Jurnal Suficademic | Artikel No.41 | Maret 2023
RELASI AGAMA DAN SAINS DALAM EMPAT LEVEL ONTOLOGI
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM.
Kesatuan Agama dan Sains
Dalam periode awal Islam, agama dan sains, baik dalam tradisi tekstual maupun kontekstual itu manunggal. Tidak terpisah. Ini dapat dilihat dalam dua bukti.
Pertama, Quran yang menjadi referensi utama pengetahuan, itu isinya agama sekaligus sains. Yang kami maksud agama disini adalah pengetahuan tentang wujud “metafisika”, dengan Tuhan sebagai realitas puncak (Wajibul Wujud/Necessarily Existent). Inti agama memang itu. Agama dibangun dari keyakinan kepada ontologi, being, objek atau wujud metafisis (i.e., Allah, malaikat, kitab, rasul, hari akhir, dan takdir/keadilan ilahi). Disisi lain; Quran juga berisi ayat, petunjuk atau hukum-hukum (sains) yang menguasai alam semesta. Quran adalah kitab metafisika sekaligus fisika.
Kedua, tidak hanya teks kitab yang punya konten mendalam tentang sains, dalam praktiknya juga begitu. Hanya beberapa waktu setelah era Muhammad SAW, pengkajian sains dan inovasi melonjak pesat. Selain karena spirit “iqrak”, ini juga tidak terlepas dari kemampuan menggali kembali dokumen-dokumen sains dan filsafat Yunani; yang ditranslasi, diuji dan dikembangkan lebih jauh oleh para ilmuan muslim.
Bahkan, karena agama dan sains itu tunggal, islamic schoolars era awal itu rata-rata ahli keduanya. Selain jago ilmu-ilmu “dunia” (sains), juga memiliki karya-karya mendalam di bidang “ukhrawi” (spiritual). Sebut saja Jabir bin Hayyan (721-815 M), Al-Khawarizmi (780-850 M), Al-Farabi (872-951 M), Al-Zahrawi (936-1013), Ibnu Sina (980-1057 M), Ibnu Haytham (965-1040 M) dan mungkin ratusan world class schoolars lainnya sampai abad 15 menjelang kebangkitan Eropa.
Nama terakhir, Ibnu Haytham atau di barat populer sebagai Alhazen, sering kami sebutkan dalam beberapa artikel terakhir, karena “metode saintifik” (penulisan 5 bab dalam karya ilmiah moderen) merupakan warisan darinya, yang sebenarnya diadopsi dari metode metafisika Islam yang diperkenalkan para nabi disepanjang zaman.
BACA: “Syariat-Tarikat-Hakikat-Makrifat: Metode Ilmiah dalam Beragama”
Kita tidak akan membahas semua tokoh itu. Ambil satu sample saja. Ibnu Sina (Avicenna), bapak kedokteran moderen. Karyanya Qanun fi al-Tibb (Canon of Medicine) menjadi rujukan sains kedokteran selama 5 abad. Praktik-praktik pengobatannya menjadi inspirasi sampai sekarang. Sementara Asy-Syifa menjadi buku filsafat penting tentang ketuhanan, fisika, etika, matematika, dan logika.
Selain hafiz sejak usia 10 tahun ini, Avicenna juga ahli puisi. Pandangan ontologisnya tentang dunia ruhiyah (metafisik) juga dahsyat sekali. Ia memang seorang yang memiliki pengalaman-pengalaman spiritual kelas tinggi. Pandangan-pandangan mukasyafahnya diramu dalam resume yang sangat filosofis. Banyak karyanya dalam berbagai bidang ilmu. Total mencapai 250, dalam bentuk buku ataupun risalah. Karena keahliannya, ia digelar Al-Shaikh Al-Rais (The Leader Among Wisemen), Hujjat Al-Haqq (The Proof of God) dan Amir Al-Attibba’ (The Prince of Physicians). Gelar-gelar ini menunjukkan bahwa ia memang seorang ahli dunia (fisika) sekaligus akhirat (metafisika); ilmuwan sekaligus ulama.
Figur Ibnu Sina dan lainnya merupakan gambaran “kesatuan” agama dan sains dalam diri seseorang. Kalau merujuk ke era Islam klasik, ilmuan itu ibarat “ensiklopedia” yang “multi-perspektif”. Mereka menguasai metodologi ilmu-ilmu sosial dan fisika, sekaligus metafisika. Mereka menguasi dunia, sekaligus akhirat. Mereka memahami sains, sekaligus sangat mengenal/akrab dengan Tuhannya. Hal inilah yang terasa hilang dari bangunan pengetahuan kita hari ini. Mengapa?
Pemisahan Agama dan Sains
Hari ini, pengetahuan agama dan sains seperti terbelah. Sebuah universitas biasanya hanya terdiri dari fakultas ilmu-ilmu ‘dunia’ (ekonomi, kedokteran, teknik, hukum dan lainnya). Untuk urusan berbau agama dan ketuhanan, itu harus dicari di luar itu. Pemisahan ilmu ‘dunia’ dari ilmu akhirat terjadi bukan karena sebatas alasan “spesialisasi”. Tetapi lebih sebagai “sekularisasi”. Sains dan agama dipersepsikan sebagai dua ruang terpisah.
Cara pandang dikotomis antara agama (metafisika) dan sains (fisika) yang telah mengakar dalam sistem pendidikan kita. Kalau diselidiki, ini tidak terlepas dari pengaruh revolusi di Eropa yang terjadi sejak abad 14 sampai 17. Pada periode itu, Eropa mulai beralih dari abad pertengahan ke abad moderen. Mereka menyebut masa-masa ini sebagai “renaisance” (masa pembaharuan). Terjadi perubahan sosial besar pada fase ini. Masyarakat bergerak meninggalkan masa lalu yang gelap, yang mereka sebut sebagai Dark Ages (abad 5-15 M).
Masa lalu mereka adalah “agama”. Agama dianggap sebagai biang kemunduran. Gara-gara gereja, mereka selama 1000 tahun terjebak dalam doktrin-doktrin keimanan yang tidak mencerahkan. Agama menghalangi mereka berfikir dan menelaah alam secara kritis dan rasional. Agama melarang mereka menyimpulkan sesuatu yang bertentangan dengan dalil yang sudah ada. Dalil-dalil agama seperti tidak boleh diuji lagi. Nicolaus Copernicus misalnya, dihukum mati gegara menyebut matahari sebagai pusat tata surya. Akibatnya, Kristen ditinggalkan secara besar-besaran, dipisahkan dari semua bidang kehidupan dan pengetahuan.
Eropa akhirnya maju setelah meninggalkan agama yang mereka anggap tidak faktual. Sistem edukasi dan pengetahuan dirancang kembali. Selain mengutip kembali berbagai teks Yunani yang kaya sumber inspirasi, sejak abad 12 juga telah dimulai proses adopsi dan penerjemahan sains karya para filsuf dan ilmuan muslim. Semua itu di kemas dalam struktur pengetahuan baru yang sekuler: agama dipisahkan dari sains. Ini sesuatu yang selama 1000 tahun tidak terjadi dalam masa islamic golden ages (abad 6-15 M).
Ketika Eropa menjajah dunia Islam, sistem edukasi inilah yang diperkenalkan. Disamping mereka juga melemahkan institusi agama, karena menjadi pusat-pusat ideologi perlawanan. Sebagai gantinya, lahirlah sekolah dan universitas-universitas baru yang berfokus pada penggalian pengetahuan pada dimensi material saja. Lahirlah kebanggaan baru, bahwa ontologi fisik (materi) merupakan satu-satunya objek pengetahuan yang pantas diteliti. Selebihnya, apa yang disebut “metafisik” adalah dimensi tahayul dan khurafat; atau sesuatu yang tidak pantas diketahui dan hanya akan membuat kita ketinggalan zaman.
Berkembangnya filsafat materialisme sebagai buah dari renaisans juga memperkuat sekularisme dalam dunia pendidikan. Benih materialisme sudah ada sejak zaman Epikuros (341-270 SM) ataupun Demokritos (460-370 SM) di Yunani kuno. Di awal abad 18, mazhab atomic ini dipertajam kembali oleh La Mettrie dan Baron d’Holbach. Lalu dilanjutkan oleh para filsuf Jerman abad 19 seperti Feuerbach, Moleschott, Buchner, dan Haeckel; sampai bangunan ateisme menjadi kokoh.
Dalam era keterjajahan, mayoritas muslim memang tetap meyakini keberadaan agama dan dunia immaterial (Tuhan, malaikat, dan esensi ruhiyah lainnya). Hanya saja, epistemologi atau cara memperoleh pengetahuan tentang itu sudah dipisah dari kurikulum sekolah. Hal-hal metafisis dianggap bukan lagi sains yang dapat memajukan kehidupan. Percaya dan terlalu serius dengan hal-hal itu dianggap sesuatu yang tradisional, tidak relevan dengan kemajuan zaman. Kaum ruhaniawan diisolir dari kemoderenan. Dipaksa pindah ke gunung dan pinggir-pinggir hutan.
Karena itu, tarikat dan sufisme (studi terhadap hal-hal gaib/ontologi non-materi) dianggap biang kemunduran umat. Munculnya dinasti Saud bersama wahabismenya di abad 18, sampai lahirnya negara Saudi atas prakarsa Inggris pada awal abad 20 juga ditujukan untuk mengucilkan tradisi spiritual yang sangat esensial dalam Islam ini. Semua pusat inkubasi metafisis spiritual di kota Mekkah dihancurkan. Sejak saat itu, Islam mengalami masa kegelapan. Penjajahan tidak hanya membuat kita tertinggal secara sains, tapi juga spiritual.
Nabi dan Sufi, Kumpulan Researchers Wujud Tuhan
Saat Eropa hidup 1000 tahun dalam abad kegelapan (5-15 masehi), itulah abad kemunculan dan kegemilangan Islam dalam bidang metafisika yang dilanjutkan oleh sains sosial dan fisika. Munculnya Muhammad SAW pada abad ke 6 M memperkuat kembali tonggak pengetahuan metafisika yang pernah diperkenalkan para spiritual researchers (nabi-nabi) terdahulu, sejak Adam as sampai Isa as.
Muhammad termasuk manusia baru, yang hadir memperkenalkan diri sebagai utusan Tuhan. Dia mengaku telah berjumpa (wushul) dengan Tuhan. Dia mengaku dapat berkomunikasi dengan-Nya, juga dengan para malaikat-Nya. Apa tidak ngeri ngeri membuat pengakuan seperti itu. Padahal dia hanya manusia biasa seperti yang lainnya yang hidup di akhir zaman. Makanya, ia sampai dituduh gila dan dikucilkan. Tapi daya juangnya sangat kuat. Ia mampu meyakinkan banyak orang.
Bagi para sufi dan ilmuan metafisika, apa yang dialami Muhammad bin Abdullah itu bukan hal baru. Melainkan sesuatu yang pernah dialami para pendahulunya. Ada sekitar 124.000 orang (atau tercatat 25 orang dalam Quran) yang punya kemampuan metodologis serupa dengan Muhammad. Mereka semua adalah orang-orang yang sejak zaman kuno sampai akhir zaman, masih punya kecerdasan untuk “berjumpa” Tuhan.
Artinya, kemampuan mengobservasi (‘melihat’) Tuhan adalah pengalaman empiris yang sudah ada sejak era awal manusia. Itu sesuatu yang dapat direplika secara berulang-ulang, disetiap tempat dan zaman. Oleh berbagai suku dan bangsa. Artinya, ini memang sesuatu yang ilmiah. Buktinya, para nabi melakoni prosedur dalam langkah-langkah yang teratur dan sistematis, sangat metodologis (i.e., berkhalwat dsb), sehingga bisa beririsan dengan berbagai wujud ontologi pada dimensi ketuhanan.
Kesimpulannya, dunia metafisika kenabian adalah sesuatu yang ilmiah, bisa diriset berulang-ulang. Hanya saja perlu ditelusuri, metodologi apa yang digunakan untuk mengakses alam immaterial. Dalam Islam diyakini, Muhammad SAW telah mewarisi metode “rahasia” itu kepada sejumlah penerus sanad keilmuan.
Empat Hirarki Ontologi
Nabi Muhammad SAW tidak berfokus pada pengembangan sains dalam 63 perjalanan hidup, atau 23 tahun kenabian. Ia tidak memposisikan diri sebagai saintis murni. Dalam artian, Beliau tidak membuat temuan-temuan bersifat teknologikal kepada masyarakatnya. Namun, “karya” yang Beliau bawa (Quran), menjadi rujukan para saintis di sepanjang zaman. Agak aneh. Dia bukan saintis. Tapi punya ‘karya’ yang menjadi rujukan para saintis sesudahnya. Kenapa bisa demikian?
Karena, Muhammad sudah bermain pada ontologi tertinggi yang melampaui alam fisika. Ketika seseorang telah mampu mencapai dimensi metafisika, dimensi fisika menjadi terbuka. Semua pengetahuan alam (fisika) yang ada dalam Quran, diperoleh ketika Beliau telah mencapai kedudukan sebagai ahli metafisika. Artinya, metafisika memiliki hirarki lebih tinggi dalam ontologi wujud. Kalau digambarkan, yang tertinggi adalah ontologi metafisika, kemudian ontologi filosofis, dan kemudian baru ontologi fisika:
Ontologi Metafisika (Tuhan/Ruh) –> Ontologi Filosofis (Ide/Konsep/Abstraksi Mental) –> Ontologi Fisika (Alam Materi)
Pertama, ontologi metafisika (Tuhan/Ruh). Tuhan merupakan ontologi tertinggi, Causa Prima, Penggerak Awal, Realitas Absolut, penyebab segala sesuatu terjadi di bawahnya. Karena itulah, para nabi memilih bermain para wilayah tertinggi ini. Mereka menjadi ahli di bidang yang meliputi semua wujud. Orang-orang ini digambarkan berada di puncak pohon sidrah al-muntaha, yang menguasai semua elemen pengetahuan di bawahnya. Karena itu pula, Nabi hadir untuk melatih manusia pada kecerdasan metafisis ini, agar kita semua bisa dekat dengan Allah SWT.
Karena kemunculan nabi dan orang-orang sejenisnya (para wali), Tuhan dapat dikonfirmasi keberadaannya dan masih bisa diajak bicara. Sehingga agama kembali menjadi relevan, dan manusia menemukan hakikat tujuan hidupnya. Nabi menguasai metodologi untuk berinteraksi dengan Allah. Ilmu untuk “mengobservasi” Allah dipercaya telah ia wariskan secara khusus kepada sejumlah ahli ilmunya di berbagai tariqah.
Para ilmuan muslim dimasa kegemilangan Islam (abad 8-14 M), kalau kita baca karya-karya spiritualnya, terasa sekali bahwa mereka memang orang-orang yang mewarisi metode ini dari nabi. Kalau ditelusuri, selain berprofesi sebagai saintis dan fuqaha, kebanyakan mereka juga penempuh jalan spiritual/tarikat tertentu. Makanya, karya-karya sufistiknya agung sekali. Bahkan menjadi mata air pengetahuan yang tidak habis-habisnya untuk dikaji sampai sekarang. Sebutlah diantaranya Al-Ghazali (1058-1111 M), Ibnu Arabi (1165-1240 M), Jalaluddin Rumi (1207-1273 M) dan Mulla Shadra (1572-1640 M).
Kedua, ontologi rasio (intelek/abstraksi ide). Adalah alam ide, konsep atau filosofi. Dia eksis di alam mental setiap manusia. Manusia adalah makhluk berakal. Kemampuan berfikir logis adalah bawaan lahir kita. Salah satunya matematik. Misalnya, 1 dibagi 99 hasilnya 0,01 (angka 0,01 itu hanya ada dan benar dalam teori, tidak bisa dibuktikan dalam realitas fisik. Tidak mungkin kita mendapati sebuah mangga yang berjumlah 0,01). Oleh sebab itu, ilmu seperti matematik menjadi filsafat penting (“ibu dari ilmu”). Konsep-konsepnya yang logis membantu kita memahami/mengukur realitas lainnya termasuk realitas fisik dan optik.
Selain matematik, akal adalah ontologi yang juga punya karakter logis dalam menalar sesuatu dalam realitas konseptual. Baik Tuhan maupun fenomena wujud fisik di alam dapat dipahami dengan adanya elemen rasio. Karenanya, ontologi ini menjadi perangkat penting yang integral dalam diri seseorang. Sebab itu menjadi sesuatu yang membuat manusia menjadi manusia (mampu berfikir). Untuk itu, kami menempatkan ontologi ini pada posisi kedua setelah metafisik.
Ketiga, ontologi fisik (materi). Adalah realitas materi (atom) yang ada di tengah alam dan masyarakat (sosial). Semua unsur materi bisa diketahui, diukur, diuji, diobservasi, dideteksi, diakses, atau dipahami melalui metode riset tertentu. Tentu dengan menggunakan perangkat-perangkat inderawi. Jadi, sebuah fenomena di alam, bisa diakses melalui fakultas indera, lalu dianalisis melalui perangkat filosofis (reasoning/akal). Barulah kemudian sebuah realitas dapat diketahui/pahami.
Karena objek fisik adalah bahan amatan manusia, sekaligus asal muasalnya dari sesuatu yang immateri, maka ia menjadi realitas paling rendah dalam ontologi wujud. Namun demikian, ia juga sangat penting untuk dikuasai. Sebab, banyak bagian keduniaan/peradaban manusia (i.e., teknologi) lahir dari pengamatan dan percobaan pada berbagai wujud alam fisika. Tapi, untuk sampai ke Tuhan (untuk pulang ke rumah kita yang asli), tetap harus menguasai teknologi metafisika. Semua unsur atom akan tertinggal di bumi. Hanya Ruh yang akan kembali. Inilah juga peran nabi dan para wali, memastikan kita punya metodologi untuk “kembali”.
Empat, ontologi teks. Adalah realitas teks. Dalam pengetahuan, ini hanya berfungsi sebagai informasi. Quran misalnya, itu teks (kitabi, kumpulan teori/argumentasi). Nilainya tentu sangat suci, karena berasal dari Ilahi. Teks tidak membuktikan apapun selain hanya sebagai berita. Makanya para nabi disebut sebagai “penyampai berita”. Untuk dapat dibuktikan kebenaran teks secara aktual, maka dibutuhkan alat lain seperti akal, indera dan ruh. Sehingga teks dapat dikonfirmasi lagi kebenaran (atau mungkin juga kepalsuannya). Allah misalnya, itu dalam Qur’an diinformasikan bahwa Dia benar ada. Maka akal bisa bekerja untuk membuktikan bahwa dia secara rasional ada. Ruh juga begitu, bisa bekerja secara iluminatif melalui proses mikraj ruhani untuk bisa bertemu dengan sosok yang tertulis dalam teks. Sehingga Allah itu dapat dikonfirmasi keberadaan realitasnya secara Dzati. Sedangkan secara inderawi, usaha mengobservasi realitas Tuhan bisa saja dilakukan. Tapi tidak akan sampai ke realitas hakiki, karena wujud dan level kekasatan ontologinya beda. Indera hanya mampu menangkap gejala atau “tanda-tanda” keberadaan-Nya saja.
Menghidupkan Kembali Spiritual Science (Riset Metafisika)
Seribu tahun setelah masa kegelapan (abad 5-15 M), serta tertipu oleh ajaran agama yang tidak lagi ilmiah, bangsa Eropa akhirnya memutuskan untuk melakukan migrasi besar-besaran ke mazhab sekuler (ateis).
Bagaimana dengan dunia muslim, sudah berapa lama pintu ijtihad di tutup, serta akses untuk menjangkau Tuhan dilarang? Tinggal hitung, kalau sudah sampai 1000 tahun, khawatir kita umat Islam akan melakukan hal serupa. Pemberontakan pasti akan terjadi. Sebutlah pintu ijtihad sudah ditutup sejak pertengahan abad 9. Sekarang sudah abad 20. Artinya, sudah 1000 tahun. Kalau kita lihat, gejala dan gelombang ateisme dan sekularisme di tengah kita sebenarnya sudah cukup kuat. Mungkin masih-malu-malu saja mengakuinya.
Mungkin ijtihad untuk bidang hukum agama (syariat) sudah memadai. Dalilnya sudah melimpah. Tapi, pengalaman sufistik untuk merasakan kehadiran Allah adalah sesuatu yang penting. Agama itu pengalaman (experiencing sector). Apa yang dialami Nabi secara spiritual, idealnya juga dialami umatnya. Kalau nabi dan para walinya bisa mengobservasi dan merasakan kedekatan dengan wujud Tuhannya, maka kita juga harus bisa. Jika tidak, agama tidak lagi ilmiah. Agama telah berubah menjadi mitos. Sesuatu yang tidak bisa diulangi dan replika, itu tidak ilmiah. Agama adalah sesuatu yang seharusnya universal, pengalaman spiritual yang bisa dialami dan ulangi di setiap zaman dan tempat. Jika perjumpaan dengan Allah merupakan sesuatu yang sering terjadi di masa lalu, dimasa kini harusnya juga bisa, jika metodologinya serupa.
Disinilah letak challenge. Ateis atau tidak seseorang, mampu atau tidak ia mengakses Tuhan yang metafisis, itu tergantung pada penguasaan metodologi. Yang jelas, metodologi riset alam fisika tidak bisa dibawa ke ranah metafisik. Sebab, wujud ontologi yang coba diserap jauh berbeda. Mata inderawi juga tidak memungkinkan menangkap Wajah-Nya. Sebab, dia tidak ada dalam dimensi ruang dan waktu sebagaimana objek-objek fisika. Maka dibutuhkan bantuan “mata mikroskopis” lainnya (Ruh) untuk menjangkau Dia. Ruh merupakan elemen iluminatif yang punya potensi untuk mampu mengobservasi dan merasakan kehadiran Dzat Allah. Metode perjalanan Ruh inilah yang perlu didalami kembali lewat para guru yang masih menyimpan metodologi sains spiritual ini. Langka orangnya. Tapi ada.
Allah itu “gaib”. Iya, itu perspektif fisika. Apa maksud “gaib”, atau kenapa disebut “gaib”? “Gaib” adalah ontologi metafisis. Gaib adalah sesuatu yang tidak dapat diakses oleh mata fisis (inderawi). Tapi dapat diakses oleh mata atau bentuk-bentuk kesadaran yang lebih tinggi. Bagi nabi, Tuhan tidak gaib. Sudah pernah dijumpainya. Jadi, gaib bukanlah sesuatu yang total tidak dapat ditemui atau jumpai. Melainkan sesuatu yang butuh usaha atau metodologi khusus untuk mendekatinya. Segala sesuatu memang “gaib”, sebelum diriset. Setelah diriset, ditemukan jawaban dan wujudnya, tentu tidak gaib lagi. Agama “gaib” adalah agama untuk orang awam. Untuk orang cerdas dan dewasa, yang telah melakukan pencarian, seharusnya tidak gaib lagi.
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.
#powered by SUFIMUDA
___________________
FOLLOW US:
SAID MUNIRUDDIN | The Suficademic
Web: saidmuniruddin.com
YouTube: youtube.com/c/SaidMuniruddin
TikTok: tiktok.com/@saidmuniruddin
IG: instagram.com/saidmuniruddin/
Facebook: facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter: twitter.com/saidmuniruddin
Join Grup WA: The Suficademic-1
Join Grup WA: The Suficademic-2


Been using Tenobet since roughly February, and I reckon I have a fair bit of experience to actually comment. Came across it via someone on another board who wanted a site with half-decent game coverage without all the deposit limit nagging you run into now on the UKGC sites. Right, important bit: it’s not UKGC licensed and it’s not on the GamStop scheme, and that cuts both ways.
Game selection’s honestly massive — roughly 3,000+ titles last I looked, and the providers that matter are present: Pragmatic, Net Ent, Play n GO, BTG, Yggdrasil, Microgaming. Personally I rinse Sweet Bonanza and Sweet Bonanza, which both behave properly on mobile browser. The live rooms are all Evolution, so you know exactly what you expect — proper croupiers, the game shows like Crazy Time if that’s your thing. They do sports as well, which I’ve dabbled in for footy, it’s fine, nothing more.
On the sign-up offer it’s 100% up to ?125 and 100 spins thrown in, and you need the code JOIN002 — I nearly forgot it the first time. Check the playthrough before you commit, it’s not amazing but not predatory either. There’s no no-deposit bonus that I could find. If you want to see the live offers, they’re listed at [url=https://solvecovid19.net]tenobet review[/url] before you sign up. Min deposit’s a tenner, signing up took maybe two minutes.
Cashouts have been the stronger part for me. Visa and Mastercard work, Skrill and Neteller are there, Bitcoin and a few other coins if you prefer. Skrill withdrawals have landed within a day; Visa took a bit longer. The one thing that annoyed me was KYC — they took a day and a half to clear my documents, which held up the first payout just sat there until that cleared. Not a scam, just slower than I’d like.
Few more things: no native app, which means the mobile site. Works fine on Android but I’d prefer a proper app. Logging in sometimes gets fiddly at peak times. Support’s live chat, English, decent, though the opening messages are copy-paste. Push past that and someone competent turns up.
It is recommended to take 2 capsules of Adenofrin daily, preferably during
the main meals, such as breakfast and dinner.
First of all I want to say superb blog! I had a quick question that I’d like to ask if you
do not mind. I was curious to find out how you center yourself and clear your mind
prior to writing. I’ve had a difficult time clearing my mind in getting my thoughts out.
I do take pleasure in writing but it just seems
like the first 10 to 15 minutes are usually wasted simply just
trying to figure out how to begin. Any suggestions or
tips? Thanks!
Been playing on Craybet for like two months now and thought I’d throw out what I think because there’s not a ton of talk about them on here. Signed up on a whim and the whole process was like two minutes. Minimum deposit is $10 and that’s normal for US-facing sites. Got a sign-up bonus — 100 percent match to $500 and 50 free spins on Sweet Bonanza. Playthrough requirements were 35 times the bonus which isn’t amazing but it’s manageable.
The game library is bigger than I expected. You’ll find titles from Pragmatic Play, Evolution, and Play’n GO — so like Book of Dead, Gonzo’s Quest, the usual heavy hitters. Probably close to 2000 games including table games. Live dealer stuff uses Evolution and it’s legit — tried baccarat and Crazy Time with real dealers and had no complaints.
Now the one thing that annoyed me a little was withdrawal times. Tried cashing out with Skrill and it took like a day and a half for my first withdrawal. After that though it was faster. You can use credit cards, e-wallets like Skrill and Neteller, and BTC which is pretty much everything you’d want. I’d check out their current offers on [url=https://svnewtech.com]Craybet payout[/url] to see for yourself.
Mobile experience on Craybet from my iPhone worked better than expected. There’s no app to download — the browser version loads fast and everything works without issues. Played a few sessions on my commute and had zero performance issues.
Support at Craybet has been okay — live chat that actually connects pretty quick when I’ve used it. I contacted them about a pending withdrawal and they sorted it within hours. I think they’re Curacao licensed which is what most platforms like this. Not everything is amazing — wish they had more payment options — but as a daily player I’m still using it.
I’ve been playing on Craybet for roughly two months now and figured I’d share what I think since I haven’t seen much discussion about them around here. Signed up randomly one night and signing up literally took a couple minutes. Starting deposit was $10 and that’s normal for US-facing sites. I grabbed a welcome bonus — matched my first deposit 100% up to 500 and fifty free spins on Gates of Olympus. Wagering was 35x which is kinda average but I’ve dealt with worse.
Their slots catalog is honestly pretty solid. They’ve got stuff from Pragmatic Play, NetEnt, and Big Time Gaming — meaning Book of Dead, Starburst, all the popular ones. Probably close to 2000 games total if you count everything. Live dealer stuff runs on Evolution and it’s smooth — tried blackjack and Crazy Time with actual croupiers and zero lag issues.
One thing that kinda bugged me was withdrawal times. I used Skrill and it took like a day and a half for my first withdrawal. After that though it dropped to like 24 hours. You can use credit cards, Skrill, Neteller, Bitcoin which covers most bases. I’d look at what they’ve got going on on [url=https://svnewtech.com]Craybet review[/url] before you sign up.
Mobile experience on Craybet on my phone is actually smooth. I didn’t find a native app but the mobile site loads fast and everything works no problem. I played some slots on my commute and no performance issues.
Customer service on Craybet has been alright — there’s a chat widget and someone actually responds within a few minutes when I’ve used it. Reached out once about my verification docs and they sorted it pretty quickly. I think they’re operating under a Curacao license which is what most offshore casinos. It’s not flawless — promo codes seem rare — but for what it is I’m still using it.
I’ve been playing on Craybet for like a couple months and figured I’d share what I think since there isn’t a ton of talk about them on here. Registered after seeing an ad and the whole process was like a couple minutes. Minimum deposit is ten bucks which is normal for US-facing sites. Got a sign-up bonus — matched my first deposit 100% up to 500 plus 50 free spins on Sweet Bonanza. Playthrough requirements were 35x which is kinda average but not the worst I’ve seen.
Game selection is honestly pretty solid. You’ll find titles from Pragmatic Play, Evolution, and Microgaming — so like Book of Dead, Gonzo’s Quest, the usual heavy hitters. Probably close to a couple thousand titles total if you count everything. Live dealer stuff runs on Evolution which is smooth — played some blackjack and Crazy Time with actual croupiers and had no complaints.
Tbh the thing I wasn’t thrilled about was how long cashouts take. I used Visa and it took about 48 hours the first time. Once you’re verified though it was faster. Payment options include credit cards, e-wallets like Skrill and Neteller, and BTC which is pretty much everything you’d want. You can check out their current offers on [url=https://svnewtech.com]Craybet before you sign up.
Mobile experience on Craybet on my phone worked better than expected. I didn’t find a native app but the web app is responsive and all the games load fine. Was playing a few sessions on my commute and no performance issues.
Support at Craybet is alright — they have live chat that actually connects pretty quick usually. Reached out once about a pending withdrawal and they sorted it pretty quickly. I think they’re operating under a Curacao license and that’s what most offshore casinos. Wouldn’t say it’s perfect — promo codes seem rare — but overall I keep coming back.
Been using Craybet for roughly two months now and thought I’d throw out what I think since there isn’t much discussion about this place on here. I signed up after seeing an ad and registration took maybe 90 seconds. Minimum deposit is ten bucks which is about what you’d expect. I grabbed a sign-up bonus — 100% up to $500 plus fifty free spins on Sweet Bonanza. Rollover is 35x which isn’t amazing but it’s manageable.
Their slots catalog is honestly pretty solid. There’s titles from Pragmatic Play, NetEnt, plus Play’n GO — so like Gates of Olympus, Gonzo’s Quest, the usual heavy hitters. I’d guess maybe 2000 games total if you count everything. Live dealer stuff runs on Evolution which is smooth — tried baccarat and Crazy Time with actual croupiers and had no complaints.
One thing that annoyed me a little was how long cashouts take. Tried cashing out with Visa and waited almost two days the first time. Second time around it was faster. You can use Visa, Mastercard, Skrill, Neteller, and BTC which is most bases. You can check out the full bonus details on [url=https://svnewtech.com]Craybet deposit methods[/url] if you’re interested.
Using Craybet on my phone worked better than expected. No dedicated app but the mobile site is responsive and all the games load without issues. Was playing some slots on the bus and had zero lag or glitches.
Customer service on Craybet is alright — they have live chat and someone actually responds in under five minutes usually. Had to ask about a pending withdrawal and got it fixed within hours. Not sure about operating under a Curacao license which is standard for US-friendly sites. It’s not flawless — promo codes seem rare — but overall I keep coming back.
Been playing on Craybet for roughly two months now and figured I’d share some thoughts since there isn’t much discussion about them in this forum. I signed up on a whim and signing up was like 90 seconds. Min deposit was $10 which is pretty standard. They threw in a welcome bonus — matched my first deposit 100% up to 500 plus fifty free spins on Gates of Olympus. Playthrough requirements were 35x and that is kinda average but not the worst I’ve seen.
Their slots catalog is decent honestly. There’s stuff from Pragmatic Play, NetEnt, plus Play’n GO — so like Book of Dead, Starburst, all the popular ones. I’d guess maybe 2000 games including table games. Live dealer stuff uses Evolution and it’s quality — played some blackjack and Crazy Time with real dealers and it worked great.
Now the one thing that kinda bugged me was how long cashouts take. Tried cashing out with Visa and it took like a day and a half the first time. Second time around it was faster. Payment options include credit cards, Skrill, Neteller, and BTC which is most bases. You can check out the full bonus details at CrayBet to see for yourself.
Using Craybet on my phone worked better than expected. There’s no app to download but the browser version loads fast and everything works without issues. Played a few sessions on the bus and no lag or glitches.
Customer service on Craybet has been decent — there’s a chat widget that gets you a person in under five minutes usually. I contacted them about a bonus that didn’t credit and it was resolved within hours. Licensing is Curacao licensed which is what most platforms like this. Not everything is amazing — the bonus wagering could be lower — but for what it is it does the job for me.
Been playing on Craybet for roughly six weeks or so and thought I’d throw out what I think since I haven’t seen a ton of talk about them on here. Signed up on a whim and the whole process was like 90 seconds. Starting deposit was $10 which is about what you’d expect. Got a welcome bonus — 100% up to $500 plus 50 free spins on Sweet Bonanza. Wagering was 35 times the bonus which is kinda average but I’ve dealt with worse.
The game library is bigger than I expected. There’s games from Pragmatic Play, Evolution, plus Microgaming — meaning Gates of Olympus, Starburst, the usual heavy hitters. Probably close to 2000 games including table games. The live dealer section uses Evolution and it’s legit — tried baccarat and Crazy Time with actual croupiers and it worked great.
Tbh the thing that annoyed me a little was payout speed. Tried cashing out with Bitcoin and waited about 48 hours the first time. After that though it dropped to like 24 hours. Payment options include credit cards, Skrill, Neteller, Bitcoin so that covers most bases. You can check out what they’ve got going on on [url=https://svnewtech.com]Craybet registration[/url] before you sign up.
Using Craybet from my iPhone is actually smooth. No dedicated app — the browser version loads fast and all the games load fine. Played a few sessions on my commute and had zero lag or glitches.
Customer service on Craybet has been decent — there’s a chat widget and someone actually responds pretty quick when I’ve used it. I contacted them about my verification docs and it was resolved within hours. Not sure about operating under a Curacao license and that’s what most platforms like this. It’s not flawless — promo codes seem rare — but as a daily player I keep coming back.
Hi, Neat post. There is a problem together with your
web site in internet explorer, would check this? IE still
is the market leader and a large part of people will pass over your great writing because of this problem.
Excellent blog! Do you have any recommendations for aspiring writers?
I’m hoping to start my own website soon but I’m a little lost on everything.
Would you advise starting with a free platform like WordPress or go for
a paid option? There are so many choices out there that I’m
totally confused .. Any tips? Thanks!
Howdy! I could have sworn I’ve been to this website before but after browsing through some of the post
I realized it’s new to me. Anyways, I’m definitely delighted I found it and I’ll be book-marking and checking back frequently!