Rasional. Hidup harus ambisius, untuk mengejar apapun yang Anda mau. Harus produktif. Karenanya, berjuanglah tanpa henti. Jangan pernah menyerah. Tak bisa jadi orang baik, jadi orang jahat juga boleh. Yang penting punya cita-cita.

Kalau Anda lihat pencapaian Barat dalam banyak hal, itu dibangun lewat cara pandang semacam ini. Kolonialisme, imperialisme, termasuk zionisme, dicapai lewat visi besar seperti itu. Mereka sukses membangun armada perang dan teknologi guna mengejar mimpi-mimpi kapitalistiknya.

Mereka tidak mengakui bahwa mimpi mereka kotor dan hina. Tidak. Mereka tetap memuja semua cita-citanya. Lihat zionisme, betapa percaya dirinya mereka saat membangun visi “the promised land”. Mereka membunuh dan merampok tanpa batas disaat mengejar visinya itu. Itulah kekuatan mimpi!

Kalau ingin melihat bagaimana cara sukses Barat lainnya, lihat bagaimana keluarga Rothschild dengan ambisi ekonomi ribawinya. Lihat juga cara kerja elit global dalam mengejar mimpi mereka untuk membentuk “the new world order”. Mereka ingin seluruh dunia takluk di bawah sistem ekonomi dan keuangan yang terkontrol. Mereka akan membuat rekayasa apapun, tanpa rasa bersalah, untuk mewujudkan itu. Sekalipun harus meruntuhkan WTC dengan ribuan orang di dalamnya. Atau menciptakan Covid yang mematikan ratusan ribu manusia, dan agenda lainnya.

Jika orang jahat punya mimpi yang begitu besar, bagaimana dengan Anda yang merasa sebagai manusia relijius lagi baik? Apa mimpi Anda?

“Mengejar Mimpi”, Perspektif Timur

Yang kita bahas diatas adalah cara “membangun mimpi” dalam perspektif barat (otak kiri). Harus ambisius. Pantang menyerah. Meminjam istilah Presiden Jokowi: “Kerja, kerja, kerja”.

Apakah salah?

Tidak. Dalam banyak hal, Anda telah melihat bagaimana kekuatan pencapaian mereka. Sangat produktif. Kita harus belajar cara seperti itu. Meskipun Anda juga melihat banyak sekali masalah yang ditimbulkan lewat “ambisi” dan sifat “pantang menyerah” semacam itu.

Otaknya memang hidup. Matanya terus terbuka. Secara rasional memang begitu. Tapi jiwanya lelah. Manusia Barat ‘kosong’. Sebab, dirinya yang bekerja sepanjang waktu. Meminjam teori Cash Flow Quadrant dari Robert Kiyosaki, mereka bekerja di kuadran satu atau dua. Sangat mandiri. Semua dikerjakan sendiri. Tidak sedikitpun diserahkan ke Tuhannya.

Karena itulah, dalam perspektif timur (otak kanan) diperkenalkan strategi “retreat” (menyerah) dalam mengejar mimpi. Menyerah dalam arti positif.

Sesekali tarik diri. Lakukan secara rutin. Masuk ke kuadran tiga dan keempat, pejamkan mata. Biarkan alam dan Tuhan yang bekerja. Itulah fungsi uzlah, suluk, atau khalwat dalam tradisi spiritual. Ini metode “retreat”, menyerahkan diri kepada Tuhan ketika ingin mengejar sebuah mimpi. Tradisi timur kaya dengan tradisi meditatif semacam ini.

Tapi jangan pula selalu meditatif sampai lupa bekerja. Harus diseimbangkan. Siang digunakan untuk mengejar ambisi. Malam untuk bertawajuh (bertahajud) dalam kelambu suci. Sisakan waktu untuk wukuf. Lakukan break atau pause secara reguler dalam setiap langkah kerja.

Sebab, tradisi Timur mempercayai: “manusia yang bercita-cita, tapi Tuhan yang menentukan”. Jadi, seni “meraih mimpi” dalam tradisi Timur memang harus dengan memperbanyak ‘tidur’ (zikir/meditasi). Mimpin dikejar dengan mata tertutup. Beda dengan tradisi Barat, Anda harus bangun dari tidur, lalu bekerja untuk mewujudkan mimpi.

Dua seni ini harus dikuasai. Perspektif Timur dan Barat harus disatukan. Karena itu, training-training Suficademic tidak melulu berperan sebagai “motivator” untuk memompa peserta sibuk mengejar mimpi. Kami juga hadir untuk memberi inspirasi, bagaimana cara Anda bisa ‘tidur’ secara kreatif sebagaimana diajarkan dalam berbagai tradisi sufi, sehingga tercapai mimpi-mimpi. Kami menggali ilmu ini dari Guru Sufi.

Teknik ini sebenarnya dapat Anda pelajari dari sosok seperti Muhammad. Seorang pemuda yang rajin sekali bertapa sejak usia muda. Sekaligus aktif sekali berjihad sepanjang hidupnya. Mimpinya satu, sama dengan D.Luffy, mengejar “one piece”. Tapi dalam makna berbeda: One God, One Ummah!

Penutup

Kalau Anda lihat, Amerika itu sudah mau punah. Mereka itu sosok “bajak laut” Barat yang sangat ambisius dengan mimpinya. Ambisius sekali, sampai ingin menguasai dunia. Tidak mau berhenti mereka. Siang malam terus menjajah, menyerang, dan menculik siapapun yang menentang visi mereka. Ada periode mereka berhasil dengan cara-cara seperti itu.

Hari-hari ini, mereka justru sedang dilumat oleh bangsa “Sinbad” yang juga pelaut hebat. Bangsa Iran, atau Persia. Perang Amerika vs. Iran juga melukiskan tentang “One Piece”. Perang antar bajak laut. Yang satu bajak laut krasak krusuk (Amerika). Satu lagi bajak laut pendiam. Diam-diam sudah maju dan tidak terkalahkan (Iran/Persia).

Persia juga bangsa yang punya mimpi besar. Tapi mereka suka menyerahkan mimpinya kepada Tuhan. Spiritualitasnya tinggi. Zikir dan shalawatnya banyak. Iran adalah bangsa dengan segudang ambisi saintifik, tapi masih suka berdialog dengan Tuhan. Kelihatannya, bangsa seperti ini lebih menggambarkan model integrasi antara Barat dan Timur: ambisius sekaligus spiritualis. Otak kiri, sekaligus otak kanan. Mungkin Iran cocok menjadi salah satu alternatif bagi dunia terkini terkait cara “mengejar mimpi”.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

Bagikan:

976 thoughts on ““One Piece”, Cara Barat Mengejar Mimpi”

  1. Considered as a whole this site has developed a coherent point of view that comes through in individual pieces, and a look at dewchip continued displaying that coherence, sites with a unified perspective rather than a grab bag of takes are sites with editorial maturity and this one has clearly developed that maturity through years of work.

  2. Just dropping by to say thanks for the effort, it does not go unnoticed when a writer cares this much about the reader, and after I went through jalaxis I was certain this is one of the better corners of the internet for this particular kind of content which is genuinely refreshing.

  3. Honestly this was a good read, no jargon and no padding, and a short look at lakepeach kept that same feel going which I really appreciated, the writer clearly knows the topic well enough to explain it without hiding behind big words or filler that often gets used to seem clever.

  4. Reading this gave me material for a conversation I needed to have anyway, and a stop at lushmarble added even more talking points, content that connects to upcoming social or professional needs rather than just being interesting in the abstract is the kind that earns priority placement in my attention these days routinely.

  5. Reading this in pieces during a long afternoon and finding it consistently rewarding, and a stop at macrolush fit naturally into the same fragmented reading pattern, sites whose posts can be read in segments without losing the thread are well suited to how I actually read these days and this one is built well.

  6. Thank you for the genuine effort here, it shows in every paragraph and not just the headline, and after my visit to unitybondcollective I was sure this site cares about getting things right rather than chasing clicks, which is the main reason I will come back later this week to read more.

  7. Took a few notes from this post, the points are easy to remember without needing to come back and check, and a look at unityharbor added a couple more, the kind of place that sticks in the memory long after the browser tab has been closed for the day which says a lot really.

  8. Glad to find a site whose links lead somewhere worth going rather than back to itself for SEO juice, and a stop at trustcraft kept that generous outbound feel, citing other peoples work with real respect rather than just for ranking signals is a sign of an honest operation worth supporting going forward.

  9. Top quality material, deserves more attention than it probably gets, and a look at actionwithstructure reflected the same effort across the site, a hidden gem in the modern web where most attention goes to whoever shouts loudest rather than whoever actually delivers the best content for their readers without much marketing fanfare.

  10. Reading this triggered a small change in how I think about the topic going forward, and a stop at unitycrest reinforced that subtle shift, the rare content that actually moves my thinking rather than just confirming or filling it is the kind I most value and this site is providing that kind of impact today.

  11. Honest assessment after reading this twice is that it holds up under careful attention, and a look at buildgrowthsystems extended that durability across more pages, content that survives a second read without revealing weak spots is rarer than the average reader probably realises and this site clearly cleared that bar.

  12. Reading this gave me a small sense of progress on a topic I have been slowly working through, and a stop at trustcontinuum added another step forward, learning happens in small increments across many sources and finding sources that consistently contribute is the actual practical value of careful curation in an information rich world.

  13. If the topic interests you at all this is a place to spend time, and a look at executeprogress reinforced that recommendation, the broader question of where to invest topical reading time is one this site answers convincingly through the consistent quality across multiple pieces I have sampled during the current reading session today.

  14. Looking forward to seeing what gets published next month, and a look at actionmapsuccess extended that anticipation across the broader site, finding myself looking forward to a sites future content rather than just consuming its existing content is a stronger commitment level than I usually reach with new finds and this site triggered that.

  15. Picked a single sentence from this post to remember, and a look at capitalbondhub gave me another to keep, content that produces memorable lines is doing more than just transferring information and the small selection of sentences I keep from each reading session is one of the actual returns I get from reading carefully.

  16. Clean writing, easy to read, and never tries too hard to impress, that combination is harder to find than people think, and after my time on strategyforwardpath I am sure this site treats its readers well, no flashy tricks just useful content done right which is honestly all I want online.

  17. Worth pointing out that the post avoided the temptation to summarise everything at the end, and a look at forwardplanninglab continued that confident closing approach, content that trusts readers to retain the substance without being reminded of it at the end is content that respects the reader and this site practices that respect.

  18. Speaking carefully because I do not want to overstate things this site is genuinely above average across multiple measurements, and a stop at capitalbonded continued the above average performance, the calibration of judgement against potential overstatement is something I take seriously and this site clears the higher bar even after that calibration applies.

  19. A piece that demonstrated competence without performing it, and a look at buildclearoutcomes maintained the same self assured but unshowy register, the gap between competence and performance of competence is one I track and this site has clearly chosen to demonstrate rather than perform which I find much more persuasive as a reader.

  20. A piece that handled multiple complications without becoming confused, and a look at ideasneedmotion continued that organisational clarity, holding multiple threads in a single piece without losing any of them is a sign of skilled writing and this site has clearly developed the editorial discipline to manage complexity without sacrificing readability throughout.

  21. Reading this confirmed something I had been suspecting about the topic, and a look at trustsynergy pushed that confirmation toward greater confidence, content that lines up with independently held intuitions earns a special kind of trust and I will return to writers who consistently land that way for me without overselling positions.

  22. Nice to see a post that does not try to overcomplicate the basics for the sake of looking smart, and once I looked at signalthefuture the same direct tone was there too, which honestly makes a difference when you are short on time and want answers without long pointless intros.

  23. Skipped the social share buttons but might come back to actually use one later, and a stop at capitalbondcraft extended that share urge, content that triggers genuine sharing impulses rather than performative ones is content that has actually moved me and not many posts in a typical week do that for me actually.

  24. Started taking notes about halfway through because the points were stacking up, and a look at growthledger added enough material that my notes file grew further, content that demands note taking from a passive reader is content with substance and the writers here are clearly producing that kind of work consistently across topics.

  25. Now adjusting my mental list of reliable sites for this topic, and a stop at bondedgrowth reinforced the adjustment, the small ongoing curation work of maintaining trusted sources is one of the actual practical activities of careful reading and this site has earned a permanent place on my list for this particular subject.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

PRABOWO!

Mon Jun 1 , 2026
Jurnal

Kajian Lainnya

SAID MUNIRUDDIN adalah seorang akademisi, penulis, pembicara dan trainer topik leadership, spiritual dan pengembangan diri.